Maling Sayur dan Kemiskinan

maling sayur

 Di-massa, maling sayur dari Garut, Maman (50) babak-belur. Pingsan. Diangkut ke hutan, dimasukkan galian tanah, hendak dikubur, ia berontak. Lalu, salah seorang turun ke lubang, menggorok leher Maman. Baru-lah diurug tanah.

Jadi, tidak benar kabar bahwa Maman dikubur hidup-hidup. Lebih tepatnya, tidak pasti. Yang benar, kronologi tersebut.

Kapolres Garut, AKBP Wirdhanto Hadicaksono kepada wartawan, Rabu (27/10/21) mengatakan: "Korban digorok di bagian leher, barulah dikubur."

Bisa jadi, Maman sudah mati setelah digorok, bisa juga belum. Karena 14 orang pengeroyoknya berada di situ. Tak satu pun berusaha memeriksa, apakah Maman sudah tak bernyawa, atau masih hidup. Mereka pula penguburnya.

Peristiwa itu terjadi Selasa (12/10/21) sekitar pukul 01.00 dini hari. Para peronda malam di Desa Sindangsari, Kecamatan Cigedug, Garut, memergoki Maman di gudang kentang milik warga.

Peronda langsung menghakimi Maman. Sebab, sebulan sebelumnya Maman juga ketangkap warga saat mencuri sayuran di gudang. Seketika itu Maman dihajar massa. 

Kian lama, massa kian banyak. Akhirnya, hasil penyidikan polisi ada 14 orang tersangka. Massa menghajar Maman dengan pukulan, tendangan, juga hantaman batu saat Maman sudah terkapar.

Tak lama, Maman koma. Warga mengikat kaki tangan Maman, memasukkan ke karung. Lalu digotong warga menuju hutan di kaki Gunung Cikuray, Garut. Jarak antara lokasi pengeroyokan dengan titik penguburan, sekitar 2 kilometer.

Sewaktu warga hendak memboyong tubuh Maman, mereka sudah siap membawa cangkul dan sekop. Tiba di titik yang sepi, 14 orang itu mencangkul membuat galian kubur. 

Setelah galian cukup dalam, tubuh Maman dimasukkan ke situ. Mendadak Mamang berontak. Tapi tak berdaya, sebab kaki tangan terikat, dan tubuhnya berada dalam karung.

Melihat itu, warga tak tega langsung mengubur Maman. Kasihan. Salah seorang meloncat turun ke dasar lubang, membawa golok, memegang kepala Maman, lalu menggorok, kira-kira kena leher. Darah menyembur dari sobekan karung. Maman mengerang.

Baru-lah kemudian diurug tanah. Entah mati atau belum, yang penting sudah digorok.

AKBP Wirdhanto: "Para tersangka (14 orang) mengaku, tidak ada yang memeriksa, apakah korban sudah meninggal atau belum. Lalu korban dikubur."

Esoknya, keluarga Maman mencari kemana-mana. Kemudian lapor ke Polres Garut, bahwa Maman menghilang. Polisi berusaha mencari. 

Dua pekan kemudian, Minggu (24/10/21) sore warga melapor ke polisi. Ditemukan tubuh manusia terkubur. Berarti, galian kubur tidak dalam. Lokasi di Blok Waspada, Gunung Cikuray.

Polisi segera meluncur ke TKP. Jenazah Maman ditemukan. Langsung dikirim ke RSUD Garut untuk pemeriksaan.

Tidak sampai 24 jam, 14 tersangk diringkus polisi. Dari hasil pemeriksaan diketahui, orang yang turun ke lubang menggorok Maman adalah tersangka S. Dikenakan pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana) dengan ancaman hukuman mati.

13 tersangka lainnya dijerat Pasal 338 KUHP (pembunuhan tidak berencana) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

"Pasal akan kami sesuaikan dengan peran masing-masing. Ada yang ancaman hukumannya maksimal seumur hidup, ada yang hukuman mati," kata Wirdhanto.

Mengapa warga begitu sadis? "Menurut pengakuan para tersangka, korban sudah pernah mencuri sayur dari gudang milik warga. Tapi tidak dilaporkan ke polisi. Didamaikan. Lalu itu terulang lagi."

Di masa panemi Corona yang hampir dua tahun ini, jumlah orang miskin terus bertambah. Selain, aslinya jumlah orang miskin Indonesia sudah puluhan juta orang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dipublikasi Kamis, 15 Juli 2021, jumlah penduduk miskin Indonesia per akhir Maret 2021 tercatat 27,54 juta orang.

Indikator miskin adalah: Pengeluaran per kapita per bulan Rp472.525. Jika dikalkulasi per kapita per hari Rp15.750.

Gampangnya, orang (tua-muda, pria-wanita) yang bisa hidup dengan pengeluaran Rp 15.750 per hari ke atas, disebut (oleh BPS) tidak miskin. Kalau di bawah itu, berarti miskin.

Maling sayuran, sangat mungkin untuk dimakan bersama keluarga. Pertanda miskin. Ketika mencuri, ia dihakimi begitu kejam. Oleh warga desa, yang juga miskin.

Dikutip dari The Guardian (5 Juli 2017) yang mengutip buku karya Stephen Pimpare: A People's History of Poverty in America (Juni 2011), bahwa orang miskin cenderung kejam terhadap sesama orang miskin. 

Pimpare mencontohkan, literatur dalam antropologi dan sosiologi tentang perempuan dan kesejahteraan yang diterbitkan 1980-an. 

“Berulang kali ditemukan, bahwa wanita (di Amerika) yang hidup tidak sejahtera (miskin) mengumpat tentang kesejahteraan terhadap orang miskin lainnya."

Itu keanehan. Karena diduga, semestinya sesama orang miskin bersatu, akibat persamaan nasib. Yang ternyata tidak.

Perspektif orang kaya, beda lagi. Orang kaya percaya, bahwa mereka pemenang dalam kehidupan. Mereka sampai di tempat mereka sekarang, karena mereka yakin bahwa itu diraih dengan kerja keras. Sehingga mereka merasa layak mendapatkan hasilnya.

Pandangan itu betul. Berdasar logika, pandangan tersebut benar.

Pimpare: "Orang kaya memandang orang miskin dengan cara pandang mereka. Bahwa orang miskin dianggap gagal dalam kehidupan, karena kurang keberanian dan prestasi."

Bagi yang terakhir inilah, menurut Pimpare, tidak akurat. Karena, banyak faktor menyebabkan orang miskin. Tidak hanya satu faktor dari internal individu tersebut.

Orang kaya memandang kasus pembunuhan terhadap maling sayur di Garut, pastinya prihatin. Betapa pun kejahatan yang dilakukan Maman, tak sebanding dengan main hakim sendiri yang dilakukan warga setempat.

Tapi, orang kaya (dalam hati) menyalahkan Maman dan warga pengeroyok. Karena kemiskinan, maling sayuran dihukum begitu rupa. Menyitir kalimat Pimpare: "Orang jadi miskin, karena kurang prestasi."

Teori Pimpare ini betul, jika dijadikan sebagai daya inspirasi masyarakat, bahwa semua orang harus berjuang maksimal. Supaya tidak maling sayur. (*)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.