PPKM Ajari Berempati

 

Rem darurat ditarik Presiden Jokowi. Namanya PPKM Darurat. Ketika menunggu, masyarakat penasaran membayangkan lockdown. Setelah diumumkan, jadi anti-klimaks. Memang bukan lockdown.

PPKM berlangsung 3-20 Juli 2021 di Jawa dan Bali. Tidak seketat yang dibayangkan. Terutama untuk aturan nomor 10 sampai 13.

10. Transportasi umum (kendaraan umum, angkutan masal, taksi (konvensional dan online) dan kendaraan sewa/rental) diberlakukan dengan pengaturan kapasitas maksimal 70 persen dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.

11. Resepsi pernikahan dihadiri maksimal 30 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dan tidak menerapkan makan di tempat resepsi; Penyediaan makanan hanya diperbolehkan dalam tempat tertutup dan untuk dibawa pulang.

12. Pelaku perjalanan domestik yang menggunakan moda transportasi jarak jauh (pesawat, bis dan kereta api) harus menunjukkan kartu vaksin (minimal vaksin dosis I) dan PCR H-2 untuk pesawat serta Antigen (H-1) untuk moda transportasi jarak jauh lainnya.

13.Masker tetap dipakai saat melaksanakan kegiatan di luar rumah. Tidak diizinkan penggunaan face shield tanpa penggunaan masker.

Nomor 10 menegaskan, orang tetap bebas bepergian. Aturan, penumpang maksimal 70 persen, abstrak. Sulit dikontrol.

Nomor 11, meskipun dibatasi maksimal 30 orang, resepsi nikah tetap boleh. Mengingat bandelnya warga, batas 30 orang itu bisa diakali.

Nomor 12 terkait nomor 10. Dari semula juga begitu. Hanya ada penambahan kartu vaksin.

Nomor 13 apalagi, tak berubah dengan sebelumnya.

Yang baru, kewajiban menutup: Mal dan sejenisnya, lokasi wisata, gedung pertunjukan, tempat ibadah. Juga WFH 100 persen, kecuali sektor esensial.

PPKM kali ini mungkin bakal lebih efektif dibanding aturan sejenis sebelumnya. Karena jumlah kasus Corona melonjak drastis. Sehingga tingkat kepercayaan warga terhadap keganasan Corona, naik. Warga sudah merasakan, sanak-saudara terpapar Corona. Bukan teori konspirasi lagi. Maka, warga mungkin bakal patuh.

Corona mengajari masyarakat berpikir kolektif. Bukan individual. Berempati terhadap orang lain. Bukan menangnya sendiri. 

Simak, berita dari Batu, Malang, Kamis (1/7/21). Seorang nakes di Puskesmas mengunggah pengakuan di Instagram @ngalamlop. Postingan berupa gambar tangkapan layar berisi tulisan. Bahwa nakes positif Corona terpaksa harus melayani pasien.

Di unggahan itu disebut, suatu ketika semua nakes menjalani swab PCR. Tapi, tidak berarti mereka off. Kepala Puskesmas menugaskan mereka tetap bertugas. Sambil menunggu hasil swab.

"Hasil swab keluarnya kan, lama (5 harian) dan satu demi satu hasil keluar dan banyak dari hasil tsb dinyatakan positif covid," tulis nakes seperti tertera di gambar itu. 

Artinya, saat menunggu hasil swab, mereka sebenarnya sudah positif. Tapi tetap melayani pasien. "Kami juga orang, pak... " Maksudnya, bukan robot yang tak butuh istirahat, kecuali lowbat.

Unggahan ini viral seharian, Kamis (1/7/21). Tapi, itu sudah dibantah pihak berwenang.

Satgas COVID-19 Kota Batu menanggapi begini: "Tidak semua nakes di Puskesmas dilakukan tes PCR. Nakes yang tes PCR adalah nakes yang memenuhi kriteria sebagai kontak erat dengan pasien konfirmasi COVID atau bergejala mengarah COVID," kata Jubir Satgas COVID-19 Kota Batu, Onny Ardianto menjawab pertanyaan wartawan, Kamis (1/7/2021).

Onny menegaskan, selama nakes menunggu hasil tes swab, diisolasi mandiri. "Tidak ada nakes dengan status terkonfirmasi COVID yang memberikan pelayanan kepada masyarakat," katanya.

Mana yang benar, biar masyarakat yang menilai. Ada aksi, sudah direaksi.

Tapi, coba pindah ke berita dari Kediri, Kamis (1/7/21). Nakes RSUD Gambiran kewalahan. Saking banyaknya pasien Corona. Mereka bekerja lebih ekstra. Risiko tinggi. Karena kalau kelelahan daya tahan mereka pasti merosot.

Karena nakes kelelahan, kerjanya lambat. Sehingga terjadi penumpukan pasien di IGD, menunggu perawatan.

"Pasien datang tak berhenti. Kondisi selalu sudah buruk. Menumpuk di IGD. Itu membuat kami stres. Pasien yang datang duluan, belum dapat kamar, sudah ada lagi pasien baru," ucap Gigih, Kepala Ruang IGD RSUD Gambiran Kota Kediri, Kamis (1/7/2021).

Total kapasitas IGD RSUD Gambiran 18 bed. Namun sejak terjadi lonjakan kasus COVID-19, jumlah pasien baru tak kurang dari 30 orang per hari. Numpuk-lah.

Di situ ada 34 perawat dan bidan, serta 20 dokter. Bekerja secara bergilir.

Rasio jumlah pasien dengan tenaga medis tidak seimbang, jauh. Akibatnya tenaga medis, selain lelah juga merasa ngeri.

Akhirnya, selalu ada tenaga medis yang tidur di dalam lemari. Ngumpet. Biar tidak kelihatan pasien, yang maunya layanan cepat.

"Di IGD ada lemari besar. Kami sembunyi di dalamnya. Nyuri-nyuri waktu untuk duduk atau sekedar bersandar. Tak terasa sampai tertidur. Lelah, kami sangat lelah," tegas Gigih.

Ratusan kisah-kisah nyata seperti itu. Di berbagai daerah. Tapi masyarakat sudah kekurangan empati.

PPKM Darurat, diharapkan menurunkan jumlah kasus. Mengajari kita berempati. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.