Bekuk Teroris, Polri Dikritik

 

Terorist

Penangkapan 4 terduga teroris, Jumat (10/9/21) biasa saja. Komentar pengamat Ridlwan Habib, membuat deg-degan. Katanya, itu bisa memicu balas dendam. Juga, bukti deradikalisasi gagal. Warning plus kritik.

Empat terduga teroris ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri di Jakarta dan Bekasi, Jumat (10/9/21). 

Kepala Bagian Penerangan Umum, Divhumas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, kepada pers Sabtu (11/9/21) mengatakan: "Total empat tersangka teroris ditangkap kemarin." Tiga di Bekasi, seorang di Jakarta Barat.

Inisialnya, MEK, S, SH dan AR alias T. Semuanya jaringan Jamaah Islamiyah (JI).

Penangkapan di kurun waktu pukul 05.30 sampai 08.00 WIB, tiga ditangkap yakni MEK, S dan SH. Nomor empat AR alias T pada 15.35 WIB di Perumahan Griya Syariah 2 Blok G, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Bekasi.

"Keterlibatan AR sebagai dewan syuro Jamaah Islamiyah di masa Amir Parawijayanto," kata Ramadhan.

AR residivis teroris. Pernah ditangkap pada 2004, karena menyembunyikan Ali Gufron alias Mukhlas, tersangka bom Bali 1, 2002. Ia dihukum 3,5 tahun, bebas 2017.

Dengan keterangan itu, berarti AR alias T adalah Abu Rusydan alias Thoriqudin.

Menanggapi itu, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib dalam siaran pers, Minggu (12/9/21) menyatakan:

"Kalau betul AR alias T yang ditangkap polisi adalah Abu Rusydan, berarti itu penangkapan yang sangat serius. Ini figur yang sangat terkenal di kelompoknya." 

Dilanjut: "Abu Rusydan berlatih militer di Camp Sadda Pakistan dan sempat berinteraksi langsung dengan Osama Bin Laden. Ia pernah dihukum karena menyembunyikan  pelaku Bom Bali, Mukhlas."

Lanjut: "Setelah bebas, Abu Rusydan berdakwah keliling Indonesia dan sangat populer di Youtube."

Lanjut: "Tokoh senior ini banyak murid online-nya yang dalam istilah kontra-terorisme disebut lone wolf."

Analisis Ridlwan, itu bisa menimbulkan aksi balas dendam. Yang ia sebut sebagai lone-wolf. Contoh terbaru lone-wolf: Zakiah Aini (25) yang ditembak mati, karena menerobos Mabes Polri, Rabu sore, 31 Maret 2021.

Pernyataan Ridlwan itu, selain warning kepada Polri, juga menggalaukan publik. Sasaran teroris, kan publik. Bisa juga ditafsirkan, mengompori teroris, yang belakangan mulai padam.

Walaupun, mungkin juga dimaksudkan Ridlwan, agar polisi lebih waspada. Ia cinta Polri. Tapi, menasihati polisi soal teroris, 'kan mirip mengajari bebek berenang.

Residivis Teroris Abu Rusydan, disebut Ridlwan, punya banyak pengikut di Youtube. Ceramah-ceramahnya digemari publik. Yang paling terkenal, berjudul Pancasila Bukan Islam".

Ridlwan: "Polri harus segera menghapus ceramah-ceramah Abu Rusydan."

Tapi sampai Minggu (12/9/21) petang, video "Pancasila Bukan Islam" masih ada di Youtube. 

Diunggah channel Manjaniq Media, 12 Juli 2018. Berdurasi 5 menit 08 detik. Jumlah penonton 2.644 views per Minggu (12/9/21). Like 33, unlike 2. Sedangkan jumlah subscribers channel itu 2,07 ribu. 

Data sosmed tersebut menunjukkan, unggahan video "Pancasila Bukan Islam" sangat tertonton. Jumlah penonton melebihi jumlah subscribers. Tapi jumlah like 0,32 persen dari jumlah penonton.

Apa isinya? Tidak ada film. Hanya ada foto pria berpipi gemuk, yang diberi tulisan: Ustadz Abu Rusydan, Pancasila Bukan Islam. Dan, suara pria berceramah. 

Dibuka begini: "Saya pengen mengoreksi sedikit. Pemahaman yang berkembang di sebagian masyarakat Islam."

Dilanjut: "Bahwa Ketuhanan yang Maha Esa di Pancasila itu tauhid. Pancasila bukan Islam. Islam bukan pancasila. Jangan hanya karena, mobil itu berkaki empat, dan meja berkaki empat, maka Anda mengatakan bahwa meja adalah mobil."

Ceramah itu main analogi. Mobil dan meja. Pemilihan analogi yang terlalu sederhana. "Jangan menganggap bahwa, meja sama dengan mobil". Orang model apa yang menganggap, itu sama? Analogi yang tidak analog.

Barangkali, karena kesederhanaan itu, sehingga unggahan tersebut belum diblokir dari Youtube. Dianggap tidak bahaya. Atau, mungkin saja karena kelalaian.

Satu lagi, Ridlwan mengkritik (ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme - BNPT) bahwa terbukti, deradikalisasi gagal. Buktinya, Abu Rusydan yang pernah dipenjara sebagai teroris, ternyata ditangkap Densus 88 lagi. 

Ridlwan: "Selama belasan tahun, Abu Rusydan bebas tanpa ada keberhasilan pemerintah menundukkan ideologinya."

Berdasar asumsi, teroris dibentuk melalui brainwashing. Cuci otak. Brainwashing bisa positif, bisa negatif. Pembentukan teroris adalah yang negatif. Sehingga teroris merasa: Membunuh manusia dibolehkan. 

Pemateri brainwashing itulah penjahatnya. Teroris hanya korban agitasi, yang kemudian jadi pelaku di lapangan. Bom bunuhdiri. Sedangkan, pemateri membentuk pelaku baru lagi.

Kadar kontaminasi pemikiran, hasil suatu brainwashing, berkelas-kelas. Ada kelas tinggi, menengah, rendah.

Deradikalisasi adalah kontra brainwashing negatif terhadap teroris. Atau, pemikiran teroris dikembalikan ke kondisi semula. Bahwa membunuh manusia adalah kejahatan. 

Terkait analogi "Meja dan Mobil", bisa ditafsirkan bahwa tingkat kontaminasi Abu Rusydan tergolong sederhana. Kelas rendah. Toh, itu pun masih gagal deradikalisasi. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.