Begini Rasanya Corona

 

Sepekan aku seperti kena flu. Akhirnya, Senin (5/7/21) tes Swab: Positif Corona. Tertegun membacanya. Pikiranku melayang-layang, bahaya apa yang mengancam? Sesak napas. Saturasi. Maka, harus dirawat di RS.

Tapi di wilayah tempat tinggalku, Depok, Jabar, semua RS rujukan penuh. Ketua RT mengatakan, “Bapak isoman di rumah saja. Di RT kita ini ada belasan positif, semua di rumah.”

Dalam hati berontak. Ini penyakit bahaya. Masak, di rumah saja? Bagaimana kalau seumpama aku megap-megap?

Sambil mikir, beberes lokasi rumah yang akan kutempati isoman. Mikir, apakah perlu minta bantuan kawan supaya bisa dirawat? Berarti agak ngoyo.

Setelah agak tenang, kuputuskan isoman di rumah. 

Bukankah, selama sepekan terakhir sudah rasa flu. Mungkin, sejak itu sudah positif. Toh, gak ada masalah. 

Tadi aku panik, gegara baca kata ‘positif’ di hasil tes. Kini aku mantap isoman di rumah. Orang rumah, tes Swab: Negatif semuanya.

Isoman, ya… kondisinya sama dengan hari-hari kemarin. 

Batuk berdahak. Cepat lelah. Tiap bangun tidur, nyeri di pinggang. Telapak kaki ogah menginjak lantai tanpa sandal.

Orang kena Corona ini gejalanya macam-macam. Testimoni kawan-kawanku yang kena, sudah kubaca. Beda-beda. Beda gejala, beda reaksi, dan cara mengatasi.

Ada yang cerdas, berpatokan pada alat pemantau kondisi tubuh. Saturasi oksigen, kadar imunitas, kekentalan darah. Ini paling bagus.

Ada kawan yang isoman menceritakan kondisi tubuhnya dari hari ke hari. Dirangkai dalam satu tulisan. Berarti ia punya diary.

Ada kawan yang cuma pasang foto, ia terbaring di ranjang RS, dan tulisan mohon doa. Tak lama kemudian meninggal.

Kondisiku tidak ada yang istimewa. Sejak awal tidak pernah demam. Tidak pernah sesak napas. 

Tapi aku tahu, aku kena flu. Tandanya, telapak kaki ogah menyentuh lantai. Kalau dipaksakan, jari kaki nyekethem, berusaha menolak. Rasanya semriwing. Tidak sakit, tidak panas, tapi tidak enak.

Indikator kesehatan itu berdasar pengalaman. Masing-masing orang punya, dan beda-beda. 

Yang membuat aku tes swab: Indera penciuman berkurang sekitar 90 persen. 

Mungkin ini penting: Jika Anda kena Corona, umumkan ke medsos atau apa pun. Supaya diberi nasihat macam-macam. Orang menunda temu. Juga didoakan.

Nasihat dari teman-teman yang saya anggap penting: “Jangan takut, jangan panik.”

Awal orang tahu kena Corona, pasti takut dan panik. Sudah itu stress. Ini menyebabkan zat imunitas turun. Akibatnya virus merajalela. Karena perlawanan imunitas lemah.

Bagaimana cara, agar tidak takut dan tidak panik? Bersikap ikhlas. Pasrah kepada Allah, sang pemilik segalanya. Bahwa semua di dunia, sementara.

Kuresapi lagunya Scorpions: Dust in The Wind.

Dust in the wind…

All they are is dust in the wind. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.