Makan 20 Menit, Cukup-kah?

 

“Maksimum makan 20 menit," bunyi aturan PPKM Level 4, yang diumumkan Presiden Jokowi di konferensi virtual, Minggu (25/7/21).  Lalu heboh komentar. Anggota DPR, Saleh Daulay : “Bagus, tapi sulit.”

Karena, lanjutnya, terbatasnya jumlah aparat dibanding jumlah tempat makan yang ada.

Saleh kepada wartawan, Senin (26/7/21): "Aturan ini sepintas sangat baik. Apalagi bisa diterapkan secara ketat. Namun, akan sulit untuk diawasi. Sebab, ada banyak restoran dan rumah makan di Jakarta. Sementara, aparat kepolisian dan Satpol PP jumlahnya sangat terbatas. Kan tidak mungkin mereka nongkrongin satu-satu rumah makan yang ada.”

Walau terdengar lucu, tapi Saleh tidak sedang melucu. Bayangan orang mendengar komentar itu: Perlu sangat banyak petugas. Mengawasi orang makan. Sambil membawa stopwatch.

Saleh, yang Ketua Fraksi PAN DPR ini, meminta pemerintah menegaskan pemilik warung makan. Supaya konsisten menerapkan aturan. 

Jika tidak, pemerintah setempat akan kesulitan secara teknis terhadap aturan yang ada.

Saleh: "Pemilik restoran harus punya kesadaran sendiri terkait dengan pelaksanaan aturan tersebut. Tanpa itu, pemerintah pasti akan menemukan kesulitan teknis dalam melakukan pengawasan.”

Saleh sedikit meleset. Karena yang dimaksud dalam aturan itu adalah warung makan kaki lima di tempat terbuka. Bukan usaha restoran atau sejenisnya. 

Meskipun definisi soal ini di Indonesia juga rancu. Misalnya, gubuk kardus beratap yang nempel di tembok suatu rumah mewah di pinggir jalan, apakah masuk kaki lima ruang terbuka, atau tidak?

Bunyi aturan yang diumumkan Presiden Jokowi itu begini:

"Warung makan, pedagang kaki lima, lapak jajanan, dan sejenisnya yang memiliki tempat usaha di ruang terbuka, diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat, sampai pukul 20.00, dan maksimum waktu makan untuk setiap pengunjung 20 menit," ujar Jokowi dalam konferensi virtual yang ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (25/7/2021).

Sedangkan, restoran/rumah makan, kafe dengan lokasi yang berada dalam gedung/toko tertutup, baik yang berada pada lokasi tersendiri maupun yang berlokasi pada pusat perbelanjaan/mall, hanya menerima delivery/take away dan tidak menerima makan di tempat (dine-in).

Tapi, komentar Saleh tergolong kritis. Bayangkan, seandainya dua kriteria ini terpenuhi: 1) Seandainya, jumlah petugas sebanding dengan jumlah warung kaki lima. 2) Seumpama, para petugas berbekal stopwatch.

Tetap saja sulit. Karena pengunjung start makan, belum tentu bersamaan.

Juga, bisa saja dipertanyakan: Bagaimana, kalau pemilik warung gak ngerti? Atau pura-pura gak ngerti? Bukti, jumlah pelanggar PPKM selama ini sudah begitu banyak.

Stop. Itu terlalu bertele-tele. Lalu, apa kata dokter, soal makan 20 menit? 

Ahli kesehatan masyarakat, dokter Tan Shot Yen dalam wawancara dengan CNN Indonesia, yang dipublikasikan Senin (26/7/21) mengatakan:

Ukuran lama waktu makan orang pe orang, tidak bisa digeneralisir. Lama waktu yang diperlukan untuk makan bergantung pada jenis makanan, kepadatan makanan, ukuran makanan (porsi), serta kondisi fisik seseorang.

"Tergantung jenis makanan apa yang dimakan, berapa porsi? Kalau banyak, butuh waktu. Juga tergantung orangnya, " kata Tan Shot Yen.

Dokter Tan menukik ke detil. Waktu mengunyah setiap orang, berbeda-beda. Patokan, bahwa mengunyah makanan (menurut pakar kesehatan) harus 32 kali, juga tidak bisa digeneralisir.

Misal, makan pisang tidak perlu dikunyah sampai 32 kali. Tapi, makan daging, apalagi yang alot, tentu bisa disesuaikan sendiri oleh si pengunyah. Tidak mungkin-lah… ia menelan bronggolan daging.

Maka, Tan sampai pada kesimpulan dan saran sederhana: “Kalau sudah 20 menit makanan belum habis, ya… bisa dibungkus. Dibawa pulang.”

Gitu aja, kok repot.

Pendapat pakar Indonesia bisa kurang memuaskan. Coba, simak wawancara di radio ilmu kesehatan The Scope, milik University of Utah, Amerika, soal itu.

Wawancara antara Prof Staci McIntosh, pakar diet, kini Asisten Profesor di Departemen Nutrisi di Universitas Utah, dengan reporter The Scope. Yang dimuat di jurnal University of Utah, 8 Mei 2014. Berikut cuplikannya:

Pewawancara: Seberapa penting mengunyah makanan? Dan, apa artinya?

McIntosh: Mengunyah makanan Anda, itu penting. Ini adalah langkah pertama dari pencernaan mekanis. Sangat penting untuk tidak tersedak saat Anda menelan.

Pewawancara: Seberapa penting? Apa tujuannya?

McIntosh: Karena dibutuhkan sekitar 20 hingga 25 menit agar hormon dalam tubuh Anda mencapai otak untuk memberi tahu Anda, bahwa Anda sudah kenyang. 

McIntosh mencontohkan: Jika saya makan seluruh Big Mac dalam lima menit, itu tidak cukup waktu bagi otak saya untuk mengirim sinyal, ketika saya kenyang. Tapi jika saya makan malam dalam waktu 30 menit, maka otak saya akan mengirimkan sinyal, bahwa saya sudah kenyang. jauh sebelum saya menghabiskan seluruh makanan.

Intinya: Butuh waktu 20 - 25 menit, sejak gigitan pertama, agar otak mengirimkan sinyal, saat orang harus stop makan, sebelum kenyang. Jika orang makan sebelum batas waktu tersebut, dan sudah harus stop, maka sinyal dari otak yang menandakan orang tersebut kenyang, datang terlambat. 

Orang kita menyebutnya begah, kekenyangan, kewaregan.

Menurut Prof McIntosh, dampak buruk makan dibatasi dalam 20 menit adalah: Kebanyakan makan. Karena makanan bakal dijejal-jejalkan. Sehingga kegemukan. Maksimal, obesitas.

Tapi, aturan PPKM itu ‘kan hanya untuk warung makan kaki lima. Yang pengunjungnya rata-rata berbadan kurus. Jadinya klop. Biar mereka agak gemukan.

Akhirnya, peraturan itu akan sampai pada penafsiran: “Arek-arek mestine kudu ngerti dewe, lah…” Ini demi kita bersama, loh. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.