Bumi Manusia, Relevansi Hari Kemerdekaan

Bumi Manusia

 Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, mengagumi karakter Nyai Ontosoroh. Di film “Bumi Manusia” yang diluncurkan Minggu (15/8/21). “Bangga sebagai Indonesia,” katanya pada wartawan.

Bumi Manusia diadaptasi dari novel karya sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dengan judul yang sama. 

Novelnya terbit 1980, diberangus pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto. Dianggap berpaham Marxisme - komunisme. Khofifah sudah baca novelnya, dulu. Dia akui, secara sembunyi-sembunyi. Karena, semua orang takut ganasnya pemerintahan otoriter Soeharto. Kini, Bumi Manusia beredar sebagai film.

Baca Juga: Cara Jitu Cari Mobil Dijual

Bumi Manusia kisah zaman penjajahan Belanda di Indonesia, di akhir abad ke-18. Lokasi cerita, Surabaya. Novelnya ditulis Pram, ketika ia dipenjara (politik) Pulau Buru, 1966. Ditulis dalam tetralogi (4 seri) dengan Bumi Manusia sebagai pembuka.

Nyai Ontosoroh, nama aslinya Sanikem, kelahiran Sidoarjo. Dia dijual bapaknyi ke pedagang Belanda, Herman Mellema, dijadikan gundik (isteri simpanan). Di zaman itu disebut Nyai. Dari perkawinan itu lahir perempuan Indo-Belanda yang cantik, Annelies Mellema.

Tokoh utama, pemuda Pribumi cerdas, Minke. Karena kecerdasannya, ia satu-satunya Pribumi (bukan priyayi) yang bisa masuk Hogere Burger School (HBS), sekolah lanjutan menengah, yang di zaman itu hanya untuk golongan Eropa dan Pribumi priyayi.

Genre cerita, sosial politik. Pemberontakan batin yang ditampilkan melalui tulisan-tulisan Minke. Juga dialog-dialog Nyai Ontosoroh, perempuan cerdas, yang menyadari bahwa kelas sosial dia paling rendah, baik di mata Belanda, bahkan oleh bangsanya sendiri.

Minke memperjuangan kedudukan Pribumi melawan diskriminasi Belanda. Ontosoroh memperjuangkan dua hal: Sebagai Pribumi terhadap Belanda, juga kesetaraan derajat perempuan (antara nyai dan bukan).

Minke diizinkan Belanda masuk HBS, karena kepintarannya menulis. Sejak di SR (Sekolah Rakyat) atau SD. Di HBS ia bergaul dengan anak-anak Belanda. Dan, sejak itulah ia merasa perlakuan diskriminatif sekolah Belanda.

Di sekolah, teman sekelasnya, Robert Suurhof, mengatakan dengan sinis: “Minke adalah Pribumi yang menyelundup di sela-sela peradaban Eropa.”

Ejekan Suurhof itu dimentahkan guru Belanda, Magda Peters, di hadapan siswa dan beberapa guru. Peters menjelaskan:

“Banyak dari ilmu Eropa berasal dari Asia. Malah angka yang saban hari para siswa pergunakan adalah angka Arab. Termasuk angka nol. Coba, bisakah para siswa kirakan, bagaimana hitung-menghitung tanpa angka Arab dan tanpa nol?:

Dilanjut: “Nol pun berasal dari filsafat India. Tahu kalian artinya filsafat? Ya, lain kali saja tentang ini. Nol, keadaan kosong. Dari kekosongan terjadi awal. Dari awal terjadi perkembangan. Sampai ke puncak, angka 9, lantas kosong lagi, berawal lagi dalam nilai yang lebih tinggi. Belasan, ratusan, ribuan… tanpa batas.”

Akhirnya: “Angka akan lenyap tanpa nol. Dan siswa harus menghitung dengan angka Romawi. Nama sebagian terbesar kalian, nama pribadi, adalah juga nama Asia, karena agama Kristen lahir di Asia.”

