Jebakan Pandemi ke Jebakan Semut

 

“Indonesia masuk pandemic trap,” kata Epidemiolog, Pandu Riono, Sabtu 31 juli 2021. Karena, kendali tambal-sulam. Sehingga, sampai Presiden Jokowi habis masa jabatan pun, pandemi Corona masih ada.

Sebenarnya, kita bosan pendapat pesimistis. Sudah setahun setengah, Corona. Jutaan orang berteori di medsos.

Tapi, Pandu pakar epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Kredibel bicara pandemi.

Pandemic trap (jebakan pandemi) dipelajari di epidemiology. Intinya, penanggulangan pandemi yang salah. Muter-muter. Terjebak di puteran. Pendapat Riono disampaikan di Twitter, ditujukan ke Presiden Jokowi, lengkap dengan mention, begini:

"Pak @jokowi, Indonesia sedang menuju jalur Jebakan Pandemi (Pandemic Trap) yg semakin dalam dan semakin sulit bisa keluar dengan lebih cepat. Respon kendali tak bisa dg tambal-sulam spt sekarang. Pilihannya hanya satu, kendalikan pandemi dg 3T, Tes-tracing-treatment dan Vaksinasi," tulis Pandu di Twitter seperti dilihat, Jumat (30/7/2021).

Saat dikonfirmasi wartawan, Pandu menjelaskan lebih lanjut:

"Sampai sekarang kan kita belum berhasil mengendalikan pandemi. Nggak beres-beres. Nggak ada tanda-tanda bahwa kita akan berhasil pakai cara apapun. Artinya kita bisa lama sekali baru bisa menyelesaikan pandemi. Sampai, Pak Jokowi sudah berakhir masa jabatannya mungkin juga belum selesai," kata Pandu.

Saran Pandu 3 T: Tes-tracing-treatment plus vaksinasi. Sebenarnya sudah dilakukan pemerintah. Tapi, menurut Pandu belum benar.

Pandu membandingkan Amerika. Yang di zaman Presiden Donald Trump, juga masuk jebakan pandemi. Muter-muter terus. Sampai pandemi di sana parah. Tapi berubah drastis di kepemimpinan Presiden Joe Biden.

"Amerika aja punya national response plan, ketika Presiden Joe Biden, sehingga ketika dia masuk dia implementasi. Yang tadinya berantakan banget di masa Trump. Sekarang sudah mulai keluar dari jebakan itu, walaupun ancaman jebakan tetap ada, tapi dia udah tahu cara-caranya gimana," jelasnya.

Soal kondisi Amerika, dikutip dari The Atlantic, 13 September 2020, memang dinilai pakar (waktu itu) sebagai: Masuk jebakan pandemi. Ini ditulis Jurnalis Sains Inggris kelahiran Malaysia, Edmund Soon-Weng Yong. Judulnya: “America is Trapped in a Pandemic Spiral”.

Edmund Soon-Weng Yong mengutip Sosiolog Prof Lori Peek, dari University of Colorado Boulder, Amerika. Prof Peek menyebutnya: Spiral kematian. Analoginya unik, begini:

Koloni semut, selalu punya jalur dalam penyelesaian masalah. Termasuk jalur mengangkut makanan. Dari lokasi penemuan, menuju markas.

Pasukan semut dalam mencari makanan, mencari jalur. Awalnya ngawur. Acak. Didahului seekor pemimpin. Sang pemimpin mengeluarkan hormon feromon. Bau khas. Berguna sebagai jejak. Bagi semut di belakangnya.

Dari feromon itulah semut berbaris. Teratur rapi. Seperti barisan tentara. Disiplin. Tidak ada anggota yang keluar jalur. Berjalan sampai berhari-hari, pun diladeni pasukan. Asal setia pada jalur.

Persoalannya, seumpama komandan salah menentukan jalur. Yang berliku-liku, kemudian balik lagi, dan balik lagi. Maka, seluruh pasukan berputar-putar di lingkaran itu. Sampai mereka mati. Disebut: Spiral kematian.

Karena, semut tidak punya drone. Yang bisa melihat dari atas, bahwa mereka cuma ‘mbulet’ di situ.

Itulah Amerika (menurut Prof Peek, waktu itu). Ketika Amerika memasuki bulan kesembilan pandemi, dengan lebih dari 6,3 juta kasus terkonfirmasi. Dan lebih dari 189.000 kematian. 

Itulah Indonesia, merujuk Pandu, sekarang. Amerika sudah ‘mbulet’ kayak ‘susur’ (sirih pinang). Kini feromon Amerika kita ikuti.

Semut mengandalkan intuisi, feeling, wangsit. Manusia juga dilengkapi akal untuk menganalisis. Semut boleh terjebak, manusia harus bisa mengatasi. Kira-kira begitu.

Saran dari Pandu juga mbulet. Seperti susur.

Menyangkut 3T yang sudah dilakukan pemerintah. Menyangkut masa lalu, bahwa Indonesia telat mengantisipasi pandemi. Sudah basi. Menyangkut planning pemerintah, yang tentunya sudah ada.

Ada yang menarik. Dan, ini memang kelemahan pemerintah: Pembagian obat kepada orang isoman. Ia menilai, itu berbahaya.

“Obat, kok disebar begitu saja kepada isoman,” ujarnya. Sedangkan, penggunaan obat terhadap orang berbeda-beda. Jika salah, bisa berakibat fatal.

Pandu: "Tiba-tiba isoman dikasih obat, buat apa. Nggak kasih obat juga sembuh kok. Obat itu harusnya bukan di masyarakat, dimana? Di rumah sakit. Yang bisa mengendalikan, memantau obat itu tepat itu atau tidak kan tenaga kesehatan.”

Dilanjut: “Setiap orang kan beda-beda, di rumah sakit di obat ini, terus kita monitor, loh kok kadar ureumnya meningkat, wah ini nggak cocok, ini ada gangguan di ginjal. Dan berikan obat ini, obat itu, bisa dipantau, kalau di masyarakat nggak dipantau.”

Konsultasi pasien Corona, kata Pandu, tidak cukup via telepon. Obat harus diikuti pemantauan respons tubuh pasien.

Cuma itu saran yang logis. Pemerintah salah, menyebar obat ke isoman.

Menyitir teori Prof Peek tentang jebakan semut, komandan semut kini pasti bingung. Sebab, Corona hal yang benar-benar baru bagi warga bumi, walau sudah setahun setengah.

Karena hal baru, komandan mengambil jalur secara acak. Bisa salah. Pasukan semut baris, mengikuti. Rapi-kompak. Kiri… kanan… kiri-kanan. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.