Rumitnya Kasus Gantung Leher via TikTok

 

tiktok

Polisi diuji di kasus ini. TikToker Sofian Sidauruk (29) tewas tergantung di rumahnya, Rusun Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (2/9/21). Keluarga Sofian meyakini, itu pembunuhan. Polisi masih investigasi.

Rentang waktu antara saat kematian hingga Sabtu (18/9/21) menunjukkan kasusnya rumit. Padahal, saat kematian diunggah di TikTok korban, dan viral. Akun sudah dihapus, beberapa saat kemudian.

Polisi kini bekerja keras, mengurai kerumitan.

Kanit Reskrim Polsek Jatinegara, AKP Tri Sambodo, dalam keterangannya, Sabtu (18/9/21) menyatakan:

"Benar, bahwa ada dugaan pembunuhan dalam peristiwa gantung diri, namun penyidik masih melakukan penyelidikan. Menunggu hasil visum." 

Sebaliknya, kuasa hukum keluarga Sofian, Dosma Roha Sijabat, yakin bahwa Sofian dibunuh. Ada beberapa bukti yang membuat pihaknya yakin. Dan, ia mendesak polisi mengungkap kejelasan kasus ini.

Konstruksi kasus. Pada Kamis (2/9/21) sekitar pukul 22.00 Sofian membuat film untuk TikTok seolah ia bunuhdiri. Syuting berlangsung sekitar 4 jam, sampai Jumat (3/9/21) dini hari. Dibagi dalam tiga sesi.

Yang diunggah di TikTok hanya 15 detik terakhir. Saat menjelang Sofian meninggal.

"Di video 15 detik itu ada kejanggalan. Seperti ada yang narik kaki kiri korban, ke samping, bukan ke depan," kata Dosma Roha Sijabat kepada pers, Sabtu (18/9/21). 

Jadi, di film tampak, kaki Sofian berayun. Seperti berusaha menjangkau meja di depan. Tapi, kaki kirinya seperti ditarik ke samping (penariknya tidak terlihat di film).

Disimpulkan, seumpama kaki Sofian bisa menapak di meja, diduga Sofian bisa lepas dari jerat gantungan. Tapi, itu tadi, kata Dosma, seperti ada yang menarik kaki kiri ke samping. Menghambatnya.

Yang berarti menghambat ayunan kaki ke depan. Yang diduga, menghambat Sofian berusaha hidup.

Sehingga Dosma menduga, bunuhdiri hanya rekayasa para pelaku. "Ada saksi yang melihat live itu, di situ itu. Saya tegaskan, ada orang di ruangan itu. Jadi ada satu setting-an di mana itu seakan-akan bunuh diri," kata Dosma.

Dosma menilai, jika dugaan itu bisa dibuktikan polisi, maka inilah modus baru pembunuhan. Pelaku merekayasa, seolah-olah korban bunuhdiri, gantung diri. Dan, disiarkan di TikTok.

Dosma: "Selain itu, akun TikTok korban sudah di-log out oleh terduga pelaku. Riwayat percakapan di handphone korban, pun sudah tidak ada. Kami duga dihapus oleh orang yang diduga membunuh korban."

Dilanjut: "Di handphone korban ada nomor kontak, panggilan telepon di tanggal 2 September 2021 ke bawah (dan sebelumnya). Itu nggak ada. Semua dihapusin. Karena sebelum polisi datang, ada jeda waktu tiga jam (dari saat kematian). Juga ada seseorang yang mengakui dia menghapusin."

Di lokasi kejadian juga ada botol bekas minuman, Yang kini masih diselidiki laboratorium polisi. Sisa isi minuman masih ada. Cairan itulah yang diteliti.

Sebaliknya, polisi meyakini bahwa korban Sofian, berada sendirian di rumahnya saat peristiwa kematian Sofian.

Kapolsek Jatinegara, Kompol Yusuf Suhadma kepada pers melalui video, Sabtu (18/9/21) menegaskan: "Korban berada sendirian saat kejadian. Tidak ada orang lain."

Tidak sinkron dengan keterangan kuasa hukum keluarga Sofian, Dosma. Tepatnya, bertolak belakang. 

Walaupun, Kapolsek Jatinegara tidak merinci, apakah Sofian sendirian selama empat jam sepanjang pembuatan film (seperti keterangan Dosma) ataukah hanya di saat detik-detik terakhir hidupnya. Atau 1 detik video yang diunggah di TikTok, itu.

"Kami belum menyimpulkan, apakah ini pembunuhan atau bukan," kata Kompol Yusuf. "Kalau dugaan pembunuhan, ya. Baru diduga. Belum dipastikan. Kami masih melakukan penyelidikan."

Repotnya, ada dua hal. Pertama, bukti film di TikTok sudah terhapus. Bahkan, akun TikTok Sofian sudah dihapus juga. 

Mungkin, Polri selaku penyidik kriminal meminta pihak penyelenggara TikTok, Byte Dance di China, untuk melihat kembali video yang sempat viral itu. Tentu membutuhkan waktu terkait birokrasi dengan pihak China.

Kedua, jenazah Sofian langsung dimakamkan, beberapa saat setelah ditemukan meninggal dunia. Pihak keluarga tidak mengizinkan dilakukan otopsi, atau bedah mayat.

Sehingga, tidak bisa diketahui berbagai hal. Misalnya, apakah Sofian meminum sesuatu sebelum meninggal, karena ditemukan botol berisi cairan di TKP. Juga, penyebab kematian. Apakah ia meninggal akibat jeratan di leher, atau sudah meninggal sebelum gantung leher.

Uniknya, mengapa pihak polisi dengan pengacara keluarga korban seolah tidak bekerjasama mengungkap ini. Mereka seolah berseberangan. Seandainya mereka bekerjasama, tentu akan memudahkan pengungkapan kasus. 

Asumsi netral, TikToker mengunggah konten, pasti bertujuan panjat sosial. Menarik followers. Tapi, kalau pemilik akunnya mati, lantas pansos untuk kepentingan siapa? (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.