Ketika Jawa - Bali Digembok

 

Hari pertama PPKM Darurat dinilai pemerintah, lancar. Tapi, Indonesia tidak baik-baik saja. Karena jumlah kasus Corona terus naik. Jumlah kematian naik. Fasilitas kesehatan colaps.

Juru Bicara Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) mewakili Pemerintah, Jodi Mahardi, mengatakan, PPKM hari pertama, Sabtu (3/7/21) lancar. 

Pelaksanaannya lancar. Bahwa warga membandel, tetap bergerak di jalanan, ya…. biasa. Jalan diblokade, mereka mencari jalan tikus. 

Jodi dalam siaran pers daring di Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (3/7/21) jelang malam, mengatakan:

"Dari berbagai laporan yang dihimpun dari lapangan sampai dengan sore ini, pemberlakuan PPKM Darurat berjalan dengan lancar, tertib dan sesuai dengan Instruksi Mendagri Nomor 15 Tahun 2021." 

Dilanjut: "Kita tidak sedang baik-baik saja. Angka terkonfirmasi positif hari ini 27.913 dengan 493 kematian. Ada 13.282 sembuh. Angka kasus aktif masih 281.677 pasien.”

Suara berlawanan, disampaikan kelompok pemerhati Covid-19, bernama LaporCovid-19. Berdasar data mereka, selama tiga bulan sampai Sabtu (3/7/21) ada 269 pasien isoman meninggal. Atau rata-rata hampir 3 (tepatnya 2,98) meninggal per hari.

Isoman yang dimaksud: Isolasi mandiri di rumah, karena RS penuh, juga pasien Corona yang meninggal di sekitar RS, bisa di halaman parkir, sebelum sempat ditangani.

Dari mana data itu? "Berdasarkan hasil penelusuran tim LaporCovid19 di media sosial Twitter, berita online, dan laporan langsung warga ke LaporCovid-19," demikian bunyi keterangan pers bersama LaporCovid-19, ICW, dan YLBHI, Sabtu (3/7/21).

Itu menandakan, fasilitas kesehatan colaps alias bangkrut. 

"Ini menunjukkan pemerintah abai memenuhi hak kesehatan warganya, seperti dijamin Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan Nomor 6 Tahun 2018. Undang-undang ini menjamin bahwa di masa pandemi, setiap warga negara berhak mendapatkan layanan medis yang semestinya," tulis mereka.

Keterangan tersebut bisa diambil sisi positif, namun abaikan sisi negatif. Positifnya, fasilitas kesehatan memang colaps. Maka, warga harus menjaga diri agar jangan kena Corona.

Negatifnya, keterangan pers itu tendensius, berbau politis. Karena, Corona bencana non-alam. Force majeure. Tapi kita saksikan bersama, pemerintah berusaha keras mengatasi, walau tidak sepenuhnya mampu.

Analoginya: Suami penganggur, berusaha mencari kerja tapi tak dapat juga. Karena kondisi force majeure. Butuh sabar.

Inilah kesulitan Indonesia. Di tengah pandemi yang parah, ada beberapa orang berebut kuasa. Mereka mengerahkan kelompok masyarakat untuk berontak. Bahkan, Sabtu (3/7/21) beredar video, bakal ada demo besar dimotori BEM UI. 

Kita sudah kena Corona, masih juga disenggol Markona. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.