Nikah Dini di Maluku, Dorongan Mimpi

 

Nikah dini

Nikah dini heboh lagi. Siswi SMP, NK (15) puteri Ketua MUI Buru Selatan, Maluku dinikahkan dengan ustad dari Tangerang, Banten. Sampai, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, prihatin.

Kehebohan ini gegara teman sekolah NK di SMP Negeri 1 Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Maluku, demo. Mereka protes atas pernikahan tersebut.

Sebab, NK siswi terpandai di sekolah. Jika gurunya berhalangan, dia diminta mengajar teman-teman sekelasnya.

Setelah NK dinikahi sang ustad, 28 September 2021 di sana, NK tak mau sekolah lagi, karena malu.

Kepala SMP Negeri 1 Namrole, Noho Lesilawang kepada wartawan, Sabtu (9/10/21) mengatakan: “NK siswi kami yang pintar dan sangat berprestasi di sekolah." 

Dilanjut: “Karena prestasi dia bagus sekali, maka dia jadi guru bagi teman-teman sebaya. Sewaktu dia dikawinkan orangtua, teman-teman sekelas merasa kehilangan sekali. Lalu demo."

Demo sampai ke kantor DPRD setempat. Menuntut, agar DPRD meninjau pernikahan tersebut. Karena, btas usia minimal orang menikah berdasar UU yang berlaku, adalah usia 19 tahun.

Noho Lesilawang cerita, bahwa ortu NK, yang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buru Selatan, Maluku, Ambo Intan Karate, sering dipanggil Ustad Ambo. 

Noho: "Sebelum pernikahan, Ustad Ambo datangi rumah saya. Ia ceritakan, calon menantunya yang ustad dari Tangerang cerita kepadanya, bahwa ustad calon menantu bermimpi bertemu dengan beberapa orang bersorban. Lalu orang-orang bersorban itu menyuruhnya menikahi NK."

Atas cerita ustad Tangerang itulah, ustad Ambo menikahkan puterinya, NK dengan sang ustad.

Noho: “NK mengaku ke pihak sekolah, dia dipaksa menikah orangtua. Karena dipaksa, dia minta syarat: Mau dinikahkan asal boleh sekolah. Orangtua menyetujui, lalu dinikahkan. Tapi setelah menikah, NK malu sekolah lagi."

Sebaliknya, ortu NK, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buru Selatan, Maluku, Ambo Intan Karate, kepada pers, Sabtu (9/10/21) mengatakan, kini puterinya sudah jadi isteri ustad. Tinggal di rumah saja.

Ditanya wartawan, mengapa NK tidak sekolah lagi? Dijawab: “Bagaimana mau sekolah, dia sudah malu."

Ambo mengakui, bahwa sebelum menikahi NK, menantunya bilang ke Ambo, bahwa sang ustad bermimpi didatangi beberapa orang bersorban, menyuruh menikahi NK.

Ambo: "Itu namanya sudah jodoh. Tidak ada paksaan. Mengapa orang meributkan? Banyak perempuan yang menikah usia muda."

Heboh kasus ini, sampai juga ke Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas yang prihatin. 

Menteri Yaqut kepada pers, Senin (11/10/21) mengatakan: "Regulasi mengatur batas usia perkawinan. Kita punya Undang-Undang No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ jelas diatur bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun."

Menag meminta jajarannya, khususnya para penghulu, proaktif mencegah perkawinan anak. Caranya, dengan menolak mencatatkan pernikahan calon pengantin yang masih di bawah umur 19.

Dilanjut: "Kecuali jika sudah mendapatkan dispensasi dari pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup."

Menurutnya, menekan praktik pernikahan dini, diperlukan upaya masif dan melibatkan banyak pihak. Tidak cukup Kementerian Agama. Pelibatan instansi lain diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya ketercukupan usia dalam pernikahan, baik dari sisi kesehatan, tumbuh kembang anak, dan masa depan anak.

Yaqut: "Upaya penyadaran ini juga harus dilakukan oleh media massa, sebagai edukasi."

Terpisah, Ketua MUI Pusat, Abdullah Jaidi kepada pers lewat pesan singkat, Selasa (12/10/21), menyatakan:

"Kalau secara syari, boleh dan sah. Tetapi secara UU Perkawinan dalam situasi sekarang ini, belum cukup matang dan masih membutuhkan pendidikan seperti teman-temannya. Ya memang kalau sudah lulus SMA sekitar umur 18 tahun maka sudah cukup matang."

Dilanjut: "Bagaimanapun juga pernikahan sebaiknya dengan kerelaan dan persetujuan calon mempelai wanita. Selain persetujuan kedua orang tua juga."

Ternyata, nikah dini di Indonesia terbanyak ke-2 di ASEAN, dan ke-8 di dunia, setelah negara-negara Afrika.

Temuan Kemen PPN/Bappenas mengungkap bahwa ada sekitar 400-500 anak perempuan di usia 10-17 tahun berisiko menikah dini akibat pandemi Covid-19.  

Disebutkan, sekitar 22 dari 34 provinsi di tanah air memiliki angka perkawinan anak yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ini dianggap mengkhawatirkan.  

Pasalnya, pemerintah telah mengatur dengan jelas batas minimal perkawinan menjadi 19 tahun, dan memperketat aturan dispensasi perkawinan dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan  Namun praktik perkawinan anak masih kerap terjadi. 

Lain lagi, Koalisi Perempuan Indonesia (2019) dalam studinya Girls Not Brides menemukan data, bahwa 1 dari 8 remaja putri Indonesia sudah kawin sebelum usia 18 tahun.  

Temuan ini diperkuat dengan data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) BPS tahun 2017 yang menunjukkan presentase perempuan berusia 20-24 tahun yang sudah pernah kawin di bawah usia 18 tahun sebanyak 25,71 persen.  

Kawin anak, permasalahan sosial yang pelik di Indonesia. Rumit, multi dimensi.  Apalagi, kalau yang mau kawin mimpi bahwa ia disuruh kawin. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.