Menunggu Rem Darurat

 

Mayat-mayat hanyut di Sungai Gangga. 

Yang meluap di musim hujan, sekarang. 

Berbalut kain kumal warna safron. 

Berkejaran bagai kapal-kapalan.


Ilustrasi itu cocok untuk liputan The Straits Times terbaru. Tentang melonjaknya kematian akibat Corona di India. 

The Straits Times mengutip Reuters, Jumat (25/6/21) yang langsung diberi surat pejabat India, lengkap dengan foto-foto mayat hanyut itu. Ditulisnya begini:

"Pemerintah (India) punya informasi bahwa jenazah mereka yang meninggal karena Covid-19, atau penyakit lain, apa pun, dibuang ke Sungai Gangga. Bukannya dibuang sesuai ritual yang semestinya," tulis pejabat senior negara bagian, Manoj Kumar Singh, di surat, yang ditujukan kepada para bupati setempat, juga ditunjukkan ke Reauters, Jumat (25/6/21)

Dilanjut: "Akibatnya, mayat-mayat ditemukan dari Sungai Gangga di banyak tempat." Dalam tiga pekan terakhir, petugas memunguti sekitar 150 mayat membusuk, dari Gangga. Untuk dikremasi. Mayat sangat cepat membusuk di air.

Pembaca flashback, menyimak video upacara keagamaan India, Festival Khumb Mela, pada pertengahan Mei 2021. Ratusan ribu warga India, riang gembira, nyebur ke Sungai Gangga. Tak bisa dicegah, itu ritual agama.

Itu diduga pemicu ledakan kasus Corona di sana. 

Kini, bisa jadi, mereka yang mandi itu hanyut di sungai yang sama.

India 300 ribu kasus per hari. Bandingkan Indonesia per 30 Juni 2021 pukul 12.00 tercatat 21.807 kasus. Ini pun sudah rekor.

Presiden Jokowi menilai, kunci dari urusan ekonomi saat ini adalah penanganan COVID-19 yang baik. Karena itu, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat perlu diberlakukan demi menekan lonjakan jumlah kasus Corona.

"PPKM darurat, mau tidak mau kita harus lakukan, karena kondisi-kondisi tadi yang saya sampaikan," kata Jokowi saat membuka Munas Kadin di Kendari seperti disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (30/6/2021).

Jokowi mengatakan kenaikan kasus Corona selalu berpengaruh terhadap indeks kepercayaan konsumen. Ketika kasus Corona turun, indeks kepercayaan konsumen akan meningkat.

"Setelah kita lihat detail betul kenaikan kasus COVID ini selalu berpengaruh indeks kepercayaan konsumen, begitu pembatasan ketat dilakukan kemudian mobilitas turun kasusnya ikut turun, misalnya, itu indeks kepercayaan konsumen kita pasti akan naik tetapi begitu kasusnya naik, indeks kepercayaan konsumen pasti selalu turun," tutur Jokowi.

Kajian-kajian mengenai skema PPKM darurat telah dibahas. Untuk difinalisasi.

"Hari ini ada finalisasi kajian untuk kita melihat karena lonjakan sangat tinggi, dan kita harapkan selesai karena diketuai oleh Pak Airlangga Menko Ekonomi untuk memutuskan diberlakukannya PPKM darurat," kata Jokowi.

Jokowi belum bisa membeberkan detail mengenai PPKM darurat ini. Dia menyebut PPKM darurat ini bisa berlaku 1 atau 2 minggu.

"Nggak tahu nanti keputusannya apakah seminggu atau dua minggu," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan pemberlakuan PPKM darurat ini bertujuan menekan laju penularan Corona. Ada sejumlah kabupaten dan provinsi di Jawa dan Bali yang bakal menerapkan PPKM darurat.

"Petanya sudah kita ketahui semuanya, khusus hanya di Pulau Jawa dan Pulau Bali karena di sini ada 44 kabupaten/kota serta 6 provinsi yang nilai asesmennya 4, kita adakan penilaian secara detail yang ini harus ada treatment khusus sesuai yang ada di indikator laju penularan WHO," ujar Jokowi.

Usulan dari DPR, PPKM Darurat dianggap memang perlu. Untuk Jawa dan Bali. Ada beberapa usulan terkait aturan yang sedang dibahas. Antara lain:

"100% Work from Home untuk sektor non essential," demikian bunyi dokumen berjudul 'Intervensi Pemerintah Dalam Penanganan Covid19' Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Rabu (30/6/2021).

"Kegiatan pada pusat perbelanjaan atau mall atau pusat perdagangan, ditutup," demikian bunyi poin lainnya.

PPKM Darurat, beda dengan kebijakan-kebijakan terdahulu. Termasuk, beda dengan PPKM Mikro. PPKM Darurat adalah rem darurat.

Rem darurat, pastinya menimbulkan hentakan. Banyak komentar oleh banyak tokoh, bersliweran di berbagai bentuk media. Yang intinya, prediksi sangat banyak bisnis bakal bangkrut. Pengangguran di mana-mana.

Jokowi sebagai pemimpin Indonesia (tercatat sejarah) ditakdirkan jadi penarik rem darurat itu. Ia terjepit oleh ganasnya bencana non-alam, ini.

Prediksi ‘pengangguran di mana-mana’, bukan ramalan kaleng-kaleng. Punya dasar analisis kuat.

Mayat-mayat hanyut di Sungai Gangga, pun faktual. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.