Penyuap Mengungkap


 Cara dapat proyek di Kemensos, ternyata harus nyogok. Itu diungkap saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (14/6/21). Dalam perkara korupsi, terdakwa eks Mensos Juliari Peter Batubara.

"Saya sudah beri Rp 250 juta, dengan harapan dapat proyek bansos. Ternyata nihil," kata saksi tersumpah, Irman Putra di sidang tersebut.

Uang itu, kata Irman, ia berikan (dan diterima) Matheus Joko Santoso, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos yang juga terdakwa kasus tersebut. Artinya, Irman menyogok orang yang tepat, pengambil keputusan. Bukan calo.

Matheus Joko menerima suap dari Irman, tergolong berani. Apalagi, kemudian ternyata penyogok tak dapat proyek. Sedanhkan, uang sudah diterima.

Sebab, saksi Irman menjabat Irwasus (Inspektur Pengawas Khusus) Babinkum TNI. Yang diperbantukan sebagai Ketua Pusat Koperasi Yustisia Adil Makmur. Juga komisaris PT Aditama Energi Kuntomo Jenawi. Irman bukan orang sembarangan.

Uang diterima Matheus Joko, tapi proyek tak diberikan.

Dijelaskan Irman, awalnya Koperasi Yustisia Adil Makmur mendapat kuota bansos tiga kali. Tahap 5,6, dan 7. Total dia mendapat 100 ribu kuota.

Setelah mendapat itu, Irman mengaku diminta Matheus Joko Santoso menyerahkan fee bansos. Tidak disebutkan besaran fee, yang sebenarnya pungli alias pungutan liar. 

Menurut Irman, ia diminta fee dengan iming-iming. jika dia menyerahkan uang, Kemensos akan memberi Koperasi Yustisia Adil Makmur kuota paket bansos. Seolah kemensos milik Matheus Joko Santoso.

Mengapa Irman memberi uang sogok? tanya jaksa. "Karena, koperasi dapat kerja (sebelumnya) akhirnya saya berikan Rp 250 juta. Penyerahan di Kemensos Cawang," kata Irman.

Setelah itu, lanjutnya, Joko menghilang. Irman terus mencari, Joko menghindar ketika ditanya masalah jatah kuota koperasi. "Saya datangi ke kantornya, ia menghindar," jelasnya.

Irman tak putus-asa. Terus mengejar Joko. Berkali-kali Joko didatangi kantornya.

"Setelah sebulan lebih, ia kembalikan Rp 100 juta," ucapnya. Berarti, masih 'nyangkut' Rp 150 juta.

Saksi lain, Kuntomo Jenawi, mengatakan dia memberikan uang SGD 8 ribu (sekitar Rp90 juta) ke Matheus Joko. Berbeda dengan Irman, Kunto mengaku tidak pernah diminta memberi fee oleh Joko. Ia sendiri yang berinisiatif, agar dapat proyek bansos.

Kuntomo: "Di BAP saya katakan, saya memberi uang ke Matheus Joko Santoso sebagai terima kasih senilai SGD 8 ribu.".

Kuntomo memberi, setelah ia mengerjakan 42.559 paket bansos dengan nilai kontrak Rp 12 miliar. Atas nama PT Darma Lantara.

"Saya hubungi Joko 'mas ada waktu? Saya mau ketemu sowan, saya thank you (saat menyerahkan uang). Saya tanya, gimana? Bisa dapat lagi nggak?" kata Kuntomo.

"Saya berharap dapat PO berikutnya, (kenyataannya) tidak, alasannya vendor terlalu banyak kuotanya terbatas," lanjutnya.

Irman dan Kuntomo berjasa terhadap peradilan, karena memberikan kesaksian. Tapi mereka bisa terjerat hukum.

Berdasar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU 20/2001) diatur sebagai berikut: 

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:

a) Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau

b) Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Tapi, kita tunggu proses sidang kasus ini. Apakah penyuap terjerat hukum atau tidak. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.