Amerika Tegakkan Benang Basah Afghanistan

 

Taliban

Estimasi, Amerika sedih atas jatuhnya Afghanistan, ternyata salah. Presiden AS Joe Biden: "I stand squarely behind my decision," (ABC News, Selasa, 17/8/21, pukul 07.06 WIB).

Pernyataan itu seolah tidak nyambung dengan pengorbanan Amerika untuk perang Afghanistan sepanjang 20 tahun terakhir. Itulah perang terlama dalam sejarah Amerika.

Pengorbanan Amerika, hasil riset Brown University, Rhode Island, AS, 

lebih dari 3.500 tentara koalisi tewas, 2001 - 2020. Dua pertiga (sekitar 2.200) tentara Amerika. Dan, lebih dari 20.000 tentara Amerika terluka, separonya cacat permanen.

Di pihak Afghanistan 69.000 tewas, yang 51.000 warga sipil. Tidak ada data jumlah korban pihak Taliban.

Amerika membiayai (dana militer dan rekonstruksi) untuk Afghanistan dan sebagian kecil Pakistan: USD 978 miliar atau Britania Pound 709 miliar (sekitar Rp 13.692 triliun, kurs Rp 14.000 per USD). Itu uang rakyat Amerika, sebagian besar dari pajak.

Bagaimana mungkin, Presiden Biden tidak sedih? Ataukah ia awu-awu, solu-solu, pura-pura tidak sedih? Untuk menutupi gengsi Amerika?

Dikutip dari ABC News, Selasa (17/8/21) Biden mengatakan: "Setelah 20 tahun, saya telah belajar dengan cara yang sulit, bahwa tidak pernah ada waktu yang tepat untuk menarik pasukan AS." 

Padahal, kritik keras dari sekutu Amerika ditujukan pada keputusan Biden menarik pasukan Amerika dari Afghanistan, Mei lalu. Biden menyatakan, tak peduli atas semua kritik padanya.

Biden mengatakan dia tidak akan mengulangi "kesalahan masa lalu" dengan berperang dalam konflik yang tidak lagi kepentingan Amerika Serikat.

Dilanjut: “Jadi apa yang terjadi? Para pemimpin politik Afghanistan menyerah dan melarikan diri dari negara mereka. Militer Afghanistan runtuh, tanpa berusaha melawan.”

Maka, "Saya berdiri tegak di belakang keputusan saya," kata Biden. Saat mengatakan itu, ia sedang liburan akhir pekan di Camp David.

Tapi, ia sudah mengerahkan sekitar 3.000 tentara Amerika, khusus mengawal pemulangan para diplomat dan warga Amerika, serta warga Afghanistan yang selama ini bekerja untuk tentara Amerika (sebagai penterjemah dan penunjuk jalan). Jumlahnya ribuan orang.

“Jika Taliban mengganggu mereka, dipastikan pasukan Amerika bergerak cepat dan tegas,” kata Biden.

Mereka diangkut bertahap dari Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul. Mereka, kecuali para diplomat, diungsikan ke Fort McCoy di Wisconsin dan Fort Bliss, Texas.

Ribuan warga Afghanistan bergerombol di bandara, tapi tak bisa terbang karena tidak ada penerbangan, kecuali angkutan staf diplomatik dari berbagai negara.

Saking takutnya, tiga pemuda Afghanitas nekat menyelinap, bergelantungan di roda pesawat Amerika. Lalu, jatuh satu demi satu, beberapa menit setelah pesawat take off.

Kalimat Biden “kesalahan (Amerika) masa lalu”, mengagetkan. Berarti ia menyalahkan tiga presiden sebelumnya: George W. Bush, Barack Obama, Donald Trump. Dan, bukan kebiasaan pemimpin Amerika, menyalahkan orang lain.

Sejarah Keterlibatan Amerika

Lalu, mengapa Amerika perang 20 tahun di sana?

Dikutip dari Reuters, Minggu (15/8/21) diuraikan: Pada 11 September 2001 Amerika diserang ‘empat pesawat bunuhdiri’.menyerang New York dan Washington. Warga dunia terpana menyaksikan Menara World Trade Centre runtuh. Diperkirakan sekitar 3.000 orang tewas.

Para pejabat Amerika mengidentifikasi, pelaku teror itu kelompok Al-Qaeda pemimpin Osama Bin Laden. Bin Laden merancang itu di Afghanistan, didukung oleh Taliban yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996.