Di bagian itu, penulis bukan menggambarkan kebaikan orang guru Belanda. Melainkan, materi pengajaran yang membuka wawasan anak-anak setara SMP, itu. Bahwa pendidikan bukan mengungkung siswa menjadi kerdil. Sebaliknya, membuka wacana antropologi sejarah manusia.

Tapi, lama-lama Minke tahu, bahwa Belanda merendahkan Pribumi. Sebagai anak terpelajar, ia sadar bahwa diskriminasi sangat nyata. Saat itulah ia berontak. Melalui tulisan.

Ontosoroh, tidak sekolah tapi cerdas. Dia menyadari kelasnya yang rendah. Dikucilkan, dianggap perempuan tidak terhormat, tidak memiliki martabat, tidak diperbolehkan mempunyai hak asasi sepantasnya.

Sadar kondisinya, Ontosoroh melawan. Maksudnya menunjukkan keteladan dalam arti positif. Supaya masyarakat bisa menghargai.

Caranya, berupaya sekeras mungkin belajar tanpa kenal putus asa. Hanya dengan belajar, belajar dan belajar. Dia belajar dari berbagai hal. Sekolah kehidupan. Itulah yang melawan kebodohan, kemiskinan dan penghinaan.

Kegigihan Ontosoroh, menghasilkan karakter Pribumi yang kuat. Dia bangga sebagai Pribumi. Bahkan, karena kegigihan akhirnya ia dijadikan salah satu guru di HBS. Hal yang jarang terjadi di zaman itu.

Ontosoroh juga menginfiltrasi pemikiran Minke. Dalam perlawanan melawan Belanda. Dalam beberapa tulisan Minke yang revolusioner.

Cerita dibumbui kisah asmara Minke dengan puteri Ontosoroh, si cantik Indo-Belanda, Annelies Mellema. 

Tentu saja, Ontosoroh merestui. Tapi, pihak Belanda berusaha menghalanginya. Dianggap, Annelies mewakili (dan warga negara) Belanda.

Di bagian asmara, Pramoedya melukiskan romantisme zaman itu dengan begitu indah. Ia menggambarkan kekaguman Minke terhadap kecantikan Annelies, dengan kalimat narasi ini:

“Bentuk hidungnya yang indah itu menarik tanganku untuk membelainya. Ujung-ujung rambutnya berwarna agak coklat jagung, dan alisnya lebat subur seakan pernah dipupuk sebelum dilahirkan.”

Dilanjut: “Dan bulu matanya yang lengkung panjang membikin matanya seperti sepasang kejora bersinar di langit cerah, pada langit wajahnya yang lebih cerah.”

Lalu, Minke berjuang mempersunting Annelies. Narasinya begini:

“Kecantikan kreol yang sempurna, dalam keserasian bentuk seperti yang aku hadapi sekarang ini, di mana dapat ditemukan lagi di tempat lain di atas bumi manusia ini? Tuhan menciptakannya hanya sekali saja dan pada tubuh yang seorang ini saja. Aku takkan lepaskan kau, Ann, bagaimanapun keadaan pedalamanmu. Aku akan bersedia hadapi apa dan siapa pun.”

Akhirnya mereka menikah. 

Suami-isteri Minke-Ann, dan ibu mereka Ontosoroh, bersama berjuang melawan Belanda. Melalui aneka tulisan. 

Itu sebabnya, Gubernur Khofifah kagum pada Ontosoroh. Perempuan biasa, yang karena nasibnya jadi gundik Belanda. Tapi berjuang begitu keras, jadi perempuan cerdas dan tangguh. Ontosoroh keren soroh….

Kalimat pujian Khofifah terhadap tokoh Ontosoroh yang terpenting adalah: “Ontosoroh bangga sebagai Indonesia.”

Komentar itu, relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Kondisi ke-Indonesia-an kita sekarang. Di saat ada warga Depok mengibarkan bendera Palestina, kemarin. 

Atau, ada ustad yang menganjurkan jamaah: Tidak usah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.