Sekolah Lagi, Setelah ‘Libur’ 17 Bulan

 

sekolah lagi

Pelajar Jakarta sudah merdeka. Masuk sekolah lagi mulai Senin (30/8/21) hari ini. Setelah 17 bulan belajar di rumah. Pasti, menggembirakan. Ataukah mengkhawatirkan?

Yang jelas, 610 sekolah mulai TK sampai SMA di Jakarta mulai pembelajaran tatap muka (PTM), Senin hari ini. 

Itulah PTM pertama. Dari target PTM 8.900 sekolah di Jakarta, mulai awal November 2021. 

Pasti dengan banyak syarat. Prokes ketat. Bisa dibatalkan sewaktu-waktu, jika dinilai berpotensi penyebaran virus Corona.

Kasubag Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taga Radja Gah kepada pers, Minggu (29/8/21) mengatakan:

"Ini PTM terbatas tahap satu (610 sekolah). Secara bertahap, pada akhirnya seluruh sekolah mengikuti PTM terbatas. Target kita November 2021, sekolah Dinas Pendidikan saja 8.900-an sekolah. Belum ditambah sekolah data Kemenag (Madrasah).” 

Kapasitas ruang kelas maksimal 50 persen. "Kapasitas tetap. Kan ini PTM terbatas. Ini hanya penambahan jumlah peserta saja," katanya.

Pokoknya, kebijakan ini pasti disambut gembira semua pihak. Terutama pelajar. Yang sudah 17 bulan setengah libur.

Pelajar ‘dirumahkan’ sejak 24 Maret 2020. Sesuai Surat Edaran Mendikbud nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Diteken Mendikbud 24 Maret 2020.

Sejak itu belajar online. Umumnya kurang efektif. Karena berbagai alasan.

Pelonggaran ini terkait penurunan penyebaran virus Corona di Indonesia. Berdasarkan data resmi, penambahan kasus per Minggu (29/8/21) pukul 12.00 tercatat 7.427. Jumlah sembuh 16.468, Meninggal 551.

Total 4.073.831 kasus yang terdeteksi. Dari jumlah itu, 3.724.318 di antaranya sembuh dan 131.923 meninggal dunia.

Amuk Corona menurun. Bandingkan dengan pertengahan Juli 2021 yang mencapai puncaknya. Penambahan lebih dari 54 ribu kasus per hari. Dengan jumlah kematian lebih dari 2.000 per hari.

Pengetatan pergerakan manusia selama ini, berdampak penutupan banyak perusahaan kelas menengah dan kecil. Menimbulkan PHK. Daya beli turun. Ekonomi lesu. Tapi, tidak pada semua warga.

Terbukti, Sabtu(28/8/21) jalur Jakarta - Puncak, macet parah. Deretan mobil pribadi bernomor B, berderet. Warga rekreasi ke Puncak. 

Esoknya, Minggu (29/8/21) lalu lintas di jalur itu macet lagi. Arus balik ke Jakarta. Kemacetan mulai Puncak Pass sampai toko Cimory. Waktu tempuh dari Puncak Pass ke pintu tol Jagorawi yang normalnya sekitar sejam, kemarin jadi sekitar empat jam.

Berarti, daya beli masyarakat (yang rekreasi ke Puncak) tidak terdampak Corona. Tidak terkoreksi. Tidak turun. Atau, turun tapi tidak signifikan.

Kondisi itu menandakan awal kemerdekaan masyarakat dari belenggu Corona. Baru bangun tidur. Belum menggeliat.

Tapi, bukan berarti Corona usai. Penurunan jumlah kasus Corona itu, karena banyak wilayah yang belum terdekti. Warganya belum di-tes.

Dikutip dari laporan mingguan Kemenkes, Jumat (27/8/21), tertulis begini: "Diindikasikan, masih banyak kasus tak terlacak, tak terdiagnosa, dan terjadi kematian di rumah atau perjalanan menuju rumah sakit.”

Maksudnya, ada indikasi kuat bahwa kasus Corona tidak seperti yang tercatat resmi. Diduga, jumlah kasus lebih dari itu. Sampai berapa? Tak terlacak, tak terdiagnosa.

Epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman, kepada wartawan, Jumat (27/8/2021) mengatakan:

"Masih sangat banyak kasus yang tidak terdeteksi. Test positivity rate kita selalu di atas 10 persen. Padahal, jangankan lebih dari setahun, sebulan saja test positivity rate itu berdampak luar biasa pada masyarakat dan pada kematian.”

Positivity rate didapatkan dari: Jumlah kasus harian, dibagi jumlah pemeriksaan harian, lalu dikalikan 100. Misal, angka positivity rate 50 persen, berarti satu dari dua orang di wilayah itu positif Corona. Atau separo orang di situ kena Corona.

Terus, berapa nilai positivity rate Indonesia?

Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Pusat, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers, Kamis (26/8/21) mengatakan: “Positivity rate mingguan nasional periode 16-22 Agustus 2021 tercatat 18,15 persen. Bandingkan pada saat puncak pandemi 30,54 persen.”

Dilanjut: "Namun meskipun sudah turun, angka ini masih lebih tinggi dari sebelum lonjakan kasus kedua yaitu pada kisaran bulan Juni yang hanya 9,44 persen.”

Wiku menyebut, positivity rate di tingkat provinsi, angkanya masih perlu menjadi perhatian. Ada 10 provinsi yang positivity rate-nya masih di atas 30 persen. Atau, satu dari tiga orang di situ positif Corona.

Berapa angka positivity rate Jakarta? "Sekarang 11,7 persen. Bandingkan Aceh 51,5 persen, yang tertinggi di Indonesia," kata Wiku, Kamis (26/8/21).

Angka-angka itu membuat kita menahan napas. Mau gembira, tertahan.

Epidemiolog Dicky mengingatkan, Indonesia belum lepas dari Corona varian Delta. Jumlah kasus bakal melonjak, jika tidak dilakukan mitigasi.

Dicky: "Potensi lonjakan kasus baru, ada di pertengahan September ini kalau mitigasinya masih seperti ini.”

Apa komen pemerintah? Juru bicara Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi kepada pers, Sabtu (28/8/21) mengatakan:

"Potensi kenaikan kasus COVID-19 akan selalu ada dan kapan pun bisa terjadi. Kami terus berupaya menangani.”

Maka, gembira boleh. Tapi jangan berlebihan. Potensi lonjakan jumlah kasus Corona masih berada di depan. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.