Ketika Teroris Tak Lagi "Whaow..."

 

KKK=ISIS

Ratusan kali, dikatakan puluhan tokoh: “Terorisme tidak terkait agama”. Diulangi Kepala BNPT, Boy Rafli Amar kepada pers di Solo, Sabtu (28/8/21): “Taliban, Al Qaeda, ISIS kelompok kekerasan. Jangan ditiru.”

Mengapa harus diulang begitu sering? Bukankah, manusia cukup diberitahu sekali-dua? Manusia dewasa, maksudku.

Mungkinkah, itu terkait rerata lama sekolah rakyat Indonesia (data Badan Pusat Statistik, 2020, rata-rata lama sekolah Indonesia 8,7 tahun) yang berarti putus sekolah di kelas dua SMP?

Bisa terkait, bisa juga tidak. Dikatakan terkait, sebab keterdidikan kita memang selevel itu (kalau kita percaya BPS). Dikatakan tidak, karena merujuk teori marketing: Promosi produk, wajib  berulang-ulang. Minimal 26 kali, membaca, melihat, mengucap, nama produk. Supaya menempeli memori otak.

Tapi, kelakuan ISIS Khorasan di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, Kamis (26/8/21) malam, keterlaluan. 

Satu bom bunuhdiri di Abbey Gate. Satu bom di dekat Hotel Baron, dekat Bandara Kabul. Menewaskan 13 tentara Amerika dan 200 warga Afghanistan. Ditambah ratusan cacat, kehilangan anggota tubuh akibat ledakan.  

ISIS Khorasan, maksudnya ISIS cabang Khorasan. Nama wilayah di perempatan Afghanistan, Pakistan, Iran, Tajikistan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (27/8/21), yang mengutip Laporan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, ISIS-K dalam lima tahun terakhir sudah sembilan kali meneror warga Afghanistan. 

Ditarik waktu mundur, demikian urutannya:

8 Mei 2021, Horor Sekolah. Serentetan pengeboman di luar sebuah sekolah di Hazara, Kabul sebelah barat. Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut 85 orang tewas, mayoritas perempuan muda. Dan, lebih dari 300 orang lainnya terluka.

Diidentifikasi, Hazara banyak ditinggali warga Syiah di Afghanistan.

10 Mei 2021 (tiga hari jelang Idul Fitri) rentetan ledakan bom mengguncang distrik Dasht-e-Barchi, Afghanistan.

Tahun 2020, Pembantaian RS Bersalin. sejumlah pria bersenjata melepaskan tembakan brutal ke arah bangsal RS bersalin. Itu RS langganan penganut Syiah. Tercatat 25 orang termasuk 16 ibu dan bayinya, tewas.

17 Agustus 2019, Pembantaian Pesta Nikah. Bom bunuhdiri mengguncang aula pesta nikah di Kabul Barat. Tercatat 91 tewas dan 180 orang lainnya terluka. Ledakan bom menghancurkan atap gedung.

ISIS-K mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tersebut dan menyatakan bahwa pesta pernikahan itu menjadi target karena menjadi pertemuan banyak warga Syiah.

22 April 2018, Pengeboman Pemilu. Bom bunuhdiri meledak di pusat pendaftaran pemilih Pemilu di lingkungan warga Syiah di Kabul. Menewaskan 57 orang warga sipil dan lebih dari 100 terluka.

8 Maret 2017, Pembantaian RS Militer. Sejumlah pria bersenjata menyamar sebagai dokter, menyerbu rumah sakit militer terbesar di Kabul dalam serangan selama enam jam. 

Data resmi pemerintah Afghanistan menyebut 50 orang tewas, namun sumber keamanan RS setempat menyebut korban tewas melebihi 100 orang.

Pembantaian diawali ledakan bom bunuhdiri di pintu belakang rumah sakit. Disusul, beberapa pelaku masuk, memberondong tembakan ke para pasien, perawat dan pengunjung. Diakhiri ledakan granat.

