Adakah Keistimewaan Nia dan Ardi Bakrie?

 

“Tidak ada keistimewaan,” kata Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Hengki Haryadi kepada pers, Jumat (9/7/21). Terkait penangkapan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, kasus narkoba. “Semua sama di mata hukum,” tegasnya.

Di Indonesia, setiap ada tokoh, atau keluarga tokoh, ditangkap polisi, selalu, ada pertanyaan semacam ini: Apakah diistimewakan?

Munculnya pertanyaan itu, menandakan secara umum, penegakan hukum belum benar. Yang kini terus diperjuangkan menjadi benar.

Ardi Bakrie adalah putera Aburizal Bakrie, konglomerat pemilik Bakrie Group, politisi Partai Golkar. Ardi Bakrie pun salah satu penguasa di bisnis Bakrie Group.

Bisnis Bakrie di sektor media massa bernama PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) dengan kepemilikan saham 52,69 persen lewat PT Bakrie Global Ventures. Maka, Ardi Bakrie Direktur Utama di Stasiun Televisi TV One dan media online Viva.co.id.

Ardi Bakrie juga Wakil Direktur Utama dari perusahaan milik grup Bakrie lainnya yaitu Bakrie & Brothers yang bergerak di komponen otomotif, produk solusi bangunan, infrastruktur, jasa kontruksi metal. Dan, banyak jabatan tinggi puluhan perusahaan milik Bakrie Group.

"Kami tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum," kata Kombes Hengki.

Hengki menepis anggapan publik, bahwa polisi 'main mata' dengan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie. Terkait, alasan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie tidak dihadirkan dalam jumpa pers, Kamis (8/7/21).

"Karena yang bersangkutan menjalani tes rambut dan darah," tuturnya.

Hengki berharap, kasus ini dijadikan pelajaran bagi Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie. "Anggap-lah ini jalan dari Tuhan, teguran dari Tuhan, mudah-mudahan ini jadi efek jera," katanya.

Siapa sih Hengki Haryadi? 

Ia lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 16 Oktober 1974. Pada 2013 ketika Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, ia meringkus kelompok preman Hercules.

Hengki beserta tim Satserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat pada 2013 itu mencokok Hercules dan kawanannya karena kerap memeras dan melakukan tindakan kekerasan kepada masyarakat di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Hercules dan kelompoknya, pertama kali dipenjara 26 Desember 2005 setelah merusak kantor surat kabar Indopos di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta. Setelah itu, kelompok ini seolah tak tersentuh hukum. Barulah ditangkap Hengki pada 2013.

Pada akhir 2018, lagi-lagi Hengki harus berhadapan dengan Hercules karena residivis itu terbukti mengintimidasi dan menyebarkan ketakutan kepada warga Kalideres saat mencoba menguasai lahan milik warga. Hercules berhasil kembali dijerat hukum.

Personel di bawah pimpinan Hengki (waktu itu ia Kapolres Jakarta Barat) berhasil mengungkap perbuatan Hercules yang merugikan masyarakat di Kalideres. 

Dari dua kali penangkapan itu, Hengki dikenang sebagai penangkap Hercules. 

7 Januari 2021 ia ditunjuk jadi Kapolres Jakarta Pusat menggantikan Kombes Pol Heru Novianto, setelah kerumunan di rumah Habib Rizieq di Petamburan, Jakarta Pusat.

"Jadi, sebagai polisi kami tidak takut, karena di belakang kami ada Tuhan, karena tugas kami ini bagian daripada ibadah," katanya. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.