Kisah Serakah di Zaman Corona

 

Ada dua content viral medsos, Minggu (18/7/21). Dari domestik, soal kremasi jenazah di Jakarta. Dari internasional, Prof Dame Sarah Gilbert, pembuat vaksin AstraZeneca, Inggris.

Di domestik, beredar cerita mengenaskan. Dari warga Jakarta Barat bernama Martin. Beredar di grup-grup WA. Menggulung viral.

Yang kemudian dibenarkan Anggota Komisi E Bidang Kesra, DPRD DKI Jakarta, Ima Mahdiah. Ima kepada wartawan, Minggu (18/7/21) mengaku, mendapat laporan langsung dari Martin.

Inti laporan yang diterima Ima, sama persis dengan yang viral di grup-grup WA. Dugaan kartel di bisnis kremasi jenazah di Jakarta.

"Saya cek, memang kremasi banyak dikuasai swasta dan mereka menaikkan harganya berkali-kali lipat," kata Ima. Harga normal sekitar Rp 2,5 juta, jadi sampai Rp 80 juta. Konsumen terpaksa, daripada jenazah membusuk.

Cerita Martin begini:

Senin (12/7/21) pagi, ibunda Martin meninggal akibat Corona. Di sebuah RS di Jakarta. Martin didekati seorang pria, mengaku dari Dinas Pemakaman DKI Jakarta. Menawarkan jasa kremasi jenazah.

Martin mau, “Berapa pak?” tanyanya. Dijawab: “Rp 48,8 juta, di Karawang (Jabar). Sebab, jadwal di Jakarta penuh semua.”

Mendengar angka itu, Martin kendor. Ia menulis, enam pekan sebelumnya, 31 Mei 2021, kakak Martin di Jakarta meninggal akibat Corona. Dikremasi di Jakarta Rp 9 juta.

Lalu, 28  Juni 2021, dua kerabat Martin juga meninggal akibat Corona di Jakarta. Sama-sama dikremasi, masing-masing Rp 24 juta. Kenaikan harga berlipat-lipat.

Martin menolak tawaran harga Rp 48,8 juta. Ia telepon sana-sini, mencari jasa krematorium. Sebab, jenazah ibundanya dibatasi pihak RS, maksimal sehari. Harus diangkut. Freezer akan diisi jenazah yang antre.

“Saya telepon hotline berbagai krematorium di Jabodetabek. Kebanyakan tidak diangkat. Ada yang diangkat, jawabnya sudah full," tulis Martin.

Martin menghubungi pengurus kremasi, yang mengkremasi kakaknya, dulu. Pengurus itu menawarkan kremasi di Cirebon, harga Rp 45 juta. Tapi jadwalnya lima hari kemudian. Kalau saat itu juga harganya Rp 55 juta.

Martin menghubungi yang lain, yang mengkremasi dua kerabatnya. Malah harga sudah naik jadi Rp 65 juta.

Lalu, Martin balik lagi menghubungi yang di Karawang. Yang Rp 48,8 juta. Dijawab, sudah habis. Slot yang semula ditawarkan, sudah diambil orang.

“Kalau mau, ada satu slot di pinggiran Jakarta. Harga Rp 65 juta. Tapi cepat, putuskan, sekarang,” ujar si petugas pemakaman.

Akhirnya, Martin balik menghubungi yang di Cirebon yang Rp 55 juta. Cepat, deal. Karena sudah didesak pihak RS, agar jenazah diangkut.

Selasa (13/7/21) pagi jenazah ibunda Martin diangkut, keluar dari RS. Dibawa mobil jenazah. Ternyata di mobil itu ada satu peti jenazah lagi, jenazah orang lain. Martin tak bisa menolak lagi. Diangkut dua jenazah.

Tiba di krematorium Cirebon pukul 09.30. Saat itu Martin tahu, tarif jenazah satunya juga Rp 55 juta. Jadi, dua jenazah Rp 110 juta.

Di krematorium, Martin ngobrol dengan petugas pembakar jenazah. Dari situ Martin tahu, tarif yang diterima pihak krematorium Rp 2,5 juta per jenazah. 

Martin kecewa. Tapi tidak bisa apa-apa. Pembayaran sudah ditransfer. Dan, si petuga pemakaman DKI, tidak ikut ke krematorium. Petugas tinggal telepon ke pihak krematorium, transfer, dan krematorium tinggal bakar jenazah.

Martin menulis, dia menduga, ada kartel, kerjasama antara pihak RS, calo dari Dinas Pemakaman, dan pihak krematorium yang menyatakan jadwal penuh.

Martin menulis, terbaru, teman istrinya (perempuan) meninggal Sabtu pagi, 17 Juli 2021 di Jakarta akibat Corona. Hendak dikremasi. Harganya sudah Rp 80 juta.

"Itupun harus tunggu lima hari lagi. Akhirnya, dikubur di Rorotan, gratis, dibiayai pemerintah," tulisnya. 

Dari internasional, viral video di lapangan tenis Wimbledon, Inggris. Ini video lama, 28 Juni 2021. Tapi baru viral di sosmed Indonesia, Minggu (18/7/21).

Itu pertandingan final antara petenis Novak Djokovic melawan Jack Draper. Ditonton sekitar 7.500 orang. Semuanya tidak bermasker. Duduk berdempetan. Inggris sudah lama bebas masker.

Sebelum acara dimulai, presenter menyebutkan. Pertandingan itu terselenggara. Dan ditonton ribuan orang. Tanpa masker. Berkat vaksin AstraZeneca. Dan, salah satu pencipta AstraZeneca, diundang panitia, yang sekarang duduk di antara hadirin. Dialah Profesor Dame Sarah Gilbert.

Kamera mengarah ke wanita setengah baya, rambut pirang, berkostum merah, berkacamata. 

Ribuan orang bertepuk tangan. Terus-menerus. Prof Sarah kelihatan kaget. Menoleh ke kiri-kanan. Melihat orang-orang bertepuk tangan padanya.

Presenter mengumumkan: "Hebatnya, Prof Dame Sarah Gilbert mengikhlaskan hak paten. Dia tidak menarik hak paten AstraZeneca. Disumbangkan untuk kemanusiaan."

Tepuk tangan semakin keras. Seorang pria di bangku VVIP berdiri, sambil tetap bertepuk tangan. Maka, ribuan orang itu ikut berdiri. Standing ovation. Membahana di Stadion Wimbledon. Buat si rambut pirang, pahlawan kemanusiaan itu.

Dikutip dari BBC, pekan lalu AstraZeneca sudah diproduksi 900 juta dosis. Beredar se-dunia. Harga USD 2 per dosis. Hanya untuk biaya produksi - distribusi. Tanpa hak paten, yang sudah diikhlaskan Prof Sarah.

Di saat dunia dilanda ngeri terhadap Corona. Orang takut kena Corona. Takut miskin. Takut kelaparan, akibat krisis ekonomi. Ada si pirang Sarah. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.