20 Oktober 2017, Bom Bunuhdiri di Masjid Imam Zaman. Meledak saat jemaah menunaikan salat. Lokasi di lingkungan warga Syiah di Kabul bagian barat. Menewaskan 56 orang, melukai 55 termasuk wanita dan anak-anak.

28 Desember 2017: Ledakan di Pusat Budaya Syiah, Afghan Voice Agency di Kabul. Menewaskan 41 orang, melukai 84 orang lainnya. 

23 Juli 2016, Ledakan Saat Unjuk Rasa di Hazara. Dua ledakan di tengah kerumunan warga Syiah Hazara yang menggelar unjuk rasa di Kabul. Menewaskan 84 orang, melukai 320 orang.

Meskipun Komjen Pol Boy Rafli Amar menyatakan, bahwa teroris ISIS tidak terkait agama, tapi nama ISIS itu sendiri ada kata Islam.

Karena, teroris Ku Klux Klan (KKK) di Amerika pada 1920, juga dilakukan kelompok kulit putih agama Kristen. Juga disebutkan pemerintah setempat, bahwa pembantaian KKK tidak terkait agama.

Dikutip dari Columbia Jornalism Review, 2 Juni 2016, yang mengutip buku “The Invisible Empire in West: Toward a New Historical Appraisal of the Ku Klux Klan of the 1920s”, karya Shawn Lay, terbitan 2003, menggambarkan kekejaman KKK. 

Kebetulan, seperti halnya ISIS, kelompok KKK juga berjubah putih. Tapi, dengan tudung kepala, untuk menutupi wajah mereka.

Berdasarkan buku tersebut, kutipan KKK yang terkenal: “Waspadalah terhadap pergaulan dengan orang Negro, Yahudi, dan Katolik di komunitas kita.“

Dilanjut: “Tuhan tidak bermaksud agar semua manusia sama.”

Uniknya, bangsa Yahudi selalu dimusuhi bangsa lain. Selain diburu KKK untuk dibunuh pada 1920 - 1926, Yahudi juga dibunuhi tentara Nazi Jerman di tahun 1942.

ISIS dan KKK disimpulkan dalam satu kata: Intoleran. Sangat berbahaya bagi umat manusia. Bangsa apa pun, agama apa pun.

Komjen Boy, kepada pers, usai meninjau vaksinasi eks-narapidana terorisme di RSUD Bung Karno, Solo, Sabtu (28/8/21) mengatakan, kelompok intoleran ditindak tegas di Indonesia.

Ditanya, apakah pengeboman di Kabul dapat simpati di Indonesia?, Boy menjawab: "Penyelidikan intelijen (terkait ISIS-K) tetap berjalan, kan selama ini tanpa peristiwa Afghanistan kita terus melakukan penyelidikan potensi ancaman.”

Antara lain, melalui patroli cyber. Selain ISIS ataupun ISIS-K, Boy juga mengingatkan masyarakat agar tidak perlu terpengaruh dengan kelompok yang pro-kekerasan.

"Jangan terpengaruh, bagaimanapun Taliban, Al-Qaeda, adalah organisasi yang mengusung kekerasan. Ini tindakan yang tidak tepat buat kita sebagai bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila.”

Apakah patroli cyber menemukan simpatisan ISIS di Indonesia?

"Ada beberapa penemuan. Sifatnya bersimpati. Belum membahayakan. Sementara masih diawasi intelijen, belum masuk ke ranah-ranah yang melanggar hukum, kita ingatkan, kita imbau," jawabnya.

Tapi, secara umum Indonesia sudah relatif aman dari terorisme. Karena, para teroris sudah tidak dikagumi seperti dulu. Sudah tidak dielu-elukan dengan kalimat: “Whaow….”

Antara lain, karena ratusan kali, oleh puluhan tokoh, disebut sebagai: “Teroris tak terkait agama.” (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.