KKB Papua, Saudara Kita atau Bukan?

 

KKB Papua

"KKB Papua saudara kita", diluruskan Menko Polhukam, Mahfud Md: "Papua memang saudara kita. Tapi KKB bukan." Itu meluruskan pernyataan KSAD, Jenderal Dudung Abdurachman, sebelumnya. Apakah itu beda pendapat?

Kelihatannya, ya. Beda pendapat. Kontradiksi. Tapi sesungguhnya tidak. 

Bukti, anggota KKB, Atu Kogoya, baru saja disikat tewas oleh Satgas TNI Pos Koramil  Persiapan Suru Suru, Kabupaten Yahukimo, Papua, Selasa (7/12/21) pukul 08.00 WIT. Tewasnya Atu Kogoya akibat baku tembak.

Dari tangan Atu, disita sebuah senjata api laras panjang. Senjata itu direbut KKB Papua dari prajurit TNI yang mereka bunuh, beberapa waktu lalu.

Kapendam Cenderawasih, Kolonel Arm Reza Nur Patria, kepada pers, Rabu (8/12/21) menjelaskan tentang senpi tersebut::

"Satu pucuk senjata laras panjang organik SS2 V4 Trijikon. Itu merupakan senjata organik dari personel Satgas TNI, yang dibunuh oleh KKB di Kali Brasa, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada 18 Mei 2021." 

Seandainya KKB saudara kita, pastinya Atu Kogoya tidak akan ditembak mati. Sebaliknya, pihak KKB tidak menganggap, bahwa kita saudara mereka. Karena, mereka sudah membunuh prajurit TNI yang senjatanya mereka rebut, itu.

Wacana "KKB saudara kita" dicapkan langsung KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. Ketika memberi pengarahan kepada prajurit di Papua, Selasa (23/11/21).

Tepatnya, saat Jenderal Dudung memberikan pengarahan kepada prajurit TNI AD, Persit KCK, dan Satgas Yonif PR 328/Dirgahayu. Di Markas Batalion Raider 754/ENK20/3 Kostrad di Timika, Papua, Selasa (23/11/21).

Pengarahan Jenderal Dudung: "Satgas tidak harus memerangi KKB, namun mereka perlu dirangkul dengan hati yang suci dan tulus. Karena mereka adalah saudara kita."

Dilanjut: "Keberhasilan prajurit dalam tugas, bukan diukur dengan dapat senjata berapa (dari musuh). Tapi, bagaimana saudara kita itu bisa sadar, dan kembali ke pangkuan NKRI."

Terus: "Bila kalian (prajurit) selesai satgas, lalu masyarakat menangisi kepulangan kalian, karena warga masih ingin kalian tugas dan tinggal bersama mereka, berarti kalian berhasil merebut hati dan simpati masyarakat Papua."

Pernyataan sejuk. Lembut. Mengajak (lagi) KKB Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. 

Jenderal Dudung juga memberi pengarahan kepada prajurit, saat mengunjungi Kodam Kasuari, Papua Barat, Kamis (25/11/2021). Di hadapan para perwira Kodam, Dudung bicara lebih konkrit:

"Prajurit yang bertugas di wilayah konflik, jangan berpikir ingin membunuh KKB. Tetapi harus berpikir: Bagaimana melaksanakan tugas negara, untuk mengamankan masyarakat Papua, Papua Barat, yang saat ini diintimidasi oleh kelompok-kelompok bersenjata." 

Dilanjut: "Cintai masyarakat Papua, seperti layaknya kita mencintai diri sendiri dengan segala keterbatasan. TNI harus hadir seperti yang tertuang dalam salah satu perintah harian KSAD, apa pun yang menjadi kebutuhan rakyat kita harus tahu."

Akhirnya: "Apabila suatu insiden terjadi. Mereka (KKB) melakukan suatu tindakan, kalian harus siap. Tetapi pada dasarnya bahwa kalian tugas di Papua Barat adalah: Bagaimana mengamankan dan menyelamatkan warga Papua."

Sampai di sini, pengarahan Jenderal Dudung itu bukan menganggap KKB Papua sebagai saudara kita. Bukan. Di situ ada penekanan: "Jika terjadi insiden, KKB bertindak, maka prajurit TNI harus selalu siap."

Intinya, TNI tidak menyukai perang. Di Papua atau Papua Barat. Perang, di mana pun di dunia, merugikan kedua belah pihak yang berperang. Semua orang, semua negara, menghindari perang. Kalau bisa.

Jurnalis - Novelis Amerika, Ernest Hemingway (21 Juli 1899 – 2 Juli 1961) tentang perang, menyatakan:

"Tidak ada perburuan seperti perburuan manusia. Dan mereka yang telah berburu pria bersenjata cukup lama, dan menyukainya, maka ia tidak pernah peduli dengan hal lain setelahnya."

Perang selalu dihindari. Tapi, jika prajurit TNI dibunuh KKB Papua, lalu senjata organik TNI dirampas, pastinya bakal ada tindakan balasan. 

Apalagi, KKB Papua adalah kelompok separatis penyebar teror kepada warga Papua dan Papua Barat. 

Ketika Jenderal Dudung menyatakan pernyataan bersahabat itu, disambut gembira para politisi. Dengan aneka komen.

Di antaranya, Wakil Ketua MPR, Syarief Hasan, menanggapi, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/21) begini:

"Apa yang disampaikan KSAD Jenderal Dudung, patut diapresiasi. Ini pesan moral kepada seluruh prajurit TNI dan Rakyat Papua, bahwa membangun Papua adalah membangun komitmen kolektif kebangsaan. Pendekatan terhadap Papua memang harus berdimensi humanistik dan persuasif."

Tanggapan ini jadi merancukan inti persoalan KKB Papua. Seolah-olah, tidak ada problem di Papua. Seakan-akan tidak pernah ada pembunuhan.

Atau, politisi berharap kondisi super ideal terkait perang. Seperti dikatakan Panglima Perang China legendaris, Sun Tzu, yang mengatakan:

"Seni perang tertinggi, adalah menaklukkan musuh tanpa berperang."

Ya, itu tadi. Mengajak KKB Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan, KKB-nya harus mau. Mau tidak mau, harus mau.

Bagaimana kalau mereka tidak mau? Bagaimana kalau mereka membunuhi prajurit kita, seperti terjadi selama ini?

Itu sebabnya, Jenderal Dudung mengarahkan, agar anak buahnya di Papua dan Papua Barat selalu siap, jika terjadi insiden. Siap perang. Melindungi warga Papua dan Papua Barat yang bukan KKB.

Jadi, tidak ada perbedaan pendapat antara Jenderal Dudung dengan Menko Polhukam Prof Mahfud. Mereka, dua tokoh penting Indonesia itu, sependapat. Dengan cara berbeda.

Mereka, relevan dengan kalimat William Westmoreland (komandan pasukan Amerika di Perang Vietnam, 1964 - 1968) yang mengatakan:

"The military don't start wars. Politicians start wars." (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.