Jakarta Kota Kolaborasi

 

Jakarta dihebohkan: Pemrov DKI minta sumbangan barang ke beberapa Kedubes. Mulai laptop sampai ranjang. Untuk gedung baru perawatan pasien Corona, Rusun Nagrak. Padahal, anggaran Corona Rp 10 triliun.

Itu bukan hoaks. Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi mengutuknya. Katanya, anggaran penangggulangan Corona DKI tahun lalu Rp 5 triliun. Tahun ini juga Rp 5 triliun.

“Mengapa masih minta-minta, ke beberapa Kedubes, lagi?” katanya lewat keterangan pers, Jumat (2/7/21).

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, dikonfirmasi wartawan, membenarkan. Bahwa surat minta sumbangan itu berkop Sekretariat Daerah Biro Kerja Sama Daerah Pemprov DKI Jakarta.

"Ya, jadi kita ini kota kolaborasi. Tentu, kita mengajak semua masyarakat berkolaborasi bersama untuk saling membantu satu sama lain," kata Riza kepada pers, Kamis (1/7/21) malam. Maksudnya, Jakarta adalah kota kolaborasi.

Tapi, Jumat (2/7/21) surat-surat minta sumbangan ke berbagai Kedubes itu, ternyata sudah ditarik lagi. 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, kepada pers Jumat (2/7/21) mengatakan, penarikan surat itu ia ketahui setelah pihak Kemenlu RI meminta keterangan ke Pemprov DKI. “Sudah ditarik lagi,” ujarnya.

Tiga pejabat tinggi negara itu bicara ke pers, mengakhiri desas-desus spekulasi di masyarakat. Bahwa, kita minta sumbangan asing, itu memang fakta. Yang sudah dibatalkan.

Herannya, bagaimana surat rahasia itu bisa bocor? Siapa pembocornya? Kok bisa beredar ke grup-grup WhatsApp? Sulit dijawab.

Suratnya berkop resmi. Biro Kerja Sama Daerah, Pemprov DKI Jakarta. Berbahasa Inggris. Bertanggal 28 Juni 2021. Ke banyak Kedubes (His/Her Excellency Embassies in Jakarta). Ditandatangani Kepala Biro Kerja Sama Daerah, Andhika Permata.

Permintaan sumbangan, detil. Barang remeh-temeh. Seperti kipas angin, meja, kursi, sapu, pel, handuk, kanebo, juga laptop dan PC. Sampai ranjang medik bermonitor. Total 29 item. Masing-masing item sampai ribuan unit. Untuk masing-masing Kedubes.

Saking remehnya barang, banyak yang mengira, itu hoaks. Tapi, terus menyebar di medsos. Jadi gunjingan. Dibumbui micin politik. Jadi tambah seru. 

Di saat rumor beredar, Kemenlu berkepentingan menyelidiki. Sebab, permintaan sumbangan atas nama pemerintah RI kepada pemerintah asing via Kedubes, ada aturannya. “Itu telah diatur lewat UU Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri,” Jubir Kemenlu, Teuku.

Juga, berdasarkan Permenlu Nomor 3 tahun 2019 mengharuskan Pemda berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dalam melaksanakan hubungan luar negeri. Termasuk minta sumbangan.

"Kepentingan Kemlu adalah mengkonfirmasi kebenaran dari surat tersebut. Sekaligus memastikan pemahaman pihak terkait atas Undang-Undang hubungan luar negeri dan peraturan turunannya," katanya.

Setelah pihak Kemenlu memeriksa ke Pemprov DKI, diketahui surat yang sudah beredar itu dinyatakan dicabut. "Terkait alasan pihak Pemda minta sumbangan, kami tidak tahu" kata Teuku.

Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo, menyoal Rp 10 triliun anggaran Pemprov DKI menangani pandemi Corona. "Kami (DPRD DKI) yang menyetujui anggaran itu. Tahun 2020 Rp 5 triliun, tahun ini Rp 5 triliun lagi," katanya.

Anggaran itu terbesar dibanding semua provinsi di Indonesia. Melalui pos belanja tidak terduga (BTT).

Menurutnya, dengan itu, harusnya Pemprov DKI Jakarta mampu mengelola dengan baik kebutuhan warga Jakarta. Sudah dikalkulasi.

Mulai dari pasokan pangan, kebutuhan pengobatan, upaya testing Corona, sampai kebutuhan kesehatan warga yang membutuhkan tempat isolasi pada kebutuhan treatment.

“Apakah itu sudah dilakukan dengan alokasi anggaran tadi? Saya tidak tahu, karena realisasi penggunaan BTT itu tidak pernah ada. DPRD tidak pernah menerima data konkret penggunaan BTT,” ujar politikus PDIP, itu. Tambah jero.

Tapi, sudah-lah. Toh, suratnya sudah dicabut. Walaupun tidak ada klarifikasi, mengapa surat yang sudah beredar dicabut lagi. 

Kalau ini diungkit-ungkit, bisa dianggap bertendensi politis. Karena, soal elektabilitas Capres di Pilpres 2024, sudah digembar-gemborkan orang sekarang. Maka, yang beginian bisa ditunggangi. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.