Siapa Akidi, Penyumbang Rp 2 T?

 

Nama Akidi Tio jadi perbincangan. Setelah menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan pandemi Corona di Palembang. Proses pencairan sumbangan itu saja, tak gampang.

Akidi Tio pengusaha sukses asal Langsa, Aceh. Ia meninggal 2009. Punya tujuh anak, si sulung Ahok meninggal 2016. Enam anak Akidi itulah mengumpulkan Rp 2 triliun, disumbangkan ke pemerintah.

Cara nyumbangnya juga unik. Enam anak Akidi itu minta bantuan dokter keluarga Akidi, Hardi Dermawan. Yang jadi dokter keluarga Akidi sejak 1973.

“Awalnya, saya dikontak anak beliau, dimintai tolong menyalurkan sumbangan,” cerita Hardi kepada pers, Selasa (27/7/21). “Setelah disebutkan nilainya Rp 2 triliun, saya sarankan bentuk alat kesehatan dan obat.”

Tapi, enam anak Akidi semuanya pengusaha. Lima tinggal di Jakarta. Satu di Palembang. Semuanya sibuk. Maunya nyumbang uang itu saja.

“Bahkan, awalnya mereka minta nama mereka tidak disebutkan,” katanya. “Lalu saya katakan, ini kan butuh transparan. Akhirnya mereka mau disebut sebagai keluarga Akidi Tio.”

Soal menyumbang tanpa publikasi di keluarga Akidi Tio, menurut Hardi, sudah biasa. “Sumbangan mereka kepada warga miskin, mungkin sudah ratusan miliar, tidak mau diberitakan. Baru kali ini mau diberitakan,” katanya.

Sang dokter kemudian menghubungi Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri. “Sumbangan harus aman sampai ke tujuan. Lagi pula, Bapak Eko Indra sewaktu bertugas di Aceh, akrab dengan almarhum Bapak Akidi, tuturnya.

Irjen Eko Indra Heri dihubungi dr Hardi, menyampaikan amanah itu. Eko pun kaget mendengar nilainya segitu. Kemudian diputuskan, penyerahan sumbangan dihadiri para pejabat.

Maka, Senin (26/7/21) dilaksanakan penyerahan sumbangan secara simbolis di Mapolda Sumatera Selatan. Disaksikan Gubernur Sumsel Herman Deru, Danrem Garuda Dempo, Brigjen TNI Agus Jauhari, dan tokoh masyarakat setempat.

Hardi meminta keluarga penyumbang hadir. Akhirnya, salah seorang anak Akidi Tio, Irianti, hadir. Tapi, Irianti tidak sempat diwawancarai wartawan. Sehingga wartawan mewawancarai Hardi.

Proses pencarian pun memakan waktu. Hardi: "Tadinya mau dikasih cek. Tapi ternyata tidak bisa, sebab jumlahnya besar. Prosedur tidak bisa begitu saja, harus diketahui OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga, transfer ke tim masih diproses," katanya, Selasa (27/7/21) sore.

Setelah penyerahan sumbangan, tidak ada yang tahu, siapa Akidi Tio. Kapolda Sumsel, Irjen Eko Indra Heri, pernah kenal Akidi. Sewaktu Eko masih bertugas di Aceh. 

Irjen Eko: “Beliau pengusaha sukses yang dermawan. Sering menyumbang, tapi tidak mau dipublikasi.”

Nama enam anak Akidi yang patungan Rp 2 triliun itu, juga tidak diketahui wartawan. Kecuali Irianti yang juga tidak sempat diwawancarai wartawan.

Seharian kemarin wartawan Aceh melacak, siapa Akidi Tio. Melalui berbagai jalur. Bertanya ke komunitas keturungan Tionghoa di Aceh. Diketahui, Akidi lahir di Langsa, Aceh. 

Akhirnya wartawan mewawancarai Samsoe, teman salah seorang cucu Akidi bernama Sumardi alias Acien. 

Samsoe menceritakan, Akidi punya pabrik limun di Langsa pada 1970-an. Pabrik itu berjaya di tahun 1980-an. Tapi sudah tutup di tahun 1990-an.

Akidi kemudian bisnis batubara, perkebunan, juga kontraktor. “Bapak Akidi Tio lahir dan besar di Langsa, berdomisili di Jalan Iskandar Muda, Kota Langsa,” kata Samsoe kepada wartawan Harian Rakyat Aceh.

Pada 1976 seluruh keluarga Akidi Tio  pindah ke Palembang dan Jakarta. Tapi pabrik limun miliknya di Langsa, tetap jalan. Limun (minuman soda dalam botol) di zaman itu digemari masyarakat. Pabrik limun Akidi, sukses.

Lokasi pabrik limun itu di jalan Gang Nasional Gampong, Blang Seunibong, Kecamatan Langsa Kota.tapi sudah lama tutup. Sejak minuman sejenis Coca Cola marak di Indonesia.

Samsoe tidak tahu nama tujuh anak Akidi. Ia hanya tahu si sulung Ahok sudah meninggal 2016. “Setahu saya, ada dua anak beliau, Pauluk dan Aguan. Menetap di Jakarta dan Palembang,’ kata Samsoe. “Bapak Akidi meninggal 2009 dimakamkan di Palembang.”

Sumbangan keluarga Akidi itu senilai sekitar USD 142.857142. Bandingkan dengan sumbangan Yayasan Bill & Melinda Gates kepada Gavi, Aliansi Vaksin pada 2 Juni 2021 di Seattle, Amerika, sebesar USD 50 juta. Atau hampir sepertiga dari sumbangan keluarga Akidi Tio.

Bill Gates adalah pendiri Microsoft Corporation, dermawan terkenal dunia. Sedangkan, penerima bantuan, Gavi adalah aliansi global untuk vaksin dan imunisasi yang bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia WHO.

Sumbangan Yayasan Bill & Melinda Gates untuk vaksin Corona yang dikirimkan ke 92 negara miskin.

Sumbangan diumumkan pada Gavi's COVAX AMC Summit, sebuah acara yang diselenggarakan bersama pemerintah Jepang dan Gavi yang mengumpulkan para pemimpin dunia, sektor swasta, masyarakat sipil, dan mitra teknis untuk membangun dukungan untuk pengadaan vaksin COVID-19 dan mendistribusikannya secara adil ke negara-negara berpenghasilan rendah.

“Dunia harus segera bersatu untuk memperluas akses yang adil ke vaksinasi COVID-19, atau kita berisiko lebih banyak kematian dan munculnya varian baru yang dapat memperpanjang pandemi untuk semua orang,” kata Mark Suzman, CEO Bill & Melinda Gates Foundation.

Sumbangan keluarga Akidi itu, dari segi nilai, tergolong kelas dermawan internasional. Cuma, keluarga Akidi tidak mau publikasi. Mestinya, sikap kedermawanan itu dicontoh orang kaya Indonesia. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.