Korban Kasus di KPI Mau Mengungsi

 

KPI

Heboh ‘buah zakar dicoreti spidol’ di KPI, menukik lagi. MS (korban) menukik tujuh pelaku. Ia mencegah warganet mem-bully para pembully itu. "Kasihan," katanya. Tukikan unik.

MS bersurat ke warganet se-Indonesia, tertanggal 5 September 2021. Dibenarkan pengacaranya, Muhammad Mualimin: “Ini untuk publik,” ktany kepad pers, Minggu (5/9/21). Isinya empat paragraf, begini:

“Netizen seluruh Indonesia sudah saya anggap keluarga sendiri. Melalui surat ini, saya memohon netizen tidak berkomentar negatif dan menampilkan identitas keluarga pelaku bullying dan kekerasan seksual.

Tetap berfokuslah terhadap kasus saya dan pelakunya. Saya sebagai manusia mempertimbangkan segala aspek, etika dan nilai-nilai kemanusiaan. 

Saya khawatir keluarga pelaku, seperti; istri, anak dan orang tuanya mendapatkan dampak psikis atau trauma berkepanjangan seperti yang saya alami. Apalagi, anak dari pelaku. Masa depan Indonesia berada di tangan generasi berikutnya.

Demikian, surat ini, saya tulis atas inisiatif saya sendiri tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak mana pun.”

So cute…Sopan dan bijak. Ataukah ia takut? 

Mengingat, sudah sembilan tahun MS mengaku dipersekusi tujuh teman kerjanya. Dipegangi, ditelanjngi, buah zakar dicoreti spidol, difoto, disoraki hore. Sampai, MS mengaku mengidap PTSD (post-traumatic stress disorder).

“Ia takut sekali,” kata pengacara MS, Muhammad Mualimin kepada pers. “Malah, ia sudah mengajak saya mengungsi ke LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).”

MS takut, terduga pelaku balas dendam. Akibat kasus ini diungkap. Nama tujuh terduga pelaku sudah diungkap MS. Tapi, lanjut Mualimin, tak lama setelah MS mengajaknya mengungsi, datanglah komisioner KPI dan polisi. MS ditenangkan.

"Jadi, ia merasa tidak mungkinlah ada hal-hal tertentu yang menimpa dia," jelas Mualimin. “Malam itu banyak orang bertamu ke rumahnya.”

Ada cerita lain. "Menurut MS, sewaktu ia diperiksa polisi, tiba-tiba polisi memfasilitasi kuasa hukum. MS langsung disuruh membaca surat kuasa sebentar, lalu diminta tanda tangan," cerita Mualimin.

MS tanda tangan. Tapi dua hari kemudian, Jumat (3/9/21) membatalkan surat kuasa. Mengalihkan kuasa hukum ke Mualimin. “Karena saya kenalan baiknya,” ujar Mualimin.

Korban kejahatan, takut pada pelaku. Adalah universal. Lazim. Se-dunia.

Disertasi gelar doktor sosiologi, Phillip James Stevenson, mengulas detil itu. Judulnya: “Exploring Justice for Crime Victims: Characteristics and Contexts of Crime Victims' Experiences with the Criminal Justice System”.

Dipublikasi di jurnal Loyola University Chicago, Amerika, 28 Agustus 2011. Sekilas paparannya, begini:

1982, Presiden AS, Ronald Reagan memerintahkan eksekutif membentuk Gugus Tugas Korban Tindak Pidana. Tugasnya, meninjau viktimisasi kriminal. Mewawancarai korban kejahatan dari seluruh negara bagian. Melibatkan profesional dalam perlindungan korbn kejahatan.

Latar belakangnya, terjadi peningkatan jumlah kasus kejahatan dalam dua dekade terakhir (waktu itu) di sana. 

Dari 3.384.200 kasus pada 1960 menjadi 13.423.800 pada 1981 (Data: Federal Bureau of Investigations, Uniform Crime Reports). Melonjak empat kali lipat.

Setiap 23 menit, seseorang dibunuh. Setiap enam menit, seorang wanita diperkosa. Setiap menit, dua pelecehan seksual. 

Sebelum 1982, penyidik kriminal hanya fokus pada pelaku kejahatan. Mengabaikan belasan juta korban kejahatan yang ketakutan. Dan, lebih dari separo korban kejahatan di-balas-dendam penjahatnya, setelah bebas penjara.

Sebagaimana lagu kebangsaan Amerika, The Star-Spangled Banner. Di bagian akhir refrain: "O'er the land of the free... and the home of the brave...."

Ternyata, korban kejahatan ketakutan.

Asumsi publik: Ada ketidakseimbangan serius, antara hak-hak pelaku kejahatan (didampingi pengacara, diperlakukan sesuai HM) dengan hak-hak korban kejahatan. Yang dibiarkan begitu saja. Jadi korban kejahatn berulang. Oleh pelaku dan korban yang sama.

"Kesadaran akan bahayanya mempengaruhi cara kita berpikir, di mana kita tinggal, kemana kita pergi, apa yang kita beli, bagaimana kita membesarkan anak-anak kita, dan kualitas hidup kita, seiring bertambahnya usia." (Disertasi kandidat doktor Phillip James Stevenson).

Sejak perintah Presiden Reagan itu, Satgas bekerja. Serius pastinya. Juga didukung dana besar. Dikelola Office for Victims of Crime (OVC). Di bawah Departemen Kehakiman. Didukung International Monetary Fund.

Dana dihimpun dari para pelaku kejahatan. Berupa denda, perampasan harta, sita aset, uang pengganti. Ditambah dana negara.

1986 hingga 2003 tersalurkan lebih dari USD 4,2 miliar. 2004 hingga 2009 naik jadi lebih dari USD 5 miliar. Atau USD 1 miliar per tahun.

Hasilnya: Sejak awal 1990 setiap negara bagian memberlakukan undang-undang hak korban kejahatan. Sekitar setengah UU tindak pidana diamandemen. Memasukkan hak-hak korban kejahatan.

Di perluasan hak dan perlindungan hukum kepada korban kejahatan, filosofi keadilan bergeser. Muncul inovasi. Restorative justice system. Keadilan restoratif. Seperti dicanangkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, di awal jadi Kapolri.

Lalu, bagaimana Polri bertindak di kasus MS? 

Polisi sudah memintai keterangan seorang saksi, pekan lalu. Juga memanggil lima terlapor (bukan tujuh orang, seperti disiarkan MS). Untuk hadir di Polres Jakarta Pusat. 

Kapolres Jakarta Pusat, AKBP Setyo Koes Heriyanto kepada pers, Kamis (2/9/21) mengatakan: "Untuk pemanggilan hari Senin (6/9/21) akan dilakukan pemanggilan."

Buat msyarakat, bisa saja menganggap MS penakut. Tapi, seandainya Anda jadi korban kejahatan oleh sekelompok pelaku, pasti jiper juga. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.