Sedangkan, kelompok Taliban muncul dalam perang saudara di Afghanistan di pertengahan dekade 1980-an. Di perang itu, pasukan Uni Sovyet membela salah satu pihak. Setelah pasukan Sovyet ditarik mundur pada 1989, Taliban menguat. Terutama di barat daya Afghanistan dan di daerah perbatasan Pakistan. Lantas, bertahap mereka menguasai seluruh Afghanistan.

Pejabat Amerika memprediksi, kelompok Al-Qaeda penyerang Amerika dilindungi Taliban. Prediksi ini terbukti, setelah Amerika meminta Taliban menyerahkan Osama bin Laden ke pihak Amerika, Taliban menolak.

Sebulan pasca serangan Al-Qaeda, Amerika menurunkan puluhan ribu pasukan ke Afghanistan, menyerang Taliban. Didukung pasukan koalisi. Hanya dalam sepekan perang, Taliban mundur. Lari ke Pakistan.

Tapi, perang tidak berhenti. Taliban hilang-muncul. Perang gerilya terus berlangsung. Itulah yang menewaskan 3.500 tentara Amerika dan melukai 20.000 lainnya. Afghanistan negeri perang. Rakyat hidup sangat sengsara.

Sekutu NATO telah bergabung dengan AS dan pemerintah Afghanistan baru mengambil alih pada tahun 2004 tetapi serangan mematikan Taliban terus berlanjut. 

2014 adalah tahun paling berdarah di Afghanistan sejak 2001. Pasukan internasional NATO mengakhiri misi tempur mereka, menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Afghanistan.

Itu memberi momentum kepada Taliban dan mereka merebut lebih banyak wilayah. Tapi, ribuan pasukan Amerika tetap bertahan melindungi Afghanistan dari Taliban.

Di 2014 sebenarnya Amerika sudah lelah berperang di Afghanistan. Pembicaraan damai Amerika - Taliban dimulai secara simultan. Selama pembicaraan damai itu, pihak pemerintah Afghanistan tidak pernah terlibat. Boleh dibilang, Afghanistan ‘pasrah bongkokan’ pada Amerika. Apa kata Amerika saja.

Hasil pembicaraan damai Amerika - Taliban, disepakati penarikan pasukan Amerika, dalam pembahasan Februari 2020 di Qatar.

Kesepakatan Amerika - Taliban ternyata tidak menghentikan serangan Taliban. Serangkan Taliban tidak ditujukan ke pasukan Amerika, melainkan fokus ke pasukan keamanan Afghanistan dan warga sipil.

Melihat itu, pihak Amerika diam saja. Amerika saat itu sudah 19 tahun menjaga dan melatih pasukan Afghanistan. Supaya bisa mandiri. Tapi, pasukan Afghanistan selalu kalah diserbu Taliban.

Amerika benar-benar tak peduli. Menarik pasukan secara bertahap dari Afghanistan. Penarikan terakhir Mei 2021. Mungkin, Amerika merasa: Bagai menegakkan benang basah. Percuma.

Kucing Amerika pergi, tikus Taliban masuk Afghanistan. Dalam sepekan Taliban sudah menguasai Istana Negara, setelah ditinggalkan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.

Baca Juga: Cara Cerdas Jual Beli Mobil di Era Pandemi

Perkembangan terbaru, dikutip dari kantor berita CNN, Menteri Pertahanan Amerika, Lloyd Austin telah menyetujui penempatan 6.000 tentara di Afghanistan. Misi mereka, mengamankan Bandara Internasional Kabul sebagai jalur evakuasi dan pengiriman bantuan.

"Kami mengasumsikan tidak semua sisi airport dalam kondisi aman," ujarnya di keterangan pers Kementerian Pertahanan Amerika, Senin, 16 Agustus 2021.

Sementara, pihak Taliban mengatakan, fokus mereka mendapat pengakuan dari komunitas internasional. Mereka berjanji akan menjaga keselamatan penduduk lokal, internasional, sipil, maupun diplomat. Mereka bahkan mengklaim akan membuka jalur komunikasi diplomatik dengan berbagai negara secepatnya.

Setidaknya, sudah empat negara mengakui pemerintahan Taliban: China Rusia, Turki dan Pakistan. 

Setidaknya, Amerika berhadapan (lagi) dengan Rusia yang dulu bernama Uni Sovyet. Dari kronologi kondisi Aghanistan, Amerika-Rusia masih polisi dunia. Lainnya penonton. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.