Pigai Diam Dunia Gak Ramai

 

Pigai

Jarang, unggahan seheboh cuitan Natalius Pigai. Menyebut Presiden RI Jokowi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Direspon Wali Kota Solo Gibran Rakabuming, nyerempet Ketua DPR RI Puan Maharani. 

Pun, cuitan Pigai menuliskan kata: "... mereka bunuh rakyat Papua..." merupakan kalimat sensitif. 

Cuitan Pigai via Twitter-nya @NataliusPigai2, Sabtu (2/10/21), lengkapnya begini:

"Jgn percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar. Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat Papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah. Kami bukan rendahan. kita lawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. Sy Penentang Ketidakadilan)."

Itu kalimat berlebihan. "Sampai titik darah penghabisan."

Mengingat, tindak kekerasan terhadap sejumlah tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9/2021). Tenaga kesehatan, Perawat Puskesmas Kiwirok, Gabriella Meilani, gugur di situ.

Terang-terangan, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua mengakui sebagai pelaku tindak kekerasan itu.

Tak kurang, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/9/2021) menyatakan, sudah waktunya negara bertindak tegas.

Bamsoet: "Sudah waktunya negara melakukan tindakan tegas dengan menurunkan seluruh matra kekuatan yang dimiliki. Tidak boleh ada lagi toleransi terhadap teroris KKB untuk melakukan aksi kejahatan yang meresahkan masyarakat serta mengakibatkan korban jiwa."

Sebab, teror KKB Papua di Kiwirok, bukan satu-satunya. Bamsoet mengingatkan serentetan ini:

8 April 2021 KKB Papua menembak mati guru bernama Oktavianus Rayo, di Kabupaten Puncak, Papua.

9 April 2021 KKB menembak mati guru SMP bernama Yonathan Randen di Kabupaten Puncak juga. 

14 April 2021 KKB menembak mati sopir ojek bernama Udin di area Pasar Ilaga, Kabupaten Puncak, juga.

15 April 2021 KKB menembak mati pelajar SMA bernama Ali Mom di Beoga, Kabupaten Puncak, juga.

Maka, kalimat Pigai: "... mereka bunuh rakyat Papua..." jadi kalimat rawan. Karena, ada rentetatn pembunuhan di Papua.

Kalau ditambahi kalimat Pigai: ".... Sampai titik darah penghabisan", dunia medsos lebih ramai lagi. Bersemangat. Sebab, itu kalimat kuno. Mengingatkan pada pekik pejuang kemerdekaan RI melawan penjajah, 1945.

Letupan Dibalas Rangkulan

Tapi, Indonesia bukan negeri tempat orang-orang cemen. Yang gampang cengeng. Tidak. Bukan begitu. 

Mengutip pernyataan Presiden Jokowi: Indonesia dihuni 714 suku, dan punya 1.001 bahasa (Jokowi, Debat Capres ke-4 di Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019). Ini negara besar. Dengan ratusan karakter suku yang berbeda-beda. Menyatu dalam NKRI.

Tokoh yang disebut di cuitan Pigai, Ganjar Pranowo, tahu-tahu didatangi segerombol mahasiswa Papua, di hotel tempat Ganjar menginap di Jayapura, Papua, Minggu (3/10/21) pagi.

Segerombol itu, para aktivis mahasiswa dari GMNI, PMII, PMKRI, HMI, GMKI dan BEM Universitas Cenderawasih.

Ganjar yang sedang sarapan di resto hotel, buru-buru menemui para mahasiswa. Yang wajah mereka terlihat garang-garang. Tapi, mereka semua tersenyum saat bertemu Ganjar. 

Salah satunya mengatakan, bahwa Papua dan Jawa Tengah adalah bersaudara. "Torang samua basudara, Bapa..." 

Suatu kehangatan karakter, khas Papua. Luar biasa menyejukkan. Ganjar menjabat tangan-tangan mereka dengan erat. Tangan generasi muda, calon pemimpin bangsa.

Lantas, mereka diundang Ganjar, sarapan bareng, ngopi bareng. Lantas mereka ngobrol sebagaimana saudara.

Ganjar ke mereka: "Kalian kuliah belum masuk, kan? Terus aktivitas sehari-hari apa? Tidur saja, kah?"

Para mahasiswa senyum-senyum. Sungkan, gaya Papua.

Ganjar lanjut, menunjuk pemuda: "Pantas, itu perutnya gendut..."

Mereka ketawa ngakak. Seolah tanpa sekat. Bagai bapak dan anak-anak. Keakraban itu sampai jelang siang. Mareka pamitan.

Salah satu dari mereka, Ketua GMNI Jayapura, Ricky Bofra mengatakan kepada pers, mereka sengaja menemui Ganjar untuk diskusi.

