Dampak Pernyataan dr Lois di Pandemi

 

Rekor lagi, rekor lagi. Jumlah kasus Corona nasional, Senin (12/7/21)  40.427. Dibanding sehari sebelumnya 36.197 kasus. Terus naiknya jumlah kasus, memprihatinkan.

Di pelaksanaan PPKM Darurat, menurut Menko Marvest, Luhut Binsar Panjaitan, tingkat mobilitas warga turun sekitar 30 persen. Dianggap belum cukup menghambat.

Luhut mengatakan, dibutuhkan penurunan mobilitas warga sampai minimal 50 persen. Baru-lah, signifikan menghambat pertumbuhan jumlah kasus Corona.

Tapi, angka 30 persen itu pekan lalu. Di saat penumpang Commuterline di Jakarta belum diwajibkan membawa surat tanda registrasi pekerja (STRP). Dengan kewajiban STRP mulai Senin (12/7/21) tentunya tingkat mobilitas bakal turun.

Warga masih bergerak kesana-kemari (yang diduga menyebarkan Corona) karena berbagai alasan. Terutama karena mencari nafkah. Atau terkait nafkah.

Walau, masih ada orang bergerak karena tidak percaya Corona. Seperti dikatakan dr Lois Owein, yang ditangkap polisi karena membuat keonaran terkait Corona.

Kasus dr Lois dianggap bahaya. Karena dia dokter, meskipun bukan anggota IDI, dan STR (Surat Tanda Resgister) dokter sudah mati 2017. Toh, dia dokter. Yang pendapatnyi berpotensi dipercaya publik.

Senin tadi malam Lois dipindah dari Mapolda Metro Jaya ke Mabes Polri.Dia keluar dari ruang penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pukul 18.58 WIB. 

Dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Mobilnya berangkat ke Mabes Polri yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan dalam jumpa pers di Mabes Polri yang disiarkan melalui YouTube, Senin (12/7/2021) mengatakan:

"Dokter L telah menyebarkan berita bohong dan atau menyiarkan berita atau pemberitaan bohong, dengan sengaja yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan rakyat.”

Penyidik juga menangkap dr Lois atas dugaan pelanggaran terkait wabah penyakit menular.

"Dan atau menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular yang dia lakukan di beberapa platform media sosial," ujarnya.

Ahmad Ramadhan kemudian menyebutkan salah satu postingan dr Lois yang dinilai hoax itu, berbunyi demikian:

"Korban yang selama ini meninggal karena COVID-19 bukan karena COVID19, melainkan karena adanya interaksi antarobat dan pemberian obat dalam enam macam," jelasnya.

Maksudnya, Lois berpendapat, bahwa pasien Covid meninggal akibat interaksi antara-obat. Di rumah sakit, rerata pasien diberi enam macam obat. Itu dikatakan Lois kepada Pengacara Hotman Paris Hutapea, di  YouTube Hotman.

Pernyataan Lois itu, meskipun dinilai membahayakan sebagai unsur agitasi, namun mestinya dibuktikan kebenarannya. Ini masalah ilmiah, disampaikan dokter. Bukan hasutan kosong.

Masyarakat yang pernah dirawat di rumah sakit, juga paham tentang pemberian obat. Bisa bertumpuk-tumpuk. Apalagi, seumpama ada motif dokter memberi obat, karena ada insentif dari industri obat. Bakal lebih rumit lagi.

Maka, di kasus ini diperlukan saksi ahli. Yang dalam hal ini dr Tirta. "Kemarin saya diminta polisi jadi saksi ahli untuk statement dia," kata dr Tirta kepada pers, Senin (12/7/21).

Menurut dr Tirta, dia dimintai pandangan perihal narasi-narasi yang selama ini didengungkan oleh dr Lois lewat media sosialnya. Selain itu sejumlah perwakilan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) lain turut dimintai keterangan oleh polisi.

Menurut dr Tirta, dr Lois dijerat atas dugaan penyebaran informasi yang menghambat penanganan wabah penyakit menular.

"Tuduhannya menyebarkan informasi yang bisa menghambat penanganan wabah. Jadi kalau nggak salah kena UU wabah yang intinya menghalangi penanganan wabah di Indonesia," jelas dr Tirta.

Jadi, jumlah kasus Corona terus naik. Karena warga terus bergerak, meskipun sudah ada PPKM Darurat. 

Warga bergerak karena mencari nafkah. Sebagian karena terhasut oleh dr Lois. Begitu perjalananan logikanya. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.