Mengapa Corona Merajalela

 

Video cowok logat Tegal: “Ndan, takon: Soal Covid-19 di Korsel bagaimana, ya? Soalnya di Indonesia kok makin merajalela. Makasih ndan.”

Video TikTok itu viral. Ditonton jutaan orang. Si cowok memutar kamera, menunjukkan, bahwa ia berada di tengah jalan di Korsel. 

Ia menjawab pertanyaan: “Di sini Covid ada, tapi tidak merajalela seperti di Indonesia. Sebab, masyarakatnya tertib disiplin….”

Orang Indonesia jika berada di negara yang lebih maju dari Indonesia, jadi ketularan cerdas. Berpikir kritis. Ia bisa menjelaskan detil, bagaimana sikap masyarakat Korsel menghadapi Corona.

Sebaliknya, di Jakarta, ada tiga peristiwa kemarin. Pertama: 

Di pos penjagaan PPKM Daan Mogot, terjadi keributan, Rabu (7/7/21) pagi. Anggota Paspampres, Praka IG, berangkat tugas naik motor, melewati pos jaga Daan Mogot. Ia dicegat petugas. Meski sudah mengatakan, bahwa ia anggota Paspampres, tetap dicegat.

"Kalau kamu Paspampres, kenapa memang?" ujar seorang polisi seperti tampak di video yang beredar.

"Iya, saya salah," ujar Praka IG. Kemudian tampak IG diperiksa petugas. 

Malamnya, sekitar 50 anggota Paspampres bermotor mendatangi Mapolres Jakarta Barat. Mereka mencari polisi yang menanyai IG. Nyaris terjadi insiden. 

Asintel Paspampres, Kolonel Inf Wahyu, segera menyusul 50 kawannya itu. Membujuk mereka, supaya tak terjadi keributan. Kawan-kawannya pun menurut.

Dan Paspampres, Mayjen TNI Agus Subiyanto, menyatakan, ucapan polisi itu menyinggung institusi negara (Paspampres). 

Agus: “Petugas jaga PPKM Daan Mogot tidak paham aturan, bahwa tidak semua orang dilarang lewat. Ada karyawan atau petugas sektor esensial, ada sektor kritikal yang dibolehkan lewat.”

Peristiwa kedua: Di Jakarta kini masih banyak karyawan ngantor. Meski bukan sektor esensial, atau kritikal.

Lantas, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus di Polres Metro Jakarta Pusat, Kamis (8/7/2021) mengatakan:

Polisi meminta para pengusaha untuk tidak egois dan mementingkan keuntungan semata di tengah kasus COVID-19 yang parah ini.

"Kami bergerak terus mengingatkan para pimpinan-pimpinan perusahaan, tolong jangan egois," kata  Yusri. "Lihat, kuburan saja sudah penuh, apalagi rumah sakit maupun juga Wisma Atlet yang ada. Apa mau pegawainya jadi korban?"

Nah, PPKM ini aturan hukum, kok polisi bersifat mengimbau. Sampai menyebut kuburan segala. Jadi malah mundur.

Tapi, Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran, tegas: "Kita sikat majikan yang tidak berkepentingan kepada keselamatan dan kemanusiaan," katanya, Kamis (8/7/2021).

Fadil: "Hasil observasi saya di lapangan, hasil interview saya di jalan, masih banyak masyarakat, karyawan yang bekerja karena disuruh, diperintah oleh atasan atau majikan. Akan kita sikat.

Peristiwa ketiga: Tukang Bubur Ayam, Sawa Hidayat (34) kena denda Rp 5 juta.

Ia buka warung di trotoar di simpang Jalan Galunggung-Jalan Gunung Sabeulah, Kota Tasikmalaya, Rabu (7/7/2021) sore. Ada beberapa pengunjung makan di tempat. Ketika petugas PPKM datang. Sawa dinyatakan melanggar aturan PPKM. 

Berdasar aturan, denda Rp 5 juta atau diganti kurungan lima hari. Sawa ogah dikurung, tapi juga tak punya duit bayar denda. Maka, ia mencari utangan.

Peristiwa itu diviralkan di medsos. Presenter Robby Purba, pembawa acara klenik ANTV, di medsosnya menyalahkan petugas. Membela tukang bubur yang melanggar aturan PPKM.

Akhirnya, Sawa diberi bantuan Rp 5 juta oleh pegiat budaya Tasikmalaya, Kang Uyung. "Sudah saya bayar ke kantor kejaksaan tadi pagi. Dibayar tunai Rp 5 juta dan diberi kuitansi pembayaran," kata Sawa.

Di peristiwa ini, masyarakat berpihak ke pelanggar hukum. Mereka hanya melihat ‘orang kecil’. Tanpa peduli, berdagang di trotoar melanggar hukum, plus menjual bubur makan di tempat, melanggar aturan PPKM.

Jadi, masyarakat kita seperti ini: Petugas lapangan tak paham aturan. Kalau pelanggar hukumnya perusahaan, diimbau sampai menyebut kuburan penuh. Sedangkan, tukang bubur dibela meskipun salah. Semua kebolak-balik.

Masyarakat kita masih tradisional. Seperti kata video cowok Tegal (di atas): Kita kalah jauh banding Korsel. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.