Virus pun Dilibas, Apalagi Manusia

 

Corona, membosankan. Tapi kian mematikan. Mau dibahas melelahkan. Didiamkan, kerabat - teman kita mati karenanya. Pun, Jubir Corona, Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, masa pandemi ini masih lama.

"Prediksi, dua sampai tiga minggu ke depan, bakal terjadi puncak kasus," kata dr Siti kepada pers, Minggu (27/6/21).

Padahal, sekarang saja jumlah kasus luar biasa besar. Pekan lalu, setiap hari pecah rekor. Berturut-turut. Data dari Humas BNPB per hari, demikian:

21 Juni 2021 pecah rekor 14 ribuan kasus. Ini sudah top. Penambahan (per hari) tertinggi sejak pandemi dimulai. Angka tepatnya 14.536 kasus.

23 Juni 2021 pecah rekor lagi, 15 ribuan kasus. Angka tepatnya 15.308 kasus.

24 Juni 2021 pecah rekor lagi, 20 ribuan kasus. Lonjakan sangat tinggi banding sehari sebelumnya. Angka tepatnya 20.574 kasus.

26 Juni 2021 pecah rekor terus… 21 ribuan kasus. Angka tepatnya 21.095 kasus.

Total kasus sampai 26 Juni 2021 pukul 17.00 WIB, 2.093.962 sejak pandemi melanda Indonesia.

Itu bukan sekadar angka. Itu nyata. Nah… kata dr Siti, itu belum puncaknya. Coba, apa tidak menjengkelkan? 

Sekarang, RS penuh. Meluber ke tenda-tenda. Ada pasien tergeletak di bak mobil pickup, di halaman RS. Kuburan pun (Jakarta) ditumpang jenazah lain.

Aku jadi iri. Pada Amerika. Yang sempat kelabakan, jadi juara satu jumlah terbanyak. Kini mereka melenggang tanpa masker. Apalagi, pada China: “Kau yang memulai. Kini kau buka pariwisata, seluasnya.”

Mengapa mereka bisa, kita tidak? ‘Kan, virus tak pilih bangsa?

Selasa (14/04/2020) CNN memuat berita tentang mahasiswi Indonesia, Dela Efifania. Kandidat doktor Wuhan University of Technology, China. Saksi mata, lockdown Wuhan, Kamis 23 Januari 2020. Di awal Corona.

“Hari itu, pimpinan asrama, tempat tinggal kami, mendadak mengunci asrama. Semua dilarang keluar,” kata Dela kepada CNN. Di situ tinggal 200 mahasiswa internasional, 40 karyawan asrama. Terkunci.

“Lalu kami diberitahu, Wuhan (berpenduduk 11 juta jiwa) lockdown. Karena diduga ada virus baru.”

Bagaimana soal makan? “Disediakan semuanya. Kebutuhan makan minum, yang mendasar, dipenuhi semua. Gratis,” kata Dela. Termasuk bagi perokok.

Di luar kebutuhan dasar, beli. Via online. 

"Itu pun mahasiswa dilarang mengambil delivery, tapi penjaga asrama yang ambilkan barang-barang kita. Jadi, mereka bolak-balik pakai motor dari gerbang ke asrama," kata Dela.

Pegawai pemondar-mandir gerbang - asrama (sekitar 400 meter) naik motor itu, banyak. Kalau seorang… bisa gempor. Taruh-lah seorang mahasiswa sehari rerata pesan tiga kali. Maka, ada 600 kali bolak-balik. Katakan-lah itu berlangsung 10 jam per hari, maka sekali PP per menit. Kayak Gojek yang sangat sibuk.

Selama 76 hari. Baru-lah gerbang dibuka. Semua bebas keluar. 

Syaratnya: Bermasker, jaga jarak, hindari kerumunan. Pelanggar, langsung ditahan polisi, tiga bulan. Tanpa kompromi. Tak ada Komnas HAM. Tak ada pra peradilan. Langsung blung… penjara.

Mundur jauh. Dikutip dari Npr.org Jumat (26 Juni 2020) W (pria 56 tahun) pemilik stan di pasar seafood Huanan, Wuhan, China. Ia diduga kelompok orang pertama di dunia, yang positif Corona.

Kamis, 19 Desember 2019, malam. W pulang dari berdagang di pasar itu. Tiba di rumah, merasa tidak enak badan. Kayak flu. Dibiarkan. Esoknya tetap berdagang. 

Hari demi hari, tidak sembuh. Sudah minum obat flu, bahkan herbal China, tetap saja. Tapi, ia tetap berdagang di pasar.

Minggu, 29 Desember 2019 malam, W ambruk di rumahnya. Dilarikan ke IGD, RS Jinyintan, Wuhan. Esoknya, ia sesak napas. Para dokter di sana bingung, melihat gejala flu seperti itu.

Tim dokter bekerja cepat, dan serius, juga hati-hati. Tetap saja mereka belum tahu penyebab sesungguhnya.

W: "Lantas, pihak RS menelepon keluarga saya. Memberitahu, bahwa mereka harus mempersiapkan pemakaman saya, jika kondisi saya tidak segera membaik."

Begitu cas-cus, budaya orang sana. Yang tidak mungkin di sini.

Tim dokter bekerja lebih keras lagi. Pelan, W bisa bernapas normal. Lepas tabung oksigen. Walau selalu tersengal. Setelah 14 hari dirawat, W sembuh. 

W cerita ke wartawan Npr, ketika ia dirawat di RS Jinyintan, 30 Desember 2019, ia melihat, para dokter yang menanganinya, sudah pakai masker. Suatu yang tidak lazim, waktu itu.

Liputan Npr mengungkap, esoknya (31 Desember 2019) dokter ahli mata RS tersebut, Li Wenliang, memperingatkan dokter lain dalam obrolan chating antar dokter di situ, bahwa pasien baru itu (W) punya gejala yang mirip dengan beberapa pasien, yang baru saja masuk. Li menduga, itu virus baru.

Obrolan tersebut menyebar. Sehingga Li diperiksa polisi. Diinterogasi ketat. Juga tujuh dokter lain di situ. Polisi mengingatkan mereka: "Dilarang keras menyebar desas-desus, yang belum pasti."

Beberapa hari kemudian, dr Li meninggal, karena virus yang sama, yang menginfeksi W (Corona). Hal ini bocor, menyebar ke publik. Termasuk, chating dr Li kepada koleganya.

Akibatnya, publik sedih dan marah ke pemerintah, via sosmed. Tapi, tidak ada yang berani demo. Tetap tenang. Sebab, hukum di sana keras. Termasuk W, mewanti-wanti keras wartawan, agar namanya dipublikasi hanya inisial satu huruf saja. Demi keamanan.

Indonesia bukan China. Kita punya budaya dan aturan sendiri. Apa gunanya era Reformasi, kalau tanpa Komnas HAM dan sarana pra peradilan? 

Tapi, jangan salah. Pasal 28 E, ayat 3, UUD 1945, berbunyi: “Setiap warga negara berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Termasuk, berpendapat tentang cara China melibas virus Corona. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.