Halo… Saya Sembuh dari Corona

 

Saya negatif Corona, Alhamdulillah. Melalui swab, Rabu (14/7/21). Sembilan hari dari saat swab dengan hasil positif, Senin (5/7/21). Atau, 16 hari dari saat awal merasa sakit flu, Senin (28/6/21). Kronologi begini:

Saya merasa tertular Corona, antara dua peristiwa: 

Sabtu (26/6/21) pagi saya beli pisang di pasar dekat rumah. Saya membuka masker, mencicipi pisang yang akan saya beli. Saya makan sebatang itu sampai habis. Trus, lupa menutup masker lagi. Jalan berdesakan di pasar.

Minggu (27/6/21) pagi saya naik Commuterline, Depok Baru - Manggarai PP, lengkap dengan naik Gojek (4 kali) dari dan ke stasiun. Masker nempel selalu, jaga jarak ketat. Penumpang sampai berdiri, saya duduk.

Senin (28/6/21) sore mulai batuk. Esoknya intensitas batuk meningkat. Esoknya lagi batuk ditambah pusing. 

Saya biasa memberi tenggat lima hari untuk gejala flu, tanpa obat. Mengukur, apakah zat imunitas bisa mengatasi? Biasanya bisa. Kalau lewat lima hari belum sembuh, barulah minum obat batuk.

Jumat (2/7/21) atau empat hari kemudian, intensitas batuk turun. Tapi malamnya tidak bisa tidur. Tidak sakit, tidak demam, tapi tidak bisa tidur. Sampai esok siang. Juga, penciuman hilang.

Sabtu (3/7/21) malam tak bisa tidur lagi. Minggu (4/7/21) siang, baru-lah tertidur. Sorenya, saya cari tes swab. Ternyata di beberapa klinik penuh, antre sampai panjang. Saya tes esoknya, Senin (5/7/21) pagi, kemudian siang hasilnya keluar: Positif.

Lapor Ketua RT via WA, dicatat, disarankan isoman di rumah. "Semua RS penuh pak," ujarnya. Ia beritahu, beberapa tetangga, si A, B, C, D juga isoman di rumah. Salah satunya meninggal, sehari kemudian.

Anggota keluarga saya tes swab, negatif semua. Saya menyendiri. Halaman depan rumah, ada bangunan 4 X 7 meter, pada 2009 jadi Warnet dan sudah bangkrut. Di situlah saya bertapa.

Saya umumkan di Facebook dan grup WA, bahwa saya Corona. Mohon doa. Juga saran. Reaksinya ramai, doa dan saran. Yang paling saya perhatikan, ini: "Tenang, jangan panik. Jangan takut. Jangan lupa berdoa."

Kebetulan, tidak ada pemicu panik. Semua biasa. Batuk tipis. Tidak pusing, tidak demam. Penciuman masih hilang. Makanan hambar. 

Satu lagi, sahabat saya di Mabes Polri, Sumarsono, meninggal dini hari itu, setelah lima hari berjuang melawan Corona. Insyaallah husnul khatimah.

Obat mulai saya minum. Cuma satu, obat batuk Acetylcystein 200 Mg, 3 X 1 per hari. Selebihnya vitamin-vitamin: Becom-zet, Im Boost, NutriMax. 

Juga kiriman dari kawan, mantan Wartawan Jawa Pos yang baik hatinya, Ita Nasyi'ah, minuman Probiotik, ProEm-1.

Seumpama saya minum semua itu, berlebihan. Berdesak-desakan. Semua yang berlebihan pasti jelek. Maka, saya minum ala kadarnya. Fungsi vitamin hanya mendukung zat imnunitas. Kecuali obat batuk, rutin sampai habis 3 hari.

Indikator yang saya pegang, jam tangan kesehatan. Di situ ada detak jantung, saya antara 77 sampai 79 per menit, di kondisi santai. Saturasi oksigen naik-turun antara 89 sampai 98%.

Olahraga, dengan sendirinya. Ruang isolasi itu dua lantai. Otomatis naik-turun tangga. Sehari bisa 10 kali. Atau, 10 lantai naik-turun per hari.