Ricky: "Beliau punya banyak gagasan. Tapi merakyat. Kami suka. Ketika beliau datang ke sini, ini momentum bagi kami berjumpa dan sharing ide, masukan dan gagasan dari beliau pada kami untuk membangun Jayapura ini."

Ia tutup: "Kami, teman-teman di Jayapura bersama saudara kita di Jawa Tengah, kami tetap bersaudara. Salam satu Indonesia..."

Wartawan dan para mahasiswa, sama sekali tidak menyinggung cuitan Natalius Pigai. Seolah cuitan itu tak pernah ada.

Lain lagi dengan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming. Ketika meninjau vaksinasi di Pura Mangkunegaran, Senin (4/10/21), Gibran dikerubuti wartawan. Ditanya soal cuitan Pigai, yang menyebut Jokowi dan Jawa Tengah.

Sejenak, Gibran kaget. Ia tak menduga ditanya begitu. Tapi, cepat ia jawab, bahwa banyak orang Papua bermukim di Solo. Kebanyakan pelajar dan mahasiswa. "Di Solo Technopark, banyak," ujarnya.

Warga Papua aman dan nyaman hidup di Solo. "Tidak ada rasis di sini," ujar Gibran. "Bala kabeh..." tambahnya. 

Artinya, sama dengan "Torang samua basudara, Bro...".

Reaksi dua tokoh Jawa Tengah itu merupakan jawaban terhadap cuitan Pigai. Dengan gaya khas Jawa Tengah. Para mahasiswa Papua yang bersama Ganjar, ekspresi persaudaraan khas Bumi Cendrawasih.

Tapi, ini soal hukum. Pihak Barisan Relawan Nusantara (Baranusa) melaporkan Pigai ke Polda Metro Jaya, Senin (4/10/21). Ketua Umum Baranusa, Adi Kurniawan kepada pers, di Markas Polda Metro Jaya, Senin (4/10/21) mengatakan:

"Kami baru selesai melaporkan saudara Natalius Pigai, tadi kami sudah ke SPKT (sentra pelayanan kepolisian terpadu)."

Namun, Baranusa diminta melapor Mabes Polri. "Pihak Polda bukan menyarankan, tapi meminta ke kami ke Mabes Polri. Agar laporan menjadi kuat, supaya koordinasi dengan Mabes Polri," kata Adi. 

Kuasa hukum Baranusa, Muhammad Zainul Arifin sudah menyiapkan bukti-bukti. Dengan tuduhan ke Pigai, pelanggaran Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dan/atau Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis serta Pasal 156 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Serempetan Politik

Ada yang out of topic di kasus ini. Kasus yang bisa masuk ranah hukum ini, mendadak menyimpang ke politik.

Di grup-grup WhatsApp beredar pesan gambar dengan foto Puan dan tulisan, begini: "Pigai Sengaja Digunakan Oleh Puan, Untuk Menghancurkan Ganjar dan Jateng".

Pesan WA itu beredar di beberapa grup WA, sejak Sabtu (2/10/21). Di situ ada foto Pigai. Juga foto Ketua DPR RI, Puan Maharani mengenakan kebaya merah. Jelas, ini mengarah politik. Tepatnya, wacana Capres PDIP yang bakal maju Pilpres 2024.

Wartawan konfirmasi ke Pigai, yang langsung membantah. 

Pigai: "Saya tidak suka PDIP, tapi menghormati Ibu Mega, menghargai pribadi Ibu Puan. Seumur hidup saya tidak pernah ketemu, bahkan salaman."

Dilanjut: "Saya kritik tidak ada kaitan dengan PDIP, capres. Saya kritik untuk ketidakadilan terhadap rakyat Papua. Kecuali kalian ingin kan kita hidup sendiri di wilayah masing-masing antarpulau, dan itu pilihan kalian karena kalian yang mulai dengan gempuran Rasis."

Elite PDIP Hendrawan Supratikno, juga dikonfirmasi wartawan, Minggu (3/10/21). Ia berkata begini:

"Apa perlu ditanggapi? Apakah kita mau diperbodoh, dianggap bodoh, atau menyebar virus kebodohan? Apakah kebodohan pantas diberi tempat dalam orkestrasi kita membangun etika demokrasi dan peradaban bangsa yang lebih maju?"

Intinya, Pigai dan pihak PDIP sama-sama membantah, bahwa itu strategi politik.

Rapotnya, seumpama kasus ini benar bermuatan politik. Maka, jadi tidak sesederhana yang diduga orang. Bakal rumit. Walau, informasi ke publik sudah dibantah kedua pihak.

Kerumitan bakal di penyidikan. Kalau, seandainya kasus ini disidik. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.