Teroris Basri dibanding Khaled Kelkal

 

Basri

Kembali ke Ibu Pertiwi. Napi teroris, Muhammad Basri alias Bagong, berikrar setia NKRI, di Penjara Nusakambangan, Sabtu (2/10/21). Ia mengimbau teroris Poso, tersisa empat orang, agar menyerah. Deradikalisasi sukses.

Itu diucapkan Basri dalam rekaman video, durasi 1 menit 53 detik. Tampak, ia mengucap ikrar setia kepada NKRI, lalu mencium bendera merah putih. Sekaligus, melepas baiat MIT (Mujahiddin Indonesia Timur) atau teroris Poso..

Kepala Operasi Madago Raya, Brigjen Reza Arif Dewanto, mengkonfirmasi pengucapan ikrar setia Basri kepada NKRI. Dilaksanakan di Lapas Nusakambangan, Sabtu (2/10/21).

Brigjen Reza: "Telah dilaksanakan ikrar setia NKRI dan lepas baiat oleh satu orang narapidana kasus terorisme di Lapas Khusus Kelas IIA Karanganyar, Nusakambangan atas nama Muhammad Basri."

Basri: "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Basri alias Ayas alias Bagong alias Opa. Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik-baik dan sehat-sehat. Saya turun untuk menyerahkan diri, untuk bertanggung jawab atas perbuatan saya."

Dilanjut: "Kakak-kakakku, Saudara-saudaraku yang masih ada di hutan, kalau kalian takut untuk turun menyerahkan diri, saya yang akan bertanggung jawab. Sayalah yang akan menjemput kalian. Saya akan jemput kalian. Bapak-bapak kita dari polisi memperlakukan saya baik-baik, melebihi saudara mereka sendiri."

Penanggung Jawab Kendali Operasi (PJKO) Madago Raya, Irjen Rudy Sufahriadi melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/10/21) menyatakan: 

"Basri berubah pemahamannya sejak ikut program penggalangan antar-narapidana yang diselenggarakan tim Satgassus Densus."

Basri sempat menjadi buronan teroris Poso. Ia ditangkap Densus 88 Anti-teror pada 2008. Pengadilan Negeri Jakarta menjatuhkan vonis 19 tahun penjara, ia terbukti teroris.

Tapi, ia kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Ampana, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah pada 2013. Lantas bergabung ke MIT pimpinan Santoso.

Setelah Santoso tewas dalam bau tembak dengan Densus 88, Senin, 18 Juli 2016. Kemudian Basri memimpin teroris MIT. Ia menyerahkan diri ke polisi, Kamis, 14 September 2016. 

Setelah Basri menyerah, teroris MIT dimpin Ali Kalora yang tewas dalam baku tembak dengan aparat, Sabtu (18/9/21).

Kini anggota MIT tersisa empat orang: Askar alias Jaid alias Pak Guru, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang, serta Suhardin alias Hasan Pranata.

Ada empat tindakan Basri di Nusakambangan: 1) Ikrar setia ke NKRI. 2) Mencium bendera merah putih. 3) Melepas baiat MIT. 4) Mengajak teroris Poso, mantan anak buahnya, menyerah. Itu dalam satu paket.

Deradikalisasi tidak gampang. Empat tindakan itu, tanda ia serius.

Peneliti Terorisme, Dr. Raffaello Pantucci, dalam risetnya bertajuk "Britain’s Prison Dilemma: Issues and Concerns in Islamic Radicalization" (terbitan Jamestown Terrorism Monitor, 24 Maret 2008) menyebutkan:

Ada dua kendala rehabilitasi narapidana teroris. Di seluruh negara yang memenjarakan teroris.

Pertama, penjara menyatukan teroris dengan penjahat biasa. Meskipun blok sel mereka dipisah, tapi mereka berada di satu gedung. Memungkinkan teroris mempengaruhi napi penjahat biasa.

Kedua, upaya deradikalisasi bukan saja sia-sia. Melainkan, justru menghasilkan kebalikan. Pengelola penjara kerepotan mencegah napi lain tertular faham terorisme. Karena, itu menyangkut ideologi. Dan, ideologi ditularkan lewat komunikasi.

Dr Pantucci kini Peneliti Terorisme Tamu di the Shanghai Academy of Social Sciences (SASS), China.

