Pemerintah Terlalu Lemot di Vaksinasi

 

Target vaksinasi RI, 208,2 juta orang. Atau 416,4 juta suntikan. Per Selasa (27/7/21) sudah 63 juta suntikan. Kurang 353,4 juta suntikan. Kalau rata-rata suntikan sejuta per hari, herd imunity setahun lagi.

Jubir Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, semula target vaksinasi nasional 181,5 juta orang. Berubah jadi 208,2 juta. 

“Karena, ada penambahan anak usia 12-17 tahun boleh divaksin,” katanya di dalam KPCPEN yang tayang live streaming di Youtube FMB9ID_IKP, Selasa (27/721).

Sedangkan, jumlah orang tervaksin per Selasa (27/7/21) seperti data di atas, 63 juta suntikan. Rincian: Sekitar 45 juta suntikan tahap pertama. Dan 18 juta tahap kedua.

Sedangkan, kecepatan penyuntikan kini rata-rata sekitar 900 ribu per hari. Meskipun Presiden Jokowi menargetkan 2 juta per hari. Kenyataan di lapangan, aparatnya cuma mampu segitu. 

Mengapa cuma segitu? Nadia menjelaskan, memang belum pernah tercapai target 2 juta suntikan per hari. Tapi, menjelang akhir Juni 2021 sudah sekitar 1,5 juta suntikan per hari.

Lalu, mulai awal Juli 2021 jumlah kasus Corona meningkat drastis. Sampai 54 ribu kasus per hari pada pekan pertama Juli 2021.

Nadia: “Kita tahu juga di masa peningkatan kasus ini masyarakat dihimbau untuk lebih banyak di rumah. Mengurangi mobilitas. Kemudian masyarakat tidak berani keluar rumah, sehingga akselerasi untuk kembali mencapai 1,5 juta dosis ini tertunda.”

Menurutnya, awal Juli sampai dengan minggu ketiga ini, suntikan vaksinasi per hari hampir 1 juta. Fluktuatif antara 900 ribu sampai 1,1 juta.

Itulah fakta. Menurut jubir Corona. Kembali ke data di atas, kurang 353,4 juta suntikan untuk mencapai target herd imunity (kekebalan masyarakat). Jika kecepatan menyuntik sejuta per hari, herd imunity setahun dari sekarang.

Sementara, jumlah stok vaksin nasional, menurut Nadia, 151,9 juta dosis (per 27 Juli 2021). yang sudah tersebar ke berbagai daerah. 

Tapi, gelontoran vaksin dari luar negeri, terus deras mengucur. Jadwal kedatangannya, menurut dia, begini:

Sepanjang Juli 2021 datang 54 juta vaksin Sinovac, 6,7 juta AstraZeneca,  4 juta Sinopharm vaksin gotong royong, 4,5 juta Moderna. Total selama Juli 69,2 juta.

Agustus 2021 total datang 60 juta dosis. September 60 juta dosis. Oktober, Novermber dan Desember 70 juta dosis.

Jadi, prediksi yang akan masuk sampai Desember 2021, total 259,2 juta dosis. Ditambah stok sekarang 151,9 juta dosis. Total 411,1 dosis. Atau sudah melewati target, kekurangan 353,4 juta suntikan.

Kesimpulannya, banjir vaksin. Tapi pemerintah tidak mampu menyuntikkannya secara cepat.

Itu sebabnya, Presiden Jokowi sempat marah kepada aparatnya. Gegara stok vaksin terlalu banyak. Vaksin bukannya di-stok, mestinya disuntikkan.

Itu disampaikan Presiden Jokowi dalam Rapat Terbatas Evaluasi PPKM Darurat di Istana Merdeka, Jumat (16/7/21), dikutip dari akun Youtube Sekretariat Presiden.

Jokowi: "Tolong dilihat betul angka-angkanya. Karena yang saya melihat data yang masuk, baik itu berupa vaksin jadi, maupun bulk yang sudah masuk ke negara kita, sudah 137 juta. Padahal yang sudah disuntikkan dalam vaksinasi itu kurang lebih 54 juta.”

Dilanjut: "Artinya stok yang ada, baik mungkin di Bio Farma maupun di Kementerian kesehatan atau mungkin di provinsi, di kabupaten, di kota, di rumah sakit, di Puskesmas-Puskesmas terlalu besar.”

Jokowi meminta Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin segera menghabiskan stok vaksin.

"Tidak ada stok untuk vaksin. Artinya dikirim langsung habiskan, kirim langsung habiskan, kirim langsung habiskan," tegasnya.

Amukan Presiden Jokowi itu pada 16 Juli 2021. Ketika sudah 54 juta suntikan (campuran dosis pertama dan kedua). Sedangkan data menurut dr Siti Nadia, sampai 27 Juli 2021, sudah 63 juta suntikan.

Dikalkulasi, selama 11 hari kecepatan petugas kita menyuntik cuma 9 juta suntikan. Atau rerata per hari cuma 818 juta suntikan. Tidak seperti dikatakan Jubir Corona dr Siti Nadia, yang mengatakan rerata sejuta suntikan per hari.

Ditarik mundur ke belakang, vaksinasi di Indonesia dimulai Rabu, 13 Januari 2021. Untuk Jakarta. Sedangkan untuk daerah dimulai sehari kemudian.

So…. selama 6 bulan 14 hari (sampai 27/7/21) hasil kerja vaksinasi pemerintah 63 juta suntikan. Atau sekitar 10 juta suntikan per bulan. Atau 333.333 suntikan per hari, se Indonesia. 

Betapa lemot-nya pemerintah.

Sebaliknya, masyarakat kini cenderung takut tertular Corona. Beda dengan dulu yang ogah divaksin. Masyarakat takut, sebab mereka menyaksikan, keluarga, kerabat, teman tertular Corona, ketika jumlah kasus melonjak di awal Juli 2021.

Karena takut, masyarakat berbondong-bondong minta divaksin. Sedangkan, kecepatan kerja pemerintah seperti itu. Kewalahan. Sampai merekrut mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Dijadikan petugas vaksinator.

Sehingga, jika ada buzzer pro pemerintah yang menyatakan, pemerintah diganggu oleh hoaks tentang vaksinasi. Atau hoaks yang menyatakan bahwa Corona adalah konspirasi, atau tidak nyata, adalah kebohongan juga.

Dari data di atas menunjukkan bahwa pemerintah kewalahan melayani ketakutan masyarakat, yang minta segera divaksin.

Kalau buzzer pro pemerintah masih mengumandangkan, bahwa pemerintah diserang oleh buzzer lawan, berarti buzzer pro pemerintah terlalu manja. Cemen. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.