Gila Terorisme


 Bukan teroris, melainkan orang gila. Pria inisial MI (34) penusuk polisi di Palembang, Jumat (4/6/21) sore. "Diduga sakit jiwa," kata Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan kepada pers, Sabtu (5/6/21). Kata ‘teroris’ dari pengakuan MI sendiri.

Peristiwa di