Orang Mati, Kok Dijadikan Tersangka

TransJ

 Orang mati jadi tersangka. Sopir TransJ inisial J, yang tewas dalam kecelakaan di Cawang, Jakarta Timur, Senin (25/10/21), "Ditetapkan jadi tersangka," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, Rabu (3/11/21).

Itu kali kedua di 2021, orang meninggal jadi tersangka. Yang pertama, enam laskar FPI tewas dalam peristiwa di Km 50 jalan tol Cikampek (peristiwa 4 Januari 2021) ditetapkan tersangka, awal Maret 2021.

Waktu itu, masyarakat heboh. Menyoal, orang sudah meninggal, kok ditetapkan jadi tersangka. Sampai, Menko Polhukam, Mahfud Md menjabarkan, begini: 

"Ada tertawaan publik. Masyarakat banyak yang ngejek, nyinyir gitu. Kenapa kok orang mati dijadikan tersangka. Enam laskar itu kan dijadikan tersangka oleh polisi," kata Mahfud dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (9/3/21).

Dilanjut: "Itu hanya konstruksi hukum. Dijadikan tersangka sehari, kemudian sesudah itu dijadikan gugur perkaranya. Karena apa? Karena konstruksi hukum yang dibangun oleh Komnas HAM itu ada orang yang terdiri, atau yang bernama laskar FPI. Memancing aparat untuk melakukan tindak kekerasan dan mereka membawa senjata."

Dilanjut: "Ada bukti senjatanya. Ada proyektilnya. Bahkan di laporan Komnas HAM, ada nomor telepon orang yang memberi komando. Siapa? Nah oleh karena sekarang enam orang yang terbunuh ini menjadi tersangka, dicari pembunuhnya, maka dikonstruksi dulu, mereka tersangka. Karena mereka memancing aparat melakukan tindak kekerasan."

Kini, terjadi lagi. Sopir TransJ inisial J (sudah tewas) jadi tersangka.

Kombes Yusri Yunus: "Hasil kesimpulan, penyebab kecelakaan adalah human error atau dari pengemudi yang meninggal dunia yang membawa bus TransJakarta adalah tersangkanya."

Dilanjut: "Hasil pemeriksaan dokter dan Labfor kepolisian, memang si pengemudi ini punya bawaan riwayat sakit epilepsi (ayan)."

Kecelakaan terjadi Senin (25/10/21) sekitar pukul 08.45 WIB di daerah Cawang, Jakarta Timur. Total 33 orang menjadi korban akibat peristiwa tersebut. Dua orang meninggal, sopir berinisial J dan satu penumpang.

Hasil penyelidikan polisi, TransJ disopiri J melaju kecepatan 54 kilometer per jam. Menabrak bus TransJ di depannya, yang berhenti di halte. 

Akibatnya, bus yang ditabrak, posisi ngerem, terdorong 17 meter ke depan. Dua bus sama-sama ringsek. Sopir J, terjepit bodi bus, tewas.

Kesimpulan: Sopir J sedang kambuh penyakit ayan, pingsan. Bus melaju kecepatan segitu. Tidak ada bekas rem di aspal. Tabrakan sangat keras.

Pasal 77 KUHPidana, berbunyi: Kewenangan menuntut pidana otomatis terhapus, jika tersangka meninggal dunia. 

Artinya, orang meninggal (berdasar KUHPidana) bisa dijadikan tersangka. Mengutip pendapat Prof Mahfud Md, itu sebagai konstruksi hukum. Sebab, ada kejadian, dengan bukti penyidikan polisi, ada korban (33 orang) maka polisi harus menentukan tersangka. Walaupun sudah meninggal dunia.

Pasal 14 ayat (1) huruf g Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) menyatakan: Polri bertugas menyelidik dan menyidik semua tindak pidana. Sesuai hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.

Tentang Pasal 77 KUHPidana, R. Soesilo dalam bukunya berjudul "Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal", mengatakan: 

Pada pasal ini terletak suatu prinsip. Bahwa penuntutan hukuman, harus ditujukan kepada diri pribadi orang. Jika orang yang dituduh pidana itu meninggal dunia, maka tuntutan atas peristiwa itu habis begitu saja. 

Selesai begitu saja. Artinya, tidak dapat tuntutan itu lalu diarahkan kepada ahli warisnya (halaman 91).

Kasus kecelakaan bus TransJ seperti memberikan pencerahan kepada masyarakat, bahwa orang sudah meninggal bisa dijadikan tersangka. Demi konstruksi hukum.

Ini persoalan biasa bidang hukum. Dan, tidak ada kehebohan di kasus kecelakaan TransJ, dengan penetapan tersangka yang sudah meninggal. Karena, tidak ada muatan politik di kasus ini. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.