Sistem Korupsi Diungkap di Sidang


 Mirip marketing, korupsi punya target. “Target tahap pertama Rp 35 miliar, tapi terkumpul Rp 11,2 miliar, kami setor ke pak menteri,” kata Matheus Joko Santoso di sidang korupsi Bansos Corona Kemensos, di Pengadilan Tipikor, Senin (7/6/21).

Di sidang, eks Mensos Juliari Peter Batubara, terdakwa. Sedangkan, Matheus Joko Santoso (eks Pejabat Pembuat Komitmen - PPK bansos Corona) juga terdakwa. Dalam kasus yang sama, terpisah. Di sidang itu, ia saksi.

Korupsi, dari fee paket Bansos. Yang harus diberikan perusahaan penyedia paket Bansos (berupa Sembako) senilai Rp 300 ribu per paket, kepada Juliari Cs. Bansos sudah dibagikan ke warga Jabodetabek pada September 2020.

Dijelaskan Joko di sidang terbuka, bahwa pada akhir tahap pertama pembagian Bansos, akhir September 2020, pendapatan (diduga korupsi) Rp 11,2 miliar. Jauh, dari target yang ditugaskan Juliari (saat itu Mensos) Rp 35 miliar.

Pendapatan Rp 11,2 miliar, tetap diserahkan Joko kepada Juliari, melalui Adi Wahyono (eks Kuasa Pengguna Anggaran - KPA, Kemensos) yang juga terdakwa (kasus sama, dipisah). Hasil fee diterima Juliari, kata Joko.

Karena tidak memenuhi target, maka jabatan Joko dan Adi Wahyono dicopot oleh Juliari. Diganti oleh pejabat baru.

Joko Santoso: "Awal Oktober (2020), saya dan Pak Adi menghadap Pak Juliari di rumah dinas beliau. Terkait pergantian jabatan kami.”

Jabatan KPA dari Adi Wahyono digantikan Sunarti. Jabatan PPK dari Matheus Joko Santoso digantikan Adi Wahyono. 

Di situ ada pergeseran dan pencopotan. Adi digeser dari KPA ke PPK. Masuk pejabat baru Sunarti. Sedangkan, Joko Santoso ‘terlempar’.

Joko Santoso: “Di situ disampaikan beliau (Juliari), bahwa saya harus melepas pekerjaan dan mengembalikan uang yang dikumpulkan. Namun saya diminta membantu, terkait target yang belum tercapai sebanyak Rp 24 miliar lagi.”

Di kesaksian Joko diungkap, proses dugaan korupsi itu berjalan rapi. Persis sistem perusahaan dalam mengejar laba. Ada reward and punishment. Yang dinilai bagus diberi reward, yang jelek kena punishment.

Dalam korupsi, tentunya, orang yang kena punishment ini, berbahaya bagi organisasi. Bisa ngamuk. Dalam kasus ini, bukan Joko yang awalnya mengungkap. Sebab, ia juga dapat bagian hasilnya.

Dalam sidang itu, Juliari duduk sebagai terdakwa. Mendengarkan kesaksian. 

Juliari didakwa menerima suap Rp 32,4 miliar dari pengadaan Bansos berupa Sembako kepada rakyat. Dalam penanganan virus Corona atau COVID-19 di Kementerian Sosial, 2020.

Kriminolog Amerika, Donald Ray Cressey (1919 - 1987) dalam bukunya "Fraud Triangle Theory", korupsi disebabkan tiga hal: Tekanan, serakah, kesempatan. Teori ini jadi rujukan internasional, termasuk buku panduan di KPK.

Donald R. Cressey, dulu dosen kriminologi dan sosiologi California University, Santa Barbara, Amerika. Bidang studinya, kejahatan kerah putih. Setelah pensiun, ia jadi presiden di Institute for Financial Crime Prevention. Di situ ia menuliskan teori tersebut.

Fraud Triangle Theory: Penyebab nomor satu, tekanan. Ditujukan kepada pelaku korupsi. Hidupnya tertekan. Secara ekonomi. Tidak selalu karena miskin, melainkan tertekan secara ekonomi.

Tekanan bisa, kesulitan uang, hutang, perjudian, kecanduan alkohol atau narkoba, tagihan medis yang berlebihan. Berbagai hal yang membutuhkan uang.

Nomor dua, serakah. Pelaku korupsi (juga penjahat bermotif ekonomi lainnya) dipastikan serakah. Tidak tertekan keuangan. Tapi ingin lebih dari kondisi yang ia alami saat itu (korupsi terjadi).

Serakah, juga menyangkut kalkulasi. Dalam perspektif individu bersangkutan. Kalkulasi, bahwa ada ketidak-adilan (menurut pelaku). Antara hal yang ia kerjakan, dibandingkan hasil yang ia terima. Hasil dianggap terlalu kecil.

Normor tiga, kesempatan. Dalam setiap korupsi, pasti ada kesempatan besar bagi pelaku. Kesempatan muncul, ketika pelaku menilai, bahwa tidak ada (atau kurang) pengawasan. Sehingga pelaku leluasa korupsi.

Tiga faktor tersebut (Triangle) ditutup dengan: Rasionalisasi. Artinya, pelaku merasa, bahwa tindakan ia rasional. Tentu, dalam perspektif pelaku.

Di korupsi Bansos Corona, Kemensos, unsur nomor satu dan dua, tidak bisa diukur. Belum ada wawancara mendalam, mengapa eks menteri Juliari diduga korupsi. Apakah tertekan ataukah serakah? Belum diketahui.

Tapi, nomor tiga, kesempatan, bisa diketahui bahwa kurang pengawasan. Dalam semua kegiatan pembagian Bansos. Baik tingkat pusat maupun daerah. 

Penutup the Fraud Triangle Theory, rasionalisasi. 

Di situ peran KPK pada bagian pencegahan. Karena, tugas KPK ada dua: Pencegahan dan penindakan. Selama ini yang heboh, antara lain OTT, hanya fokus di penindakan. Termasuk diributkan oleh 75 pegawai KPK terpecat. Bahwa mereka jagonya OTT.

Sedangkan tugas "Pencegahan" tidak terpublikasi. Sehingga publik tidak tahu.

Bagaimana cara KPK mencegah pejabat korupsi? Pastinya KPK sendiri yang tahu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.