Kebakaran Lapas, Soal Kunci Sel

 

Lapas Tangerang kebakaran

Kebakaran di LP Tangerang, Rabu (8/9/21) cuma 1,5 jam. menewaskan 44 narapidana. Karena, sel napi terkunci. "Kalau tak dikunci, salah prosedur," kata Menkum HAM, Yasonna Laoly kepada pers, Kamis (9/9/21).

Soal kunci sel, Yasonna menjawab pertanyaan wartawan. Karena semua Napi tewas terpanggang dalam sel. Lah, kalau sel tak dikunci, Napi kabur semua. 

Peristiwa pukul 00.45 dini hari. Saat mayoritas napi dan penjaga tidur. Damkar memadamkan api sekitar pukul 04.00.

Kronologi dipaparkan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, begini:

Pukul 00.45 penjaga penjara di menara melihat ada kepulan asap di Blok C. Lalu menelepon petugas jaga di bawah. Ternyata api muncul di Blok C II. Di situ ada 7 sel, yang dihuni napi narkoba.

Yusri: "Masing-masing blok itu jaraknya 50-100 meter. Di blok itu ada C1 dan C2. Yang terbakar adalah C2 isinya 122 orang napi."

Dari 122 napi tersebut, 44 tewas, 73 luka ringan, dan 5 luka berat. Yang tewas langsung 41, kemudian bertambah 3.

Dilanjut: "Yang luka berat ke RSUD, yang meninggal juga dibawa ke RSUD untuk diidentifikasi. Yang 73 di poliklinik lapas."

Menkum HAM, Yasonna Laoly menyampaikan, dua yang tewas warga negara Afrika Selatan dan Portugal.

Yasona: "Datanya, satu korban meninggal adalah warga binaan kasus terorisme, satu tindak pidana pembunuhan, sementara lainnya narkoba."

Lapas Kelas I Tangerang saat kebakaran berisi 2.069 napi dan tahanan. Kapasitas 600 orang. Total penjaga 13 orang untuk 4 blok di sana. "Penghuni over-kapasitas 400 persen," kata Yasonna.

Dugaan sementara penyebab, korsluiting listrik. Lapas berdiri 1972, dan sudah dua kali penambahan daya listrik. Tapi instalasi listrik belum pernah direnovasi. Sudah 49 tahun.

Semua Lapas di Indonesia tidak diantisipasi kebakaran. Tidak ada latihan atau simulasi kebakaran, baik bagi penjaga, apalagi bagi napi. Sebab, kalau latihan kebakaran, napi bisa lolos, dan kabur.

Dikutip dari Office of Justice Programs (OJP), Departemen Keadilan Amerika serikat, penjara di Amerika pun tidak ada simulasi kebakaran untuk napi.

Hasil riset OJP pada 2010, dari 54 penjara di satu negara bagian Amerika (tidak disebut nama) bahwa 61 persen penjara tidak punya jalan keluar kedua. Artinya seperti komplek perumahan cluster, satu pintu gerbang.

Penjara dengan satu pintu, mengantisipasi kemungkinan napi kabur. Pemerintah lebih fokus meminimalisir napi kabur, dibanding memikirkan kemungkinan terjadi kebakaran.

Bahkan, dari penjara yang diriset, 28 persen tidak punya sistem deteksi alarm api dan asap. Juga 41 persen tidak pernah latihan kebakaran. Baik bagi penjaga, apalagi napi. Seandainya kebakaran, ya... nasib sial napi.

Namun, sejak sekitar lima tahun lalu, mayoritas penjara di Amerika sudah dilengkapi smoke detector. Yang nempel di banyak plafon. Punya sensor, jika ada asap dalam volume tertentu, segel akan pecah otomatis. Lalu air memancar berputar, sampai persediaan air di tandon habis.

Di Indonesia, smoke detector hanya ada di hotel-hotel dan kantor-kantor. Bukan untuk penjara.

Setelah kebakaran Lapas Tangerang, Kanwil Kemenkumham Bali meminta, instalasi listrik di Lapas dan rumah tahanan (rutan) di Bali dicek.

Kakanwil Kemenkumham Bali, Jamaruli Manihuruk dalam keterangan video, Rabu (8/9/2021) mengatakan: "Kami sudah mengingatkan soal listrik. Terutama Lapas yang overkapasitas, perlu antisipasi."

Tidak ketinggalan, Kalapas Banyuwangi, Wahyu Indarto langsung memeriksa ke blok-blok hunian, Kamis (9/9/21).. Satu per satu instalasi listrik dicek. Beberapa kabel usang pun diganti. 

Wahyu kepada napi mengatakan: "Jika ada kabel yang rusak atau mengalami korsleting, segera hubungi petugas, ya..." 

Kontan, Napi yang diberitahu manthuk-manthuk. Entah, apakah berarti siap, ataukah ia ngeri membayangkan kebakaran.

Tapi, beginilah hebatnya pegawai Indonesia. Jika ada suatu peristiwa, cepat tanggap. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.