Teori Bunuh Pasangan Intim

 

Bunuh psangan

Suami membunuh isteri, cepat terungkap. Erik (29) membunuh Wiwin (31) di Semarang, Jateng, 18 Maret 2021. Diungkap empat jam. Ali (39) ke Lestari (30) di Malang, Jatim, 3 Juni 2021. Diungkap 24 jam. HH ke NZ di Aceh, 14 Desember 2021. Diungkap 24 jam.

Karena, polisi sudah punya teori dasar kriminologi, bahwa perempuan yang dibunuh dengan cara kejam, umumnya dilakukan orang terdekat: Suami atau mantan suami. Pacar atau mantan.

Bagi masyarakat, teori ini sangat berguna sebagai pengetahuan. Agar lolos (bagi korban) atau membatalkan (bagi pelaku) dari pembunuhan.

Kasus Erik membunuh Wiwin. Paling unik. Mereka sudah bercerai, dengan seorang anak.

Kamis, 18 Maret 2021 pagi, Erik mendatangi Wiwin di rumah ortu. Erik niat mengajak rujuk. Masuk kamar, ngobrol.

Ternyata, Erik tertarik pada gelang emas Wiwin. Diminta. Tak diberikan. Erik minta dibelikan gelang seperti itu. 

Wakapolrestabes Semarang, AKBP Iga Dwi Nugraha kepada wartawan, Jumat (19/3/2021) mengatakan:

"Korban menolak. Mengatakan, kita sudah bukan suami istri lagi. Tapi, korban menjanjikan membelikan gelang tersangka, cuma tidak bisa sama persis. Tersangka pun marah."

Erik memukul kepala Wiwin berkali-kali. Lantas, mencekiknya sampai mati.

Erik meninggalkan kamar dengan mencuri gelang Wiwin, juga ponsel. Membawa keluar anaknya. 

Gelang dijual laku sejuta. Ponsel diberikan ke anak. Mereka kabur naik bus menuju Kudus.

Lewat tengah hari, ibunda Wiwin mendapati Wiwin meninggal. Lapor polisi. Dan, sekitar pukul 16.00 Erik ditangkap polisi di Demak, naik bus bersama anaknya.

Kasus di Malang, Ali membunuh Lestari, 3 Juni 2021. Mereka baru sehari diputus cerai di Pengadilan Agama.

Ali menjemput Lestari mengajaknya jalan-jalan. Berakhir di rumah kosong milik kerabat Ali di Gondanglegi, Malang. Ali mengatakan ke Lestari, mengajak ngobrol.

Di rumah kosong itu, Ali mengungkit perselingkuhan Lestari. Kembali, Lestari membantah. Mereka cekcok. Ali mencengkeram Lestari, membentur-benturkan kepala ke tembok. Diakhiri cekikan, mati.

Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar kepada wartawan, Jumat (4/6/21) mengatakan: "Pelaku kami tangkap belum sampai 24 jam."

Terbaru, HH membunuh mantan isteri NZ, Kamis 18 November 2021. Gegara, HH baru saja menjual rumah mereka, laku Rp150 juta. 

NZ datang, minta bagian Rp50 juta. Ditolak HH. Cekcok hebat. HH membenturkan kepala NZ ke tembok. Sampai mati. Mayat NZ dikubur di kamar mandi rumah. 

Senin (6/12/21) kuburan NZ dibongkar HH. Karena ia merasa takut, ada kuburan di situ. Jenazah yang membusuk dibungkus jas hujan. Disimpan di kolong tempat tidur.

Sabtu (11/12/21) HH mengambil lagi jenazah yang membusuk itu. Dibuang ke daerah Peukan Bada, Banda Aceh. Mayat ditemukan warga pada Selasa (14/12/21). Esoknya, HH ditangkap polisi.

Dari sisi problem, sangat sederhana. Bahkan, Erik cuma namanya saja yang keren. Karakternya sepele sekali. 

Mengapa polisi begitu cepat mengungkap pembunuhan suami-isteri?

Dikutip dari laman The Department of Criminal Justice, New York, Amerika, Prof Joseph Giacalone, kriminolog di Departemen Hukum & Ilmu Kepolisian di John Jay College of Criminal Justice, mengatakan:

“Kebanyakan, wanita menjadi korban pembunuhan oleh seseorang yang mereka kenal dekat. Mayoritas suami atau mantan suami, pacar atau mantan." 

Lebih detil diungkap Prof Park Elliot Dietz (73), psikiater forensik paling terkenal di Amerika. Ia sering jadi saksi ahli dalam persidangan pembunuhan di sana. 

Prof Dietz terkenal, pada tahun 1982. Ia selama lima hari sebagai saksi ahli dalam persidangan John Hinckley Jr., yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden AS, Ronald Reagan, 30 Maret 1981. 

Prof Dietz merumuskan empat motif umum di balik pembunuhan pasangan intim. Berlaku untuk suami-steri, mantan suami-isteri, atau pacar dan mantan pacar.

1) Kemarahan. Peristiwa pembunuhan dimulai dengan kemarahan. Baik kemarahan pelaku atau korban. Kemudian terjadi perkelahian. Pembunuhan.

Yang menarik, pelaku dipastikan punya riwayat kekerasan terhadap korban, di masa sebelum terjadi pembunuhan. "Beberapa dari pelaku adalah psikopat yang lengkap, kata Prof Dietz.

2) Takut Kehilangan. Pelaku terlalu takut kehilangan korban, yang selama ini jadi pasangannya. 

Ini biasanya terjadi setelah korban (perempuan) mengancam bercerai, atau berusaha pergi. Ini sangat berbahaya bagi perempuan yang punya pasangan mengendalikan, atau berperilaku kasar. Disebut tipe borderline.

3) Cemburu. Baik terbukti, atau hanya dugaan. Pria bisa membunuh pasangannya.

Motif cemburu, atau disebut posesif seksual terhadap pasangan, adalah motif yang mendasari banyak pembunuhan pasangan intim.

4) Mati Bersama. Ini mirip dengan nomor dua, pelaku takut kehilangan pasangannya, tapi juga sangat benci. 

Sehingga, setelah membunuh perempuan pasangannya, ia sekaligus bunuhdiri.

Prof Dietz menyatakan, di luar empat motif itu, ada juga motif yang sangat jarang. Misalnya, motif ekonomi, menguasai uang asuransi, sakit jiwa, bahkan membunuh gegara kasihan. Misal, pasangan menderita sakit yang lama.

Tiga kasus di atas, cocok dengan teori motif dari Prof Dietz. Yang selama ini jadi dasar kriminologi buat polisi di banyak negara. Termasuk Indonesia.

Dengan mengetahui itu, bagi perempuan bisa berjaga-jaga. Agar tidak masuk dalam situasi kondisi di empat motif pembunhhan itu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.