Bacok Maling, Dihukum atau Bebas?

 

Mbah Minto

Kasminto (74) membacok pencuri, 7 September 2021. Diadili di Pengadilan Negeri Demak. Jaksa menuntut hukuman 2 tahun penjara, Senin (29/11/21). Warganet heboh: Beladiri dihukum? Juga, sudah tua?

Kepala Kejaksaan Negeri Demak, Suhendra, di konferensi pers, Selasa (30/11/2021) mengatakan:

"Kami tidak hanya perhatikan umur terdakwa. Tapi, akibat dari perbuatan yang ditimbulkan oleh terdakwa. Luka yang ditimbulkan sangat serius. Bacokan itu membuat tulang belikat kiri korban terputus."

Dilanjut: "Kami harapkan, ini menjadi pembelajaran kita semua. Agar tidak main hakim sendiri."

Konstruksi kasus: Kasminto (dipanggil Mbah Minto) adalah penjaga empang milik Suhadak (53) di Demak. Ia sebatangkara. Tidurnya di gubuk dekat empang itu.

Versi Mbah Minto: Sebelum malam itu, ikan di empang yang ia jaga, sering dijarah. Selalu malam hari.  Ikan dicolong dengan cara disetrum. Prosesnya cepat. Maka, Mbah Minto siaga malam.

Selasa malam, 7 September 2021 datanglah terduga pencuri, pria inisial M (30). Kedatangannya tak diketahui Mbah Minto. Tahu-tahu, M sudah di pinggir empang, siap-siap menyetrum.

Mbah Minto di tahanan Polsek Karangasem, Demak, kepada pers: "Ia (M) di dalam air. Saya suruh mentas (naik) malah main setrum. Saya bela diri. Usai orangnya naik itu, saya mundur sampai dua meter. Itu sampai pegangan batang jambu, jadi tidak kuat. Kalau kuat ya saya disetrum lagi."

Dilanjut: “Saya disetrum sama orangnya (M). Kena sarung, saya kan habis salat. Nggeblak (terjengkang) saya. Terus saya bela diri. Kalau enggak bela diri, saya mati."

Dilanjut: “Saya bacok dua kali. Yang keras itu yang pertama, karena jengkel saya. Soalnya satu kali dua kali itu ikannya mati semua. Terapung besar-besar, ikan jepet, nila, sama tawes."

Maksudnya, di peristiwa sebelumnya, ikan selalu disetrum maling. Tapi, ia menyatakan, tidak tahu, apakah maling sebelumnya adalah M, atau bukan.  Yang jelas, malam itu M. 

Setelah Mbah Minta ditangkap polisi, diselidiki, lalu disidik, kronologinya beda. Versi penyidikan polisi, begini:

“Tidak ditemukan fakta adanya pembelaan diri. Karena tersangka (Mbah Minto) sengaja melukai korban dan sudah memenuhi unsur Pasal 351 KUHP,” terang Kabid Humas Polda Jateng, Kombes M. Iqbal Alqudusy.

Jaksa menerangkan alur cerita lebih detil dibanding polisi. 

Kasi Intel Kejari Demak, Yulianto Aribowo mengatakan pada Oktober 2021, pembacokan oleh Mbah Minto terjadi sebelum pencurian. Ia juga masih melukai M, meski M sudah minta ampun.

Jelasnya begini: "M saat itu sedang menyiapkan alat setrum. Terdakwa sudah melihat M, sudah mengetahui M datang dengan sepeda motor. Kemudian secara langsung, terdakwa melakukan pembacokan terhadap korban. Yang mana korban pada saat itu belum melakukan pencurian."

Tentunya, kedatangan M ke empang malam hari, dengan membawa alat setrum, bisa diduga kuat, bakal menyetrum ikan di empang. Tapi, secara hukum, M belum mencuri.

Dari hasil penyidikan itulah, disimpulkan penyidik, tidak bisa diterapkan restorative justice.

Arti restorative justice: Kasus hukum, dimana para pihak yang berkepentingan dalam pelanggaran pidana (tersangka dan korban) bertemu bersama untuk berdamai secara ikhlas. Jika sudah dicapai perdamaian, tidak perlu diproses hukum. 

Inilah yang diperintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigid Prabowo. Sudah diterapkan di beberapa kasus. Antara lain, maling tabung gas milik pedagang kaki lima di Kwitang, Jakarta Pusat, Oktober 2021. 

Tabung yang dicuri, sudah dijual pencuri. Uangnya habis buat makan. Polisi menangkap pelaku. Mempertemukan pelaku dengan korban. Ternyata korban memaafkan pelaku. Mereka damai. Kasusnya ditutup. Restorative justice.

Di kasus Mbah Minto, Jaksa Suhendra mengatakan, penyidik sudah beberapa kali mempertemukan pelaku dengan korban. Mengupayakan restorative justive. Tapi gagal. Mbah Minto ogah minta maaf. "Masak, saya minta maaf ke maling? Ogah," katanya.

Jaksa Suhendra: "Korban yang dilukai bagaimana perasaannya. Tulang belikat kiri ini sampai putus, sementara dia juga sudah berteriak-teriak supaya diampuni."

Dilanjut: "Hal-hal yang memberatkan terdakwa, pertama, harusnya terdakwa bisa menghardik atau menghalau si pencuri. Tidak langsung pembacokan. Cukup dengan berteriak: Awas maling..."

"Kedua, terdakwa menolak minta maaf ke korban.Sehingga restorative justice tidak mungkin diterapkan."

Diakhiri: "Kami tidak ingin masyarakat kemudian berbondong-bondong untuk main hakim sendiri. Jadi sehingga saya khawatirkan tindakan seperti itu dianggap pembenaran. Jadi kalau kita seperti ini, datang maling kita bisa bunuh, bisa kita bacok sampai meninggal. Nah, ini yang kita harapkan ke depan, edukasi kepada masyarakat bahwa perbuatan seperti ini salah. Kecuali ada pembelaan diri."

Kasus ini memang bisa multi tafsir, multi penilaian, multi penghakiman. Tapi, masyarakat wajib menghormati keputusan penegak hukum. Jika tidak, kacau. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.