Heboh Buah Zakar di Kantor KPI

 

bully

“Buah zakar saya sering dicoreti spidol, difoto rame-rame,” tulis MS, pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat ke pers, Rabu (1/9/21). “Terpaksa saya lapor Presiden Jokowi. Lapor polisi dua kali dicuekin.”

Heboh, sejak dua hari lalu. Penulis mengkonfirmasi Komisioner KPI Pusat, DR Yuliandre Darwis, Kamis (2/9/21). Yuliandre membenarkan kasus itu. Petinggi KPI masih menyelidiki detilnya.

“Tadi pagi kami rapat di Bogor. Mengklarifikasi tujuh pria yang dilaporkan sebagai pelaku,” kata Yuliandre kepada Penulis. “Luar biasa, konfirmasi sampai ke buah zakar segala.”

Yuliandre tidak mengungkap hasil pemeriksaan internal KPI. Ia cuma membenarkan, kasus itu ada. Hasil rapat di Bogor masih dibahas internal lagi. Lalu, diumumkan Ketua KPI Pusat, Agung Suprio.

Belum diketahui, apakah tujuh pelaku pria itu gay semua, atau hanya sebagian. Pria menonton buah zakar pria lain, sampai detil mencoreti dengan spidol, dan senang, hingga bersorak, sangat mungkin gay.

Kasus ini muncul, dimulai dari pesan WhatsApp (WA) tulisan MS. Dikonfirmasi pers, MS mengakui ia penulisnya. Ia korban. 

MS cerita, pelecehan seksual terhadapnya sejak 2012. Pelaku beberapa orang (tidak disebut jumlah, tapi KPI memeriksa tujuh orang). Sudah lapor polisi, nihil. Lapor Komnas HAM, disuruh balik lapor polisi. Lapor polisi lagi, nihil lagi. 

Akhirnya, MS lapor Presiden Jokowi. Dikiranya, itulah aparat hukum tertinggi Indonesia. Ia juga menyebarkannya via WA. Ada adegan telanjang, buah zakar, difoto, disoraki ramai-ramai. Tak pelak, jadi viral. Dikonfirmasi pers, jadi heboh.

MS punya isteri, punya dua anak. Ia pegawai kontrak di KPI sejak 2012. Bertugas di Divisi Visual Data KPI Pusat. 

Ada kemungkinan MS bohong. Mungkin saja. Tapi kepada pers, ia merinci upayanya lapor-lapor. Mulai dari lapor atasan, polisi, Komnas HAM, sampai menyurati Presiden Jokowi. 

Benarkah Polsek Gambir Abai?

MS mengaku, dilecehkan beberapa orang rekan kerja sejak 2012. Lama-lama, pelaku jadi banyak. Ia lapor ke atasan langsung. Lalu ia dipindah ke divisi lain, kantornya tetap di situ. Para pelaku tetap saja melecehkannya.

2017 MS melapor ke Polsek Gambir, Jakarta Pusat. “Polisi bilang, lebih baik laporkan ke atasan. Saya bilang, sudah beberapa kali, pak. Polisi bilang, lapor atasan lagi,” kata MS saat dikonfirmasi pers, Rabu (1/9/21).

MS mengaku stress berat (disebut depresi). Maka, 8 Juli 2017 ia periksa ke RS Pelni Petamburan, Jakarta Barat (ia nyatakan, siap bukti tanda bayar RS). Setelah diperiksa endoskopi, hasilnya: MS mengalami hipersekresi cairan lambung. 

Ia diwawancarai dokter, karena penyebab hipersekresi biasanya akibat depresi. Ia ceritakan semuanya. Kemudian disarankan dokter, periksa ke psikiater RS Sumber Waras, Tomang, Jakarta Barat. “Saya ke sana. Diberi banyak obat penenang,” kata MS.

11 Agustus 2017 MS melapor ke Komnas HAM. Komnas menyarankan MS lapor ke polisi, lagi. MS mengaku, percuma lapor polisi, sudah tak ditanggapi.

Dikonfirmasi pers, Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, mengatakan: "Yang bersangkutan (MS) mengadu ke Komnas HAM via email sekira Agustus atau September 2017. Dari analisa aduan, korban disarankan untuk melapor ke polisi, karena ada indikasi perbuatan pidana.”

Pada 2020, MS mengaku, balik lapor ke Polsek Gambir lagi. Tapi sia-sia. "Petugas tidak menganggap cerita saya. Petugas malah mengatakan, 'Begini saja, Pak, mana nomor orang yang melecehkan bapak, biar saya telepon orangnya'," kata MS. Maksud polisi, mendamaikan via telepon.

Sedangkan, MS berharap polisi mengusutnya. Jika pelaku ditelepon polisi begitu, MS takut para pelaku bakal ngamuk padanya.

"Saya tidak ingin mediasi. Saya takut jadi korban balas dendam mereka. Saya ingin polisi mengusutnya," kata MS.

Kapolsek Gambir, AKBP Kade Budiyarta dikonfirmasi banyak wartawan. Tapi, konfirmasi belum berhasil. “Sejak pagi, Kapolsek tidak bisa kami hubungi,” tulis media massa CNN Indonesia, Kamis (2/9/21).

Bagaimana sih, kondisi kantor KPI Pusat, sehingga terjadi pelecehan seks serius begitu? 

Komisioner KPI, Yuliandre Darwis kepada Penulis, menjawab pertanyaan tersebut: “Seperti pernah Anda lihat, ruang kerja kami terbuka, tanpa sekat.”

Kantor KPI Pusat di Jalan Djuanda nomor 36, Jakarta Pusat. Hanya ratusan meter jaraknya dengan Istana Negara. Kondisi penataan ruang kerja modern. Meja-meja kerja ditata, tanpa sekat. Antar pegawai bisa saling melihat.

Hanya ruang kerja unsur pimpinan, di dalam ruang. Antara lain, ruang kerja ketua, wakil dan para komisioner. “Saya di ruangan tersendiri. Tidak sempat menyaksikan gerak-gerik mereka di ruang tanpa sekat,” kata Yuliandre.

Dalam perkembangannya, Kamis (2/9/21) petang, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, menjelaskan kepada pers, pihaknya tidak pernah menerima laporan korban, sampai kasus ini menghebohkan.

"Keterangan awal pertama, korban tidak pernah buat rilis tersebut," kata Kombes Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/9/2021).

Polisi telah mendatangi kediaman MS untuk dimintai keterangan. Dalam keterangannya, MS membantah pernah membuat rilis yang tersebar luas sejak Rabu (1/9/21).

"Korban juga tidak pernah datang ke Polsek Gambir untuk buat laporan polisi. Tapi memang ada kejadian itu di tahun 2015. Tepatnya 22 Oktober 2015 di kantor KPI Pusat," ungkap Yusri.

Menurut Yusri, MS baru melapor ke Polres Jakarta Pusat pada Rabu (1/9/21). Polisi langsung mengusut kasusnya.

Saat ini ada lima orang terlapor, diduga melakukan pelecehan seksual ke MS. Mereka berinisial RM, FP, RE, EO, dan CL. Kelima orang itu diduga berperan dalam melakukan tindakan pelecehan kepada korban.

"Kelima terlapor tersebut saat itu (sewaktu kejadian) masuk ke ruang kerja, kemudian para terlapor langsung pegang badan, kemudian lakukan hal tidak senonoh," jelas Yusri. Kini kasusnya diproses. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.