Mengapa dr Lois Dipercaya?

 

Pandemi hampir setahun setengah. 3 Maret 2020 sampai 14 Juli 2021 (cut off pukul 12.00) total 2.670.046 kasus. Tapi mengapa pendapat dr Lois Owien dipercaya banyak orang? Begitu bodoh-kah masyarakat kita?

Jawaban akurat dari pertanyaan itu, mesti melalui riset. Tidak bisa serampangan. Dan, riset soal itu belum pernah ada.

Meskipun data Badan Pusat Statistik per 31 Desember 2020, rata-rata lama sekolah rakyat Indonesia 8,7 tahun. Atau, rerata orang Indonesia putus sekolah di kelas 3 SMP.

Putus sekolah di kelas 3 SMP, tidak bisa disebut ‘bodoh’, dalam arti tidak percaya adanya Corona. Sebab, data 2.670.046 kasus (di atas) sekitar satu persen dari populasi Indonesia. 

Artinya satu dari 100 orang Indonesia (termasuk bayi-bayi) kena, atau pernah kena, Corona. Artinya, keluarga, kerabat, teman, kenalan, kena Corona. Yang, tidak mungkin membuat rakyat tak percaya Corona.

Tapi, mengapa dr Lois, dan beberapa orang sejenis, seperti dr Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan RI), Jerinx, Mardigu Wowiek, dipercaya publik? Bahkan, muncul teori konspirasi yang juga dipercaya masyarakat.

Apakah materi yang disampaikan dr Lois (dan orang-orang berpendapat sejenis) itu ‘terlalu sulit’ dicerna oleh rerata ‘putus kelas 3 SMP’? 

Karena terlalu ‘sulit dicerna’, mengakibatkan mereka terombang-ambing, sehingga sebagian ‘menyerah - pasrah’ jadi pengikut (sependapat) dr Lois?

Dan, apakah dukungan terhadap Lois CS menjadi masif, karena maraknya pengguna medsos, sehingga sangat cepat menyebar?

Tetap saja, semua pertanyaan itu tidak bisa dijawab secara akurat, tanpa riset. Kalau toh, dipaksakan dijawab, sifatnya prediksi alias kira-kira.

Tapi, bahwa dr Lois masuk ranah politik, adalah fakta. Ketika ia balas-berbalas argumen via sosmed (Twitter) soal Corona dengan dr Berlian Idris, beberapa waktu lalu.  

Dokter Berlian Idris bahkan sempat disebut sebagai kaki tangan Presiden Jokowi oleh dr. Lois beberapa waktu yang lalu sebelum dr. Lois ditangkap polisi.

Semula dr. Berlian Idris mengungkapkan cuitan Presiden Jokowi soal perawatan Covid-19, lantas ia mempertanyakan pendapat Lois soal itu.

Cuitan dr Berlian Idris: "Apakah @LsOwein mengatakan bahwa Presiden Jokowi sedang menganjurkan peracunan massal penderita #COVID19?"

dr. Lois mengiyakan, dan menyebut bahwa dr Idris adalah kaki tangan pemerintah, dalam hal ini melakukan peracunan massal.

"Yup!!. Dan tanpa sadar Dokter-dokter seperti anda jadi kaki tangannya," tulis dr. Lois dengan akun @LsOwein.

Debat di sosmed itu mengindikasikan politis. dr Idris di pihak pemerintah, dr Lois sebaliknya (oposisi).

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sejak Januari 2020 hingga Maret 2021, terdapat 2.697 konten hoaks soal COVID-19 bertebaran di media sosial. Paling banyak beredar di Facebook dan Twitter. Semuanya bersifat menghasut, agar orang tak percaya bahwa Corona memang ada.

Fakta: Ribuan hoaks. Menghasut. Agar masyarakat tidak percaya pemerintah.

Gampangnya, masyarakat terbagi dua: Kelompok rasional, dan kelompok penyangkal (denial).

Kubu rasional mempercayai sains dan kaidah ilmiah. Mereka menganggap pandemi COVID-19 harus dihadapi dengan serius. 

Kubu penyangkal, yakni orang-orang yang menganggap Corona adalah rekayasa. Terkait bisnis macam-macam, antara lain obat, vaksin, alat kesehatan, dan sebagainya. Intinya mereka menganggap, Corona sebenarnya tidak ada. Sengaja diadakan sebagai rekayasa.

Masyarakat yang rerata ‘putus di kelas 3 SMP’ terombang-ambing di antara dua pendapat ‘sulit’ itu. Digoreng via sosmed. Seiring waktu, terbentuk polarisasi. Makin lama makin menguat. 

Upaya negara dan ilmuwan, termasuk media massa, kesulitan mengedukasi masyarakat. Karena sudah terpolarisasi. Kubu penyangkal hanya percaya pada pendapat yang mendukung sikap politik mereka.

Sehingga, Lois Owien, Jerinx, Mardigu Wowiek, Siti Fadilah Supari mendapatkan panggung. Ketika Lois menuding dr Berlian Idris sebagai ‘kaki tangan Jokowi’, maka pendukung Lois bersorak-sorak. Karena di istilah itulah sikap politik mereka terwakili.

Jadi, dalam situasi bangsa yang sangat berat didera bencana Corona ini, sikap politik di masyarakat tetap hidup. Luar biasa. Dan, terus dihidupkan oleh pihak tertentu. Memanfaatkan kondisi bangsa ‘putus sekolah di kelas 3 SMP’.

Seumpama kubu penyangkal menang dalam perang opini (via medsos) ini, maka sangat berbahaya. Masyarakat bisa terpengaruh, tidak menuruti anjuran pemerintah. Terkait pengendalian Corona. Atau, pemerintah kehilangan kepercayaan publik.

Selanjutnya bisa dibayangkan. Apa yang bakal terjadi. 

Sementara itu, warga negara Jepang berbondong meninggalkan Indonesia, Rabu (14/7/21) pagi melalui Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Menteri Sekretaris Kabinet Jepang, Katsunobu Kato, dikutip dari Nikkei Asia, Selasa (13/7/21) mengatakan, hal itu disiapkan sebagai langkah antisipasi. Karena Corona menggila di Indonesia, belakangan ini.

Untuk itu, pemerintah Jepang telah menyiapkan penerbangan khusus untuk mengevakuasi warga mereka di Indonesia menyusul lonjakan kasus virus corona dalam sepekan terakhir. 

"Untuk melindungi warga negara Jepang, kami telah memutuskan untuk mengambil tindakan. Sehingga orang Jepang yang ingin pulang, dapat kembali ke Jepang sesegera mungkin, dan sebanyak mungkin orang," kata Katsunobu Kato, Selasa (13/7/21) dikutip dari Nikkei Asia.

Lalu, bagaimana pengaruhnya pada bisnis dan investasi Jepang di Indonesia? Jawabnya, harus melalui riset.

Tapi, setidaknya, ketika masyarakat kita terpolarisasi, kerugiannya dua: 

Pengendalian pandemi bisa rusak. Yang pada akhirnya menghancurkan perekonomian nasional. Di sisi lain, kita ditinggalkan investor asing yang takut ketularan Corona.

Ibaratnya, kita sudah kena pukulan jarak pendek upper cut, dan ketika terhuyung ditambahi long hook. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.