Akidi Effect, Kunthet Rp 2 M

 

Dengan ragu-ragu. Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri, menerima sumbangan Rp 2 miliar dari Masyarakat Tionghoa Palembang Bersatu (MTPB), Jumat (6/8/21). “Maklum, Akidi effect,” pidato Kapolda.

Para hadirin acara serah-terima sumbangan tersebut, tersenyum mendengar itu. Mungkin saja, mereka menahan tawa. Karena tidak etis, ketawa di acara resmi. Apalagi, itu pidato Kapolda.

Sebaliknya, wajar Kapolda Irjen Eko ragu. Sebab, pekan lalu Kapolda baru yakin, bahwa donasi keluarga Akidi Tio, bodong. Pun acara seremonial Akidi Tio, juga di tempat yang sama, Mapolda.

Bedanya, sumbangan kali ini bukan bentuk uang. Melainkan berupa 150 ton oksigen, 150 ton beras, 1.250 rapid antigen test kit, dan barang-barang lain. Senilai Rp2 miliar. Dan, barangnya sudah ada di Mapolda.

Sehingga, Kapolda menegaskan: "Alhamdulillah hari ini kami menerima bantuan dari teman-teman yang luar biasa, Perkumpulan Masyarakat Tionghoa Palembang Bersatu.”

Dilanjut: "Saya sangat apresiasi luar biasa. Di tengah kami sedang menghadapi guncangan sana-sini, Bapak-Ibu, Saudara-saudara masih memikirkan masyarakat Sumsel tanpa takut diselewengkan saya.”

Akhirnya, Eko bergurau: "Dengan kejadian kemarin, kadang-kadang kalau terima bantuan agak takut-takut sedikit. Apakah ini hoax lagi dan seterusnya? Ternyata saya lihat, ini bukan hoax. Ini mobil beneran dan beras beneran.”

Baru-lah, hadirin ketawa. Plong. 

Mewakili penyumbang, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Sumsel, Kurmin Halim, mengatakan:

"Bantuan ini kami serahkan kepada Kapolda. Nanti beliau bersama tim dan staf yang akan mengatur dalam pengaturannya. Semoga bermanfaat dan membantu masyarakat Palembang.”

Menyumbang, donasi, sedekah, adalah tindakan mulia. Berdasar agama apa pun. Berdasar sudut pandang mana pun.

Dari sudut pandang agama, Anda sudah tahu. Semua rakyat Indonesia di KTP-nya tercantum agama. Yang berarti masyarakat agamis.

Dari perspektif ilmiah, ada risetnya. Berangkat dari asumsi: “Semua orang getol mencari uang. Lalu, mengapa uangnya disumbangkan ke orang lain?”

Dikutip dari jurnal akademik "Nonprofit and Voluntary Sector Quarterly" (NVSQ), edisi 17 November 2017, soal itu pernah disurvei di Amerika. Hasilnya sangat menarik.

Pemimpin Redaksi jurnal yang didirikan 1972 tersebut, kolektif kolegial. Angela Bies (Universitas Maryland, Amerika), Chao Guo (Universitas Pennsylvania, Amerika), dan Susan Phillips (Universitas Carleton, Kanada). 

Riset NVSQ pada 2017, berdasar data, bahwa sekitar 55,5 persen orang Amerika (yang tercatat) adalah donatur. Dari para donatur itu dipilih acak dengan proporsi daerah dan etnis beragam, sejumlah 819 orang dijadikan responden. 

Riset menggali pertanyaan: Apa motif mereka menyumbang?

Supaya hasil riset tidak bias dengan jawaban: "menjalankan perintah agama' atau "surga - neraka", maka kuesioner dirancang sedemikian rupa, menggali psikologis responden. Ada 54 pertanyaan yang dibagi dalam 18 kelompok.

Hasilnya: ATSCET. Singkatan enam kata. Altruisme (kebalikan egoisme), trust (percaya), sosial, (financial) constraints, egoisme, dan taxes (pajak).

Tapi ATSCET dianggap sulit diingat. Lalu diubah jadi TASTE for charity. Tetap enam huruf.

Trust (percaya). Orang menyumbang kepada organisasi yang mereka percaya. Agar sumbangan sampai ke tujuan.

Altruisme. Donatur berulang kali memberi tahu peneliti, bahwa mereka merasa penting untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Ini memperkuat temuan sebelumnya oleh para sarjana lain seperti Gil Clary, Mark Snyder dan tim, bahwa alasan mendasar sukarelawan adalah kepedulian altruistik bagi orang lain.

Sosial. Donatur mengatakan, bahwa mereka berbagi karena donasi mereka berarti bagi seseorang yang mereka kenal dan sayangi. 

Misalnya, penderita kanker memberi sumbangan untuk lembaga peduli kanker. Atau, keluarga almarhum penyandang HIV AIDS, menyumbang untuk rumah sakit yang menangani pasien HIV AIDS. Karena donatur merasa kehilangan anggota keluarga akibat penyakit itu.

Pajak. Inilah yang bermotif ekonomis. Di Amerika, lembaga atau individu penyumbang, bakal mendapatkan insentif keringanan pajak.

Egoisme. Penyumbang merasa, bahwa dirinya merasa lebih baik setelah menyumbang. Atau, penyumbang dipandang masyarakat sebagai orang baik.

(Financial) constraints. Sebenarnya orang ingin menyumbang. Tapi tidakpunya uang. Maka, ia menyumbang dalam bentuk tenaga, ilmu, atau menolong sesama.

Di kesimpulan akhir riset NVSQ disebutkan: Dari hasil riset ini, peneliti belum tahu, apa motivasi orang Amerika menyumbang. Tim peneliti mempelajari hasil itu lebih lanjut, demi studi masa depan.

Dari riset oleh lembaga ilmiah itu pun, belum terungkap terang-benderang, mengapa manusia menyumbangkan hartanya untuk orang lain. Apalagi, memperkirakan motif keluarga Akidi Tio. Tentu lebih sulit lagi.

Tapi, tetaplah menyumbang, selagi bisa. Meski tak sampai Rp 2 triliun. Karena menyumbang adalah sikap mulia manusia. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.