Pidato Jokowi di G-20 versus Panasnya Rivalitas

 

Anies Baswedan

Pidato Presiden Jokowi di Meeting G-20, Kamis, 17 Februari 2022, cocok di internasional dan Indonesia. Intinya, kurangi rivalitas. Jangan bikin ketegangan baru. Internasional: Ancaman perang Rusia-Ukraina. Indonesia: Rivalitas Pilpres.

Walaupun, pidato Presiden Jokowi hanya untuk Opening 1st Finance Meeting and Central Governor Meeting G-20. Sama sekali, bukan ditujukan untuk situasi di Indonesia.

Tapi, pidato itu kedengaran (tepatnya, bisa ditafsirkan) 'ngefek' dengan situasi dalam negeri Indonesia, sekarang. Rivalitas Pilpres 2024 mulai marak.

Pidato Presiden Jokowi di Meeting G-20, Kamis, 17 Februari 2022, antara lain, begini:

"Kebangkitan satu kawasan akan membangkitkan kawasan yang lainnya. Sebaliknya, keruntuhan satu kawasan akan ikut meruntuhkan kawasan yang lainnya. Dalam situasi yang seperti ini, bukan saatnya untuk rivalitas. Bukan saatnya untuk membuat ketegangan baru yang mengganggu pemulihan dunia, apalagi yang membahayakan keselamatan dunia, sebagaimana yang terjadi di Ukraina saat ini. Saat ini, semua pihak harus menghentikan rivalitas dan ketegangan."

Stop. Cukup. Dikutip segitu saja. Bentuk imbauan perdamaian yang pas, dengan situasi dunia. Yang lesu, dirundung pandemi Omicron.

Sementara itu, ketegangan warga Desa Wadas, Jawa Tengah, merepotkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Padahal, warga menghebohkan bahwa Ganjar bakal maju Capres di Pilpres 2024.

Terkait Pilpres 2024, Ganjar sudah punya jutaan pendukung. Mungkin puluhan juta. Tapi tidak sampai ratusan juta. Karena penduduk Indonesia cuma 271 juta.

Gegara Wadas, pendukung Ganjar 'gibras-gibras'. Memberang. Meradang. Seolah ketegangan Wadas hasil rekayasa. Demi melemahkan elektabilitas Ganjar.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai, elektabilitas Ganjar dapat terganjal selama beberapa bulan. Karena Wadas.

Ray, dalam diskusi, Jumat, 11 Februari 2022 menyatakan, peristiwa Wadas telah mencoreng citra Ganjar. Yang selama ini dikenal dekat dengan rakyat. 

Ray: "Saya merasa bahwa peristiwa Wadas itu setidaknya, kalau tidak membuat elektabilitas Pak Ganjar menurun, ya... berimplikasi pada tertahannya elektabilitas yang bersangkutan." 

Dilanjut: "Tiba-tiba Pak Ganjar menjadi elitis sedemikian rupa. Sehingga ikon calon pemimpin merakyat itu, menurut saya, akan sulit kembali menaikkan pamor Pak Ganjar di masa mendatang."

Nah. Pernyataan pihak lembaga survei pun, sudah berbentuk 'kompor'. Mengompori opini publik. Menggoreng elektabilitas. Memanasi rivalitas.

Sedangkan, berbagai lembaga survei sudah sibuk mengumumkan elektabilitas Capres 2024. Bagai marketer menawarkan jasa survei. Teori marketing: Memanaskan pasar, pun berlaku di situ.

Elektabilitas Ganjar, menurut beberapa lembaga survei, memang moncer. Luar biasa. Salip-menyalip dengan Prabowo Subianto. Ada pula Anies Baswedan. Mereka tiga besar, kini.

Anies Baswedan juga terganggu, elektabilitasnya. Sangat terganggu.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta mengabulkan sebagian gugatan warga korban banjir Kali Mampang, Jakarta Selatan, Selasa, 15 Februari 2022.

Putusan perkara PTUN nomor 205/G/TF/2021/PTUN.JKT, diunggah Selasa, 15 Februari 2022.

Tim Advokasi Solidaritas untuk korban banjir, selaku kuasa hukum penggugat, Francine Widjojo, mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terbukti tidak tuntas mengeruk Kali Mampang sampai ke wilayah Pondok Jaya.

Anies juga divonis, terbukti tidak membangun turap di Kelurahan Pela Mampang. Mengakibatkan kerugian warga dalam banjir besar tanggal 19-21 Februari 2021 yang melanda Jakarta.

Di wilayah itu, waktu itu, banjir sedalam dua meter. Asli, tenggelam.

Francine Widjojo, di keterangan tertulis kepada pers, Kamis, 17 Februari 2022, menyatakan:

"Putusan ini membuktikan, bahwa Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tidak serius menangani banjir. Ke depan, Pemprov DKI Jakarta harus lebih serius menangani masalah banjir di DKI Jakarta. Dan melakukan normalisasi sungai yang merupakan program prioritas nasional dan program prioritas daerah sesuai RPJMN tahun 2015-2019 dan tahun 2020-2024 serta RPJMD DKI Jakarta tahun 2017-2022."

Itu banjir Jakarta tahun lalu. Sedangkan, di saat putusan PTUN dipublikasi, Kamis 17 Februari 2022, berbagai media massa di Jakarta memberitakan: 28 RT di Jakarta terendam banjir. Ada yang 20 cm, ada yang semeter, ada yang 1,5 meter.

Putusan PTUN bukan 'kompor'. Meskipun bisa dijadikan 'kompor' juga. Bagi pendukung bakal Capres 2024. Dan, pendukung memang selalu mencari bahan pembuat 'kompor'.

Seolah jadi semacam penyeimbang, ada baliho Capres.

"Anies Baswedan for President 2024", adalah tulisan raksasa di baliho. Mejeng di simpang Jalan Chairil Anwar dan Jalan HM Joyomartono, Bekasi. Dekat Gerbang Tol Bekasi Timur, Kota Bekasi. Di jalan yang selalu macet.

Pendukung Anies pastilah tidak peduli. Apa pun yang terjadi. Yang penting: Anies for President 2024. Gak mau tahu.

Sebaliknya, pendukung 'bukan Anies' bisa saja bicara: "Gak ngurusi banjir Jakarta, kok pengen jadi presiden?". Bisa saja begitu. Atau, pastilah begitu.

Rivalitas di Indonesia sudah marak. Kecuali Prabowo Subianto. Tenang-tenang saja. Padahal, elektabilitasnya paling tinggi dari semua yang dijagokan masyarakat. Maka, tenang.

Presiden Jokowi, di pidatonya di G-20 luar biasa bagus. Menyejukkan dunia. Simak lagi, bagian yang ini:

"Kebangkitan satu kawasan akan membangkitkan kawasan yang lainnya. Sebaliknya, keruntuhan satu kawasan akan ikut meruntuhkan kawasan yang lainnya."

Seirama dengan pepatah Jawa: "Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah".

Pepatah yang indah. Menenteramkan hati. Dibawa Jokowi ke forum internasional. Kalau itu ditafsirkan 'ngefek' ke rivalitas di Indonesia, ya boleh saja. Namanya juga tafsir.

Asalkan, jangan ada yang mengatakan (dalam hati): 

"Ya.... Presiden Jokowi tidak ikut rivalitas Capres 2024, karena sudah dua periode. Enteng saja, beliau bilang begitu. Coba, di Pilpres 2019?". 

Jangan ada yang bilang begitu. Sungguh. Sebab, Jokowi asli menghendaki perdamaian dunia. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.