Sinetron Ikatan Cinta Jadi Ikatan Politikus

 

Bosan bicara Corona, Menko Polhukam Mahfud Md komentari sinetron. Disoal orang-orang partai: “Musim PPKM Darurat, mestinya sampaikan kabar baik.” Begitulah karakter politikus kita.

Nonton sinetron di hari gini, dipercaya meningkatkan zat imunitas. Supaya terhindar Corona. Itu, barangkali pesan Prof Mahfud nonton sinetron.

Prof Mahfud, tokoh cerdas, pejabat nyentrik (tidak biasa). Sebagai pejabat, ia lurus pada konstitusi. Sebagai akademisi, membuat ia tidak biasa sebagaimana umumnya pejabat (yang pura pura sibuk).

Mahfud bukan hanya nonton sinetron. Tapi, juga ia umumkan di akun Twitter, begini:

“PPKM memberi kesempatan kepada saya nonton serial sinetron Ikatan Cinta. Asyik juga sih, meski agak muter-muter,” dikutip dari akun Twitternya, Jumat (16/7/21).

Di situ Mahfud mengajak masyarakat legowo menerima PPKM yang membatasi mobilitas. Gegara Corona terus ngegas. Maksudnya, di rumah aja nonton sinetron.

Lalu, ia menukik pada materi cerita sinetron. Yang, antara lain, terkait kasus hukum. Karena penulis cerita, kelihatan jelas kurang memahami hukum. Padahal, sinetron punya fungsi edukasi masyarakat.

“Tapi pemahaman hukum penulis cerita, kurang pas,” tulis Mahfud.

Ikatan Cinta, menyajikan kasus pembunuhan. Tokoh Roy, dibunuh oleh Elsa. Mati. Penulis lalu mengarahkan cerita, bahwa ibunda Elsa bernama Sarah, mengaku sebagai pembunuh Roy. Sarah melindungi anaknya, Elsa.

Penulis ingin menampilkan efek dramatis. Begitulah besarnya cinta ibunda terhadap anak. Suatu tujuan yang bagus. Mendidik juga menguras airmata.

Selanjutnya, Sarah ditahan polisi karena pengakuannya itu. Blung… dimasukkan penjara. Sebagai pembunuh Roy.

Di situlah Prof Mahfud, guru besar ilmu hukum, terusik. Bahwa sinetron Ikatan Cinta tidak ‘membumi’. Tidak sesuai dengan dunia nyata. Hanya ada di ilusi.

Mahfud: “Sarah yang mengaku dan minta dihukum karena membunuh Roy, langsung ditahan polisi. Padahal pengakuan dalam hukum pidana itu bukan bukti yang kuat.”

Mahfud menjelaskan, bahwa dari segi hukum, tidak bisa seseorang ditahan begitu saja, karena mengakui suatu perbuatan. Di dunia nyata, tidak begitu.

Seandainya kejadian di sinetron itu nyata, maka akan banyak penjahat yang bebas hukum dengan mudahnya.

“Dalam hukum pidana, tak sembarang orang mengaku, lalu ditahan,” tulis Mahfud. “Nanti, bakal banyak orang berbuat jahat lalu menyuruh (membayar) orang untuk mengaku. Sehingga pelaku yang sebenarnya bebas.”

Cuitan Mahfud itu selain menegur penulis sinetron, sekaligus meluruskan persepsi masyarakat penonton. 

Yang tak diduga Mahfud, adalah Twit itu kemudian dikomentari ramai ramai para politikus.

Partai Demokrat: "Menonton sinetron Ikatan Cinta, memang berhasil menaikkan imun tubuh Prof Mahfud, tapi membuat empatinya drop," kata Wasekjen PD Irwan Fecho kepada wartawan, Jumat (16/7/2021).

Dijelaskan Irwan, Mahfud seharusnya memikirkan kondisi masyarakat saat ini yang serba sulit akibat pandemi COVID-19. Irwan menuding, Mahfud kerap melontarkan pernyataan blunder yang justru jadi pedoman masyarakat.

Tapi, Irwan tidak merinci pernyataan blunder apa saja. Selain soal Ikatan Cinta yang ia anggap blunder.

Partai Gerindra: "Sebenarnya itu urusan beliau, mau menyempatkan diri nonton dan mengomentari sinetron, pejabat kan juga manusia," kata Waketum Gerindra Habiburokhman kepada wartawan, Jumat (16/7/21).

Tapi, Habiburokhman mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini menanti kabar baik penanganan Corona. Dia meminta para pejabat negara tidak asal menyebarkan informasi.

"Kini masyarakat menanti kabar baik soal pandemi. Sebagai pejabat, akan lebih baik menahan diri untuk menyampaikan info yang nggak relevan dengan penanganan pandemi itu," katanya.

PKS: "Pertama, semua tetap di rumah merupakan prinsip PPKM. Kegiatan menonton sinetron baik untuk dukung industri kreatif kita. Tapi dilakukan saat PPKM tidak baik," kata Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera kepada wartawan, Jumat (16/7/21).

Mardani menilai masyarakat belum memahami kesepahaman yang sama perihal anjuran tetap di rumah. Dia menegaskan pandemi COVID-19 berkaitan erat dengan mobilitas masyarakat.

"Kedua, ini menunjukkan bahwa kita belum punya kesepahaman untuk stay at home. Diam di rumah, dan lakukan semua sebisa mungkin dari rumah, karena pandemi ini identik dengan mobilitas, apa pun konteksnya," katanya.

Komen dari PKS agak serampangan. Tak begitu jelas, maksudnya apa?

Last but not good, Partai Gerindra (lagi): "Inilah kalau komando pengendalian COVID tidak langsung dipimpin Presiden. Ada yang sibuk, berjibaku di lapangan, ada yang asyik nonton sinetron Ikatan Cinta. Saran saya Pak @jokowi ambil alih kepemimpinan penanganan darurat COVID. Semua menteri ada tanggung jawab masing-masing. Selamat nonton Pak," tulis Fadli Zon di akun Twitternya, sambil menyertakan emoji ketawa, seperti dilihat Jumat (16/7/21).

Meski komen ini gak begitu jelas, tapi menyoal ‘pengendalian COVID’. Yang dipercayakan Presiden Jokowi kepada Menko Marves, Luhut Binsar Panjaitan.

Fadli tidak langsung mengkritik penunjukan kepada Luhut, melainkan mlipir (mengendap-endap) melalui sinetron. Jelasnya: Mengapa kendali Covid diserahkan ke Luhut?

So… begitulah kualitas politisi kita. Di saat bangsa kesulitan parah begini, masih juga berebut kekuasaan. Walau, kekuasaan dalam opini. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.