404 Not Found, Dijerat Pasal Apa?

 

404 not found

“Bapakku kerempeng kayak bakul tahu, matanya perlu diplester tulisan error,” ujar bocah A kepada bocah B. Lalu, B bertanya ke A: “Kamu dinafkahi bapakmu?” Jawaban A: “Cuma mi instan. Terus-terusan.” 

B: Tapi, kamu ‘kan hidup? Malah perutmu jemblung, gitu…

A: Ya… tapi aku gak minta, punya bapak begitu. Bukan idolaku.

B: Maumu, bapak yang bagaimana?

A: Gagah, gesit, gaji dua miliar sehari: Lionel Messi. 

Pasti, A dan B bocah Indonesia. Yang terus-terusan makan mi instan. Bermimpi dapat duit miliaran. Kalau tidak, ya… memaki bapaknya.

Bukti: Pelawak Cak Lontong berkelakar: “Pria Indonesia yang gak pake masker, gak takut Corona. Sungguh pemberani. Hero.”

Kemudian, lanjutnya, kujelaskan, tanpa masker, hidungnya diterobos Corona, napasnya jadi megap-megap. Masuk rumah sakit, wajib DP Rp 500 ribu. Dipasangi oksigen. Sekali sedot napas, bayar argo sepuluh ribu… sedot lagi, sepuluh ribu…

Terus? “Matanya melotot. Pelan-pelan, ia naikkan kaos dari dada ke hidung. Hahaha… Ternyata ia tidak takut sakit. Tapi takut diporoti Markonah, ee… maaf, Corona.

Tentu, tak semua orang Indonesia begitu. Jangan keburu marah. Karena lawakan Lontong, disarikan dari kehidupan masyarakat kita, sehari-hari. Nyata.

Baca Juga: Cara Sip Jual Beli Mobil

Tapi, makian bocah A kepada bapaknya, tidak melanggar hukum. Tidak juga melanggar simbol keluarga. Yang disebut ‘simbol keluarga’, itu bukan orang. Melainkan filosofi yang abstrak: Kehormatan keluarga, silsilah, moralitas.

Mirip, perilaku mural di Batu Ceper, Tangerang. Ada poster gambar, mirip wajah Presiden RI Jokowi. Pada bagian mata ditutupi tulisan: “404 Not Found”. Tulisan ini kode untuk jaringan internet yang error. Atau gak nyambung.

Polisi kini mencari pelaku, pembuat mural itu. Yang terpajang di dinding terbuka, pinggir jalan, sejak beberapa hari lalu. Meskipun gambar tersebut sudah dihapus. Pun, belum diketahui, siapa pembuat dan penghapusnya.

Kasubbag Humas Polres Tangerang Kota, Kompol Abdul Rachim saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (13/8/21) mengatakan:

"Tetap dilidik (diselidiki) itu perbuatan siapa. Karena bagaimanapun itu kan lambang negara.” 

Lantas, media massa ramai-ramai mencari rujukan: Benarkah Presiden RI adalah simbol atau lambang negara?

Penjelasan teknisnya begini:

Berdasarkan UUD 1945, Pasal 35 sampai 36 A, yang mengatur tentang lambang negara, Presiden RI tidak termasuk lambang negara. Merujuk pasat tersebut, lambang negara adalah Garuda dan semboyan yang tertera pada Garuda itu. Berikut bunyinya:

UD 1945, Pasal 36 A: Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Peraturan lain: Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, tepatnya dalam Bab I, UU Nomor 24 Tahun 2009 dijelaskan bahwa: 

Bendera Merah Putih, Bahasa Indonesia, Lambang Garuda Pancasila, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, merupakan jati diri bangsa dan identitas NKRI.

"Keempat simbol tersebut menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata pergaulan dengan negara-negara lain dan menjadi cerminan kemandirian dan eksistensi negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," bunyi penjelasan umum di Bab I, UU Nomor 24 Tahun 2009.

Dilanjut: Menimbang huruf a di UU itu, bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan, merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara.

Di situ disebutkan 'empat simbol', yakni Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. 

Sedangkan, khusus untuk 'Lambang Negara', istilah itu melekat khusus untuk Garuda Pancasila saja.

UU No 24 Tahun 2009, Pasal 1: Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Lambang Negara adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Detil Pasal 46: Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.

So… penutup mata di gambar wajah dengan tulisan “404 Not Found”, bukan pelanggar hukum, berdasar UUD 1945. Juga tidak melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009.

Soal, polisi akan menerapkan pasal apa terhadap pelaku (jika pelaku tertangkap, nanti) adalah hak Polri sebagai penyidik. Tapi, publik paham bahwa kasus ini bernuansa politik. Yang tidak selesai-selesai sejak era kampanye di Pilpres 2014.

Karena hal ini politis, maka para politisi (atau orang-orang yang dikerahkan politisi, pastinya dibayar, karena catnya beli) bisa berpendapat macam-macam. Maksudnya cuma dua macam: 

Mengutuk atau membela, pelaku.

Sedangkan, pelakunya tega memoles mata bapaknya sendiri, karena, seperti cerita Cak Lontong: Orang kita tidak takut sakit. Melainkan takut tidak dapat (atau kehilangan) duit. Sepele ‘kan? (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.