Berjemur kadang-kadang. Fungsinya, ‘kan mendukung zat imunitas. Nah, zat ini pemberian Allah, yang luar biasa dahsyat. Tak pernah tidur, dan selalu bertempur melawan siapa pun yang dianggap asing. Saya tahu ini dari wawancara dengan imunolog, ketika riset untuk menulis novel true story ‘728 Hari’, tentang pengidap Lupus.

Imunolog menyarankan, jangan terlalu meremehkan zat imunitasmu. Dengan pemberian terlalu banyak vitamin, dan terlalu banyak berjemur. Sebab, semua yang terlalu, pasti berdampak jelek. Tapi, bukan berarti dilarang didukung.

Berbekal itu, saya jalani hari-hari. Berdoa. Didoakan keluarga dan kawan-kawan. Batuk berangsur hilang. Penciuman pun muncul lagi.

Sejak awal sampai saya menulis ini, belum pernah demam, belum pernah sesak napas. Bekerja seperti biasa. Saya minta libur kerja sehari, di hari dinyatakan positif.

Hal penting, soal saran. Dari keluarga dan teman. Datang bertubi-tubi. Bervariasi. Kalau tidak tenang dan tegas, saya bisa kepleset.

Teman, seumpama tidak memberi saran, kok gak enak. Sawangane. Kok cuma doa. Kurang mantap.

Sehingga diberi-lah saran banyak. Mulai dari makan bawang lanang (sulit mencarinya), sereh, jahe merah, madu mentah, empon empon, uap air, vitamin A sampai Z. Semua bertujuan baik. Semua karena sayang padaku.

Belum lagi dari keluarga. Empat anakku membelikan vitamin dan buah beragam. Semua ngotot, agar itu semua kumakan. Supaya sehat, katanya. Sambil ketawa.

Agar tidak mengecewakan, kujawab: “Seandainya kumakan itu semua, sembuh dari Corona, tapi berubah jadi diabetes.”  Trus jemblung. Liwang-liwung. Puas kau?

O ya, kadar glukosa dalam darahku (1 - 2 jam setelah makan) di 143 mg/dL. Normalnya, harus kurang dari 180 mg/dL.

Soal saran ini penting. Jika Anda jadi suporter, keluarga atau teman yang Corona, berilah saran bijak. Jika Anda pasien, harus tegas hati-hati memilah aneka saran.

Kini saya kembali sehat. Berkat doa dan saran Anda semua. Terima kasih. Allah pasti membalas semua kebaikanmu. (*)

3 komentar:

  1. Leres Pak DWO, sdh banyak jg edukasi dr Dokter2 jika pengobatan masing2 orang itu sifatnya individual. Tdk bisa dibuat grabyak grubyuk seragam n latahan.

    Cuma masyarakat kita ini yg msh berbekal 'katanya' dan kurang menyadari jika masing2 tubuh orang itu unik, tdk bs dipaksakan sama. Hanya krn atas nama perhatian tp justru bs berpotensi membahayakan.

    Makanya sy pun tdk pernah nyuruh minum ini itu ke temen2 yg isoman, sy cm sarankan adanya pendampingan Dokter saja.

    Salam Sehat selalu pak DWO.
    Mari bersama edukasi masyarakat & berantas hoax covid yg lbh membawa efek buruk..

    BalasHapus
  2. Leres Pak DWO, sdh banyak jg edukasi dr Dokter2 jika pengobatan masing2 orang itu sifatnya individual. Tdk bisa dibuat grabyak grubyuk seragam n latahan.

    Cuma masyarakat kita ini yg msh berbekal 'katanya' dan kurang menyadari jika masing2 tubuh orang itu unik, tdk bs dipaksakan sama. Hanya krn atas nama perhatian tp justru bs berpotensi membahayakan.

    Makanya sy pun tdk pernah nyuruh minum ini itu ke temen2 yg isoman, sy cm sarankan adanya pendampingan Dokter saja.

    Salam Sehat selalu pak DWO.
    Mari bersama edukasi masyarakat & berantas hoax covid yg lbh membawa efek buruk..

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, benar yg disampaikan tetap tenang jangan panik, keluarga kami jg hampir semua kena, tetapi ikhtiar kami, olahraga, minum vutamin, probiotik dan terapi uap.

    Semoga sehat terus dan tidak kambuh lagi pak.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.