Apalagi, Penjara Nusakambangan kini dihuni hampir 170 napi teroris. Tercatat, pada Kamis, 10 Mei 2018 sebanyak 155 napi teroris yang memberontak di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, semuanya diangkut pindah ke Nusakambangan. Mereka belum keluar. Masih ditambahi puluhan lagi.

Di situ prestasi deradikalisasi terhadap Basri, nyata.

Hasil riset Dr Pantucci (item nomor dua), senada dengan hasil riset Dr Mark S. Hamm, bertajuk:

"Terrorist Recruitment in American Correctional Institutions: An Exploratory Study of NonTraditional Faith Groups Final Report" (Commissioned Repo, Desember 2007) yang menyatakan: 

"Penjara (yang bukan khusus teroris) mewakili kerentanan. Penghuninya (napi) menjalani isolasi sosial, menimbulkan krisis individu, memupuk rasa berontak. Sehingga faham radikalisme teroris sangat diterima napi."

Bagi napi umum, napi teroris dianggap sebagai simbol pemberontakan. Bahkan, bisa dianggap hero. Maka, sedikit saja sinyal ajakan napi teroris kepada napi umum, maka bagai api dalam sekam. Yang tidak terlihat penjaga penjara.

Dr Hamm: Napi teroris cenderung membutuhkan napi bukan teroris, demi kolaborasi kejahatan terorisme. Yang, gerakan terorisme punya penyandang dana. Sebaliknya, napi bukan teroris merasa, masa depannya gelap. Rentan. Akibatnya, bukan terjadi de-radikalisasi, melainkan radikalisasi napi.

Contoh yang ditampilkan, teroris Khaled Kelkal. Kelahiran Mostaganem, Aljazair, 1971. Ia punya tiga saudara lelaki dan empat perempuan.  Keluarga beranak delapan ini pindah ke pinggiran Kota Lyon, Prancis, ketika Kelkal masih bayi.

Pada 1990, Kelkal menyimpan mobil curian, dihukum percobaan (tidak dibui) empat bulan, karena masih remaja. Dua bulan kemudian ia menggunakan mobil, mendobrak properti pribadi warga Lyon. Ia dibui empat tahun.

Dalam penjara, dia bertemu napi teroris Khelif, yang dihukum tujuh tahun penjara. Di situlah Kelkal dikuliahi Khelif.

Kelkal bebas penjara 1993, setelah remisi. Ia langsung mudik ke Aljazair. Di sana ia gabung ke Armed Islamic Group (GIA) teroris Aljazair, pimpinan Mohamed Minta.

11 Juli 1995, Kelkal terlibat dalam pembunuhan Imam Sahraoui di masjidnya di Paris. Sahraoui dianggap terlalu moderat oleh GIA. Kelkal buron. 

15 Juli 1995 Kelkal baku tembak dengan polisi Prancis disebuah pos pemeriksaan. Kelkal lolos dari penangkapan.

26 Agustus 1995 sebuah botol gas dilengkapi sistem peledakan, ditemukan di jalur kereta api TGV Paris-Lyon, dekat Cailloux-Sur-Fontaines (Rhône). Bom belum sempat meledak. Sidik jari Kelkal ada di situ.

29 September 1995 polisi mengidentifikasi Kelkal berada di hutan Malval, dekat Lyon. Dugaan polisi ternyata benar. Kelkal berada di sebuah tempat bernama La Maison Blanche, di kawasan hutan itu. 

Terjadi baku tembak polisi versus Kelkal yang terkepung. Kelkal tewas dalam lima menit penyergapan.

Maka, deradikalisasi Basri suatu prestasi. Meskipun, ia menyerah ke polisi 14 September 2016. Yang menandakan, ia sudah merasa bahwa terorisme adalah tindakan salah sejak lima tahun lalu.

Persoalan berikutnya, ajakan Basri agar teroris Poso menyerah, apakah terwujud? 

Ajakan itu sangat mungkin didengar empat teroris yang kini sembunyi di pegunungan Poso. Sebab, saat Ali Kalora tewas dalam baku tembak melawan Satgas Madago, ditemukan ponsel. Berarti, mereka punya akses informasi.

Apakah mereka bakal menyerah? Kita tunggu saja. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.