Anak Dibanting, Justru Karena Cinta

 

Anak Dibanting

Cinta ortu ke anak, bisa jadi penganiayaan. Kasus terbaru di Tangerang Selatan. Wanita EW (41) menganiaya anak asuh laki BM (4), ditangkap polisi, Jumat (20/8/21). Gegara rewel makan.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Tangerang Selatan, Ipda Tita Puspita Agustina mengatakan kepada pers, Sabtu (21/8/21), pelaku ditahan.

"Pelaku EW sudah ditetapkan sebagai tersangka, ditahan," ujarnya.

Kerangka kejadian, diceritakan Ketua RT setempat, Chandra Purnama (69) kepada wartawan, begini:

Pasutri A dan EW tinggal di Villa Bintaro Regency, Tangsel, sejak 10 tahun terakhir. A bekerja di suatu Event Organizer, EW bisnis online di rumah. 

Mereka punya dua anak kandung perempuan, usia 8 dan 6. Juga anak asuh BM (korban). Ada seorang pembantu wanita.  

Pak RT Chandra: “BM itu diasuh keluarga ini sejak bayi usia tiga hari. Ibu kandung BM, adik kandung EW, meninggal setelah melahirkan BM. Bapaknya BM, entah ke mana.”

Menurut Chandra, selama ini tidak tampak keanehan. EW kelihatan menyayangi BM. “Tahu-tahu meledak kasus begini,” ujarnya.

Kasus terjadi Rabu (18/8/21) siang. EW membanting BM ke lantai. Kejadian itu direkam kamera HP milik pembantu. Rekaman video itu dibawa pembantu ke rumah guru playgroup BM., tak jauh dari rumah.

Guru membawa video itu ke kantor kelurahan. Dari situ, diunggah pegawai kelurahan ke medsos. Langsung viral. Juga, dilaporkan ke polisi.

Tampak di video: Wanita membanting balita ke lantai dua kali. Dari ketinggian sekitar semeter.

EW dijemput polisi Jumat (20/8/21) pukul 23.00 di rumah tetangga. Maksudnya dia ngumpet, karena mendengar akan ditangkap polisi. Dia dijemput tanpa perlawanan.

“Dia langsung mengakui perbuatannya,” kata Ipda Tita Puspita. “Ditanya berapa kali menganiaya, dia tidak ingat. Tapi sering. Sejak setahun terakhir.”

Bocah BM segera dibawa ke RS Medika di BSD, Serpong, divisum. Memar di punggung. Juga satu luka, diduga bekas sundutan rokok di kaki.

Ipda Tita: “Tersangka mengaku kesal, karena korban tidak mau makan.”

Dari struktur kejadian bisa disimpulkan, sebenarnya EW menyayangi BM. Itu keponakan, yang ibunya (adik EW) meninggal. Sudah diasuh empat tahun. Problemnya BM sulit makan. Dan, EW kooperatif ke penyidik, dengan mengakui, sering menganiaya, setahun terakhir.

Cara gampang, EW tidak memberi makan BM. Selesai. Tapi, karena sayang, dipaksakan makan dan ditolak, membuat EW jengkel. Dibanting.

Baca Juga: Solusi Cerdas Jual Beli Mobil di Era Pandemi

Psikolog Klinis, Dr Christine Raches, pakar perilaku anak dari Indiana University Health, hal tersulit mengasuh anak balita. Dia katakan:

Karena, “Anak seusia ini mengalami sangat banyak perubahan perkembangan. Yang tentunya mengagetkan (mungkin menjengkelkan) pengasuh,” tulis Dr Raches, dikutip dari jurnal ilmiah Indiana University Health, 8 Juni 2017.

Dijelaskan, perkembangan otak anak paling pesat menjelang usia dua tahun. Saat itu anak mulai bertingkah. Melakukan uji coba aneka hal. Jika dilarang melakukan sesuatu, justru ia lakukan. Sebaliknya, jika disuruh melakukan sesuatu, ogah.

Pengasuh (ortu atau siapa pun) bisa jengkel menghadapinya. Anak membangkang. Keras kepala. Bahkan melawan. “Itu sangat normal,” tulis Dr Raches.

Analisis Raches, balita di usia dua, mulai menyadari bahwa dia adalah dirinya sendiri. Semaunya sendiri. Bersemangat eksperimen dengan kemandiriannya yang baru muncul.

“Apa yang tampak seperti pembangkangan sebenarnya hanyalah anak Anda menggunakan otonominya. Coba mencari tahu, apa yang bisa dan tidak bisa dia lakukan,” kata Dr. Raches. 

Anak sedang belajar kausalitas. Hubungan sebab dan akibat. Melalui coba-coba. Di sinilah sebenarnya terjadi perebutan kekuasaan pengendalian. Pengasuh berusaha pegang kendali, begitu juga anak. Sehingga terjadi benturan kekuasaan.

Raches: “Jadi, ketika Anda mengatakan “tidak” pada sesuatu yang ingin dilakukan anak, kemungkinan besar anak akan melanggar. Sebaliknya kalau Anda menyuruh ia melakukan sesuatu, ia menolak.”

Solusi dari Raches, ada lima hal.

Pertama, ia sebut “Pilih pertempuran Anda”. Contoh: “Jika anak bersikeras berpakaian sendiri, Anda harus membiarkannya. Memberi kesempatan ia mencoba. Kalau ia sudah menyerah, barulah Anda memakaikan pakaian itu,” saran Dr. Raches. 

Dengan cara ini, anak merasa seperti dia memiliki beberapa kontrol yang dia idamkan. 

Kedua, menawarkan pilihan. Misalnya, anak ogah makan. Ikuti, jangan dipaksa makan. Untuk sementara waktu, sampai ia merasa lapar. Walaupun untuk itu, jadwal waktu makan jadi kacau. Tapi, untuk sementara waktu.

Walau, yang disebut sementara waktu itu sangat relatif. Tergantung kondisi anak. Bisa sebentar atau beberapa hari, bisa juga bulanan. 

Ketiga, hindari mengatakan "tidak" terlalu sering. Semua anak perlu mendengar kata "tidak", tetapi jika Anda menggunakannya terus-menerus, anak anak mengabaikannya. Sebaliknya, menantang. 

“Daripada mengatakan 'Jangan berlari,' misalnya, Anda bisa mengatakan 'Saya ingin Anda berjalan', yang merupakan interaksi yang lebih positif," kata Dr. Raches. 

Carilah kesempatan memuji anak, atas perilaku yang baik. Sehingga dia tidak merasa ketika didisiplinkan atau dihukum.

Keempat, ketahui pemicu anak. Jika dia bersikeras melakukan sesuatu, sedangkan itu hal berbahaya, maka alihkan perhatian dia. Pengalihan perhatian anak, butuh ketrampilan khusus. Setelah perhatian anak teralihkan, jauhkan barang berbahaya yang akan dia pegang.

Kelima, inilah tersulit: Sabar dan konsisten. Lakukan hal di atas terus-menerus. Membentuk keteraturan dan kedisiplinan anak.

Ortu sering terjebak, bahwa kehendak ortu wajib dituruti anak. Sebaliknya, anak punya kehendak sendiri. Di sini terjadi benturan. Memicu emosi ortu.

Seperti kata penyair Lebanon, Kahlil Gibran, mengatakan: Anakmu bukan milikmu.

“Anakmu adalah anak panah yang tajam. Engkau adalah busurnya. Maka, jadilah busur yang lentur tapi kuat. Pemanah adalah Sang Khalik. Anak panah akan meluncur ke tujuan, yang tiada pernah engkau ketahui.” (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.