Pembunuh Bayaran Pakai Surat Kontrak

 

KOntrak Bunuh

Pembunuh bayaran ini teken kontrak. Bermeterai Rp10 ribu. Tertanggal 9 September 2021. Tarif Rp30 juta. Pemberi tugas, NW (49). Penerima tugas, 5 orang. Target, Khairul Amin (54) suami NW. Eksekusi 27 Oktober 2021. Sukses.

Itu diungkap Kapolres Karawang, AKBP Aldi Subartono kepada di konferensi pers, Sabtu (6/11/21) mengatakan:

"Meskipun tidak disebut (di surat kontrak) jenis pekerjaannya, tapi diduga itu surat kontrak pembunuhan."

Surat itu ditulis tangan, dua lembar folio. Diberi judul "Surat Perjanjian Kerja".

Pihak pertama, pemberi kerja, NW. Pihak kedua, lima orang, semuanya tandatangan.

Inti surat, kedua pihak sepakat mengikat diri dalam sebuah perjanjian kerja dalam ketentuan sebagai berikut:

Pihak pertama wajib sepenuhnya bertanggungjawab kepada pihak kedua, berikut keluarga pihak kedua, apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang berkaitan dengan hukum.

Pihak pertama juga wajib menjamu pihak kedua dan keluarganya.

"Demikian surat pernyataan perjanjian kerja dibuat dengan sesungguh-sungguhnya atas kesepakatan bersama."

Surat itu disita polisi dan dipamerkan di konferensi pers, Sabtu (6/11/2021).

NW membunuh suaminya, Khairul, karena sakit hati. NW pemilik rumah makan padang di wilayah Kelurahan Nagasari, Karawang, Jabar. Khairul penganggur, sehari-hari minta uang ke NW, dan selalu diberi.

Kemudian NW tahu, Khairul selingkuh. NW sering menegur, Khairul selalu marah. Pertengahan Agustus 2021 NW membayar dukun santet Rp5 juta, menyantet Khairul. Tidak mempan.

Awal September 2021 NW menemui pemuda AM (25) memerintahkan membunuh Khairul. AM lalu menghubungi empat orang temannya. Mereka berlima sepakat membunh Khairul. Akhirnya teken surat kontrak itu.

Khairul tewas di tempat, setelah dikeroyok, dibabat golok dan pedang. Di depan rumahnya, Kamis (27/10/21) sekitar pukul 23.49. Para pembunuh bermotor, kabur. 

Sepekan kemudian para eksekutor tertangkap. H (39), BN (34), RN (33), dan MH (25). Termasuk otak pembunuhan, NW, sudah ditahan di Mapolres Karawang.

Tarif Rp30 juta untuk lima pembunuh, tergolong murah. Tarif pembunuh bayaran termurah, dilaksanakan Yudi Maryudi (24, narapidana) di Bogor, 2015.

Yudi dapat order dari Puput Putriawati (narapidana) membunuh Parti Suranti. Tarifnya Rp5 juta. Puput dan Parti saling kenal. Puput dendam pada Parti.

Yudi mencekik Parti sampai tewas, 9 Juni 201. Untuk menghilangkan jejak, Parti dibuang di semak dekat padang golf, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Bogor.

Pengadilan Negeri Cibinong memvonis Yudi dan Puput masing-masing 15 tahun penjara.

Di Bali, 4 pembunuh bertarif masing-masing Rp10 juta pada 2021. Keempat pembunuh: Abdul Kodir, Sugiono, Abdul Hadi dan Safaat. Mereka diorder suami istri Heru Hendriyanto dan Putu Anita Sukra Dewi.

Target: Sekeluarga di Perumahan Kampial Residen, Kuta, Bali. Yakni: Made Purnabawa, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni dan anak perempuannya yang masih berusia 9 tahun, Ni Wayan Risna Ayu Dewi. 

Pembunuhan terjadi 20 Februari 2012. Ketiga mayat dibuang di hutan Desa Yeh Embang, Kabupaten Jembrana, 150 kilometer dari TKP.

Tarif agak tinggi, pembunuh bernama Isa, Rp30 juta. Pemberi order, Daniel Irfandi. Target, Martini (37) mantan kekasih Daniel, yang masih cemburu.

Uang muka Rp20 juta dibayar, pembunuhan berencana pun disusun. Isa mengundang Martini ke Hotel Transit di Tomang, Jakarta Barat, Kamis 13 September 2012. 

Di lantai 3, kamar E 312, Martini dihabisi dengan sadis. Kedua tangannya diikat dengan tali rafia dan lehernya digorok. Setelah meregang nyawa, mayat ditutup kain sprei. Isa kabur.

Polisi mengungkap pembunuhan ini. Isa dan Daniel dihukum 19 tahun penjara.

Tarif Rp250 juta diterima empat pembunuh: Elriski, Surya Hakim, Abdul Latief dan Pago Satria Permana. Pemberi order, Gatot. Target, Holly.

Holly dihabisi di Tower Ebony Kalibata City, Jakarta Selatan, 30 September 2013. Dalam kasus ini, Elriski terjatuh saat melarikan diri dan tewas seketika. Sisanya, termasuk Gatot, dibekuk polisi beberapa hari setelahnya. 

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Gatot, Surya, Abdul Latief dan Pago masing-masing hukuman 9 tahun penjara. 

Tarif Rp500 juta untuk diterima Edo, Hendrik, Amsi dan Bagol. Dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen di lapangan golf Tangerang, pada Sabtu (14/3/2009).

Kasus yang melibatkan mantan Ketua KPK, Antasari Azhar itu rumit, dan penuh kontroversi. Tapi, itulah tarif pembunuh bayaran paling tinggi di Indonesia.

Dari semua data itu, hanya pembunuhan di Karawang yang pakai surat perjanjian kerja. Setidaknya, begitulah yang diungkap polisi. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.