Vaksinasi DKI Sukses, Kecuali Kelelawar

vaksin kelelawar

 Rumah orang Jakarta yang belum divaksin, ditandai stiker. Lalu didatangi vaksinator, door to door. Yang tinggal 1,9 persen dari 9 juta penduduk. Padahal, menurut WHO, herd imunity tercipta minimal 70 persen.

Tapi itu data suntikan dosis pertama, per Jumat (13/8/21). Sedangkan dosis kedua tercapai 42,7 persen. 

Tapi, dengan itu Jakarta pelopor vaksinasi Indonesia. Yang sebelum HUT Kemerdekaan RI nanti, diperkirakan dosis pertama 100 persen, dosis kedua 50 persen.

Pelaksana vaksinasi keroyokan. Selain petugas Dinkes yang didukung dokter dan paramedis, juga TNI, BIN, Polri, bahkan ketua RT - RW. Semua bahu-membahu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, soal pemasangan stiker di rumah-rumah dilakukan para pengurus RT.

"Selanjutnya, vaksinator door to door ke mana rumah yang tertempel stiker," kata Yusri dalam keterangan pers, Jumat (13/8/2021).

Itu karena vaksinasi di gerai mulai sepi. “Ada orang yang nggak bisa jalan, maka kami jemput bola dengan door to door," ujarnya. 

Program itu dilaksanakan aparat Polda Metro Jaya dengan nama program Vaksinasi Merdeka. Menyambut HUT kemerdekaan RI. Juga, supaya masyarakat merdeka dari belenggu pandemi Corona.

Sampai dengan Jumat (13/8/21) tinggal sekitar 180 ribu warga DKI dari total 9 juta populasi. Sedangkan, kemampuan vaksinasi selama ini sekitar 250 ribu suntikan per hari. 

Jika melihat data tersebut, seolah sisa 180 ribu orang itu bisa divaksin tak sampai sehari. Tapi, tidak bisa dipukul rata begitu. Sebab, warga yang belum tervaksin lokasinya terpencar.

Misalnya, di RW 07 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tersisa 261 orang belum tervaksin.

Penanggung jawab, Kapolsek Kebayoran Lama, Kompol Donni Bagus Wibisono. “Data itu belum dikurangi orang yang tidak bisa divaksin. Antara lain, karena isoman, berpenyakit gula, asma, dan lain-lain jumlahnya 30 orang,” kata Kompol Donni.

Sedangkan, Pelaksana tugas Asisten Kesejahteraan Rakyat, Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Suharti, menyatakan kemampuan vaksinator naik pesat pada Agustus dibanding bulan lalu. “Kini kemampuan total petugas sekitar 250 ribu suntikan per hari. Bulan lalu 100 ribu,” katanya.

Itu terjadi akibat bantuan banyak pihak, juga penambahan vaksinator. Antara lain, dari para mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Juga merekrut paramedis dari berbagai rumah sakit.

Fokusnya kini adalah suntikan kedua untuk 57,3 persen dari populasi 9 juta orang. Atau masih sekitar 4,4 juta orang belum disuntik kedua. 

Untuk mempercepat, beberapa mal yang sudah dibolehkan buka, akan menyediakan ruang vaksinasi. Pengunjung harus sudah tervaksin, dengan bukti surat. Sedangkan yang belum (dosis kedua), akan langsung disuntik di mal.

Baca Juga: Pandemi Corona Masih Lama

Itu data warga DKI usia 17 tahun ke atas. Sedangkan, untuk usia 12 - 17 tahun, masih belum banyak hasilnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia dalam pernyataan tertulis Kamis (12/8/21) mengatakan:

Untuk usia 12-17 tahun, jumlah tervaksin dosis pertama 74,6 persen. Sedangkan, dosis kedua 13,8 persen. 

Kelompok lansia, tervaksinasi dosis pertama 84,0 persen. Sedangkan,  dosis kedua 71,2 persen. 

Baca Juga: Babak Ending Drama Rp 2 T

Tapi, gaya lama birokratis tetap ada. Di kondisi gawat-darurat begini, masih saja diterapkan birokrasi vaksinasi. Meskipun pendaftaran sudah dilakukan online melalui aplikasi JAKI (Jakarta Kini).

Syarat vaksinasi: Warga ber-KTP DKI Jakarta. Atau, warga ber-KTP non DKI Jakarta, tapi berdomisili di DKI (wajib membawa keterangan domisili diperoleh dari RT). Atau, pekerja di DKI bukan warga DKI, wajib membawa surat keterangan dari tempat kerja.

Syarat surat-surat, seolah tidak bisa lepas dari budaya Indonesia yang terkenal dengan uang tips. Padahal, jangankan manusia. Kelelawar pun, bisa menularkan virus Corona. 

Sehingga kelelawar tak bisa divaksinasi, karena tak punya surat. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.