Soal Twit Jokowi yang Dihebohkan

Heboh cuitan Presiden Jokowi soal muazin, bukanlah bullying dari warganet. Cuma: “Netijen nyinyir, lg nunggu pak Jokowi kepeleset ngomong atau tindakan. Mrk siap2 gempur d medsos,” komen akun April Resdiyanti.

Komen Apri Resdiyanti itu, dimuat di media online detikcom, Kamis (22/7/21) pukul 11.46. 

Komen tersebut menanggapi berita berjudul “Komisi Fatwa MUI soal Cuitan 'Muazin' Jokowi: Tak Masalah dari Sisi Agama”. Dimuat media yang sama, Kamis (22/7/21) pukul 10.44. 

Artinya, soal Twitt ‘muazin’ itu masih dihebohkan warganet sampai hari kedua, dari saat cuitan itu diunggah Presiden Jokowi.

Akun Twitter Jokowi diunggah Selasa, 20 Juli 2021. Isinya: “Salat Iduladha pagi ini di halaman Istana Bogor dengan jamaah terbatas. Bertindak sebagai muazin, imam, dan khatib adalah anggota Paspampres.”

Dilanjut Jokowi: "Kata sang khatib, semua cobaan dapat kita lalui dengan baik bila dihadapi dengan sabar.”

Sejak itu, warganet heboh. Khusus menyoal kata ‘muazin’. Sampai-sampai Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menanggapi. Juga pihak MUI ikut meluruskan. 

Karena, komen warganet, termasuk politisi, sudah ngelantur ke mana-mana.

Komen dari warganet, mengkritik bahwa tidak ada muazin dalam pelaksanaan salat Idul Adha. Sebab, tak ada adzan dan iqomat.

Salah satu yang mengkritik yakni akademisi Cross Culture Institute, Ali Syarif. Begini:

“Hehehe ada mu’adzinnya? Padahal sholat sunnat. Dilaksanakan bagus, tidak juga, ndak dosa. Tapi oke-ah, jadi pesan negara yang ingin anda sampaikan apa dengan event ini?” katanya.

Ada lagi, Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) Partai Demokrat, Herzaky Mahendra juga turut mengomentari. Begini:

“Kasihan Bapak Presiden jadi bulan-bulanan gara-gara admin twitternya entah bukan muslim, entah tidak pernah sholat Id.”

Sebagian besar warganet, meminta agar tim media sosial Jokowi diganti karena telah mempermalukan Jokowi.

"Min sejak kapan salat ied ada muazin? Muazin kan tukang azan, salat ied enggak pakai azan. Coba diedit postingannya!" kata seorang warganet.

"Tolong dong admin @jokowi jangan makin memperburuk citra @jokowi, masa ada muazinnya. Kalau yang berhubungan dengan ibadah tanya dulu pada ahlinya. Kalaupun Anda bukan seorang muslim minimal harus tahu tatacara ibadah agama @jokowi. Mending hapus dan ganti dengan redaksi baru," ungkap seorang warganet.

Ada juga warganet komen, bahwa yang dimaksud Jokowi adalah bilal. Bukan muazin. Bahkan, banyak yang ngelantur. Begini:

"Sudah bikin aturan semaunya bahkan Rektor UI bisa rangkap jabatan sebagai komisaris, eh sekarang salat Idul Adha malah pakai muazin. Negara dan agama dibikin rusak sama ini bapak," tutur warganet lain.

"Pak selain Reshuffle mentri kayaknya tim protokol kepresidenan butuh di ganti juga deh tim protokol bagian nulis pidato sama bagian admin sosmed kayaknya butuh di remajakan dulu. Kerjanya blunder mulu malu-maluin nama presiden aja," timpal seorang warganet.

Jika tidak diluruskan, bisa saja warganet kian lebar ngelantur.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, balik mempertanyakan pihak yang heran atas cuitan Presiden Jokowi soal muazin di salat Idul Adha. Yaqut menjelaskan soal sebutan muazin dan bilal.

"Yang mempertanyakan sudah belajar belum? Muazin dan bilal itu sebutan yang sama untuk mereka yang memiliki suara lantang dan fasih," kata Yaqut kepada pers, Rabu (21/7/21).

Yaqut mengatakan, muazin juga bisa dimaknai sebagai orang yang memberi tahu tanda salat dimulai. Demikian pula tugas muazin atau bilal saat salat Id.

Yaqut: "Bukan hanya kumandang azan, tetapi juga memberi tanda salat dimulai. Kalau di salat Id, muazin atau bilal, dia yang mengkomando: assolaatu jaami'ah…”

"Jadi, secara harfiah, muazin itu artinya orang yang mengumandangkan azan. Bilal itu, tafa'ulan kepada sahabat Bilal, sahabat Nabi yang pertama kali mengumandangkan azan," sambung Yaqut.

Sedangkan, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, kepada pers, Kamis (22/7/21) menjelaskan: 

Dari sisi bahasa, muazin bahasa Arab, isim fa'il dari addzana yuazdzinu. Artinya orang yang menyeru. Bukan semata dalam pengertian "orang yang azan" sebagaimana dikenal umum.

Dalam Al-Qur'an juga disebutkan kata muadzdzin, seperti dalam Surat al-A'raf ayat 44 dan Surat Yusuf ayat 70, yang berarti penyeru.

Dalam Surat al-A'raf disebutkan 44:

"Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, "Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?" Mereka menjawab, "Benar." Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, "Laknat Allah bagi orang-orang zalim".

Dalam Surat Yusuf ayat 70 disebutkan:

"Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri".

Dilanjut Asrorun, dalam istilah keagamaan di masyarakat kita, orang yang menyeru azan sebagai panggilan salat adalah muazin. Namun, di masyarakat kita juga dikenal sebutan lain, yaitu bilal atau sebutan lainnya.

Jadi, apa esensi heboh warganet soal ini? Zonk. Heboh-heboh kosong. Bahkan cenderung memecah-belah masyarakat.

Mungkin, benar kata warganet April Resdiyanti (di atas). Bahwa banyak netijen nyinyir, yang kerjaannya nungguin Pak Jokowi kepleset nge-twit. Trus, nyerang di medsos. 

Tapi buat apa? Apakah itu berarti mereka kritis? Mengapa warganet bisa se-bodoh ini? (*)

1 komentar:

  1. Yg penting nyinyir dulu Mbah, masalah belajar dan mencari tahu itu belakangan hehe..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.