Kewalahan Corona

 

India kewalahan dengan 300.000 kasus Corona per hari. Indonesia pada Sabtu (10/7/21) bertambah 35.094 kasus, kewalahan juga. Bentuk kewalahannya beda. India sampai membuangi mayat ke Sungai Gangga.

Maka, di rapat pejabat pusat dan daerah, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengusulkan, pemerintah membuat skenario terburuk 50 ribu kasus per hari.

Ganjar: "Kemarin kita rapat sama Pak Menko Marves, kita harus membuat skenario 50 ribu sehari," kata Ganjar dalam webinar 'Strategi Komunikasi Presiden dan Kepala Daerah dalam Penanganan Pandemi COVID-19', Jumat (9/7/21).

Angka 50 ribu kasus Corona per hari, hanya patokan. Tapi, Ganjar yakin tren mengarah ke sana. Dan, kalau kita sampai pada titik itu, masih seper enam India. Tapi, apa yang kira-kira akan dilakukan Menko Marves, Luhut Binsar Panjaitan?

Juru Bicara Luhut Panjaitan, Jodi Mahardi, mengungkap bahwa Luhut telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam lonjakan kasus baru Corona. 

Pertama: Ruang rawat intensif non-Covid di rumah sakit Jawa dan Bali akan dikonversi menjadi ruang rawat intensif Covid.

"Pak Menko Luhut meminta Menkes mengkoordinasikan hal ini, dan dibantu oleh TNI/Polri," kata Jodi kepada wartawan Jumat (9/7/21).

Jodi menyebut Luhut telah memerintahkan Menkes Budi Gunadi Sadikin agar segera memobilisasi kebutuhan SDM untuk melayani penambahan ruang rawat isolasi dan intensif. 

Para dokter atau perawat yang baru lulus, atau tingkat akhir, akan diberdayakan penanganan Covid-19.

"Pak Menko juga minta Kemenkes melakukan refocusing anggaran supaya penambahan ruang rawat isolasi dan intensif serta ventilator, HFNC, oksigen dan obat-obatan. Sehingga bisa memberikan pelayanan yang baik untuk mencegah kenaikan angka kematian," ucapnya.

Dia mengatakan melalui Kementerian Kesehatan, rumah sakit lapangan khusus Covid-19 dengan skala besar akan segera dibangun. Meski begitu, Jodi tak menyebut dimana lokasinya.

"Pak Menko Luhut juga minta anggaran untuk rapid antigen juga ditambah, agar Pak Menkes dan Kepala BNPB, supaya bisa melakukan testing dan screening lebih banyak," ujarnya.

Dari penjelasan Jodi, belum ada persiapan konkrit menghadapi skenario penambahan 50 ribu kasus Corona per hari. 

Selama ini, dengan peningkatan kasus secara konsisten, pemerintah selalu terkaget-kaget. Mikir, sementara jumlah kasusnya terus naik. Saat membuka Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, sebagai RS darurat Corona, sambil mikir akan membuka Rusun Pasar Rumput. Sambil mikir, dari mana tenaga kesehatannya?

Maka, kejadian di Depok, Jawa Barat, Jumat (9/7/21) ini cuma jadi catatan. Pria inisial AA (31) setelah meninggal dunia, pagi, baru-lah didatangi petugas Puskesmas Pancoran Mas Depok. Jenazah diswab. Menunggu dua jam, hasilnya positif Corona. Sorenya dimakamkan protap Corona.

"Iya setelah meninggal, diswab," kata Edwin, kakak ipar AA kepada pers, Sabtu (10/7/21).

Mengapa, sudah meninggal kok diswab? “Ya, mungkin untuk menentukan, meninggal karena Covid atau bukan,” katanya.

Awalnya, Edwin dan istri positif Corona, 21 Juni 2021. Maka, isolasi mandiri di rumah. Di rumah itu, ada ibu Edwin, anak Edwin yang berusia 8 tahun dan kakaknya dengan 2 anaknya. Mereka tinggal satu atap dan hanya disekat pintu.

"Ibu saya ketahuan baru kemarin, positif," kata Edwin.

Edwin menjelaskan, AA dan ibunya mengalami gejala batuk, demam dan pilek seminggu terakhir atau pada masa Edwin masih menjalani isolasi mandiri. 

Persoalannya, ibunda Edwin lumpuh, sedangkan AA penderita down syndrome. Sehingga tidak bisa jalan ke Puskesmas untuk tes swab. Maka, Edwin menelepon, meminta petugas Puskesmas datang melakukan tes.

Berhari-hari, berkali-kali Edwin menelepon pihak Puskesmas, tidak ada petugas yang datang. Sementara, Edwin, isteri dan anak-anaknya, isolasi mandiri.

"Sudah sering saya minta. Jawabannya: Nanti, kita lihat jadwal, gitu terus," ucapnya.

Sampai akhirnya AA meninggal Jumat (0/7/21) pagi. Pihak Puskesmas ditelepon lagi, baru datang siangnya. Melakukan tes swab. Positif. Sorenya jenazah diangkut dimakamkan  protap Corona. Di TPU Pasir Putih, Depok, sekitar pukul 18.30 WIB.

Camat Pancoran Mas, Depok, Utang Wardaya, dikonfirmasi wartawan Sabtu (10/7/21), membenarkan kasus itu. Ia mengaku pihaknya mengalami overload.

"Memang kondisinya pelayanan di puskesmas overload," ujarnya.

Maka, tak bisa dibayangkan jika 50 ribu kasus Corona per hari, seperti skenario Ganjar. Mungkin bisa seperti di India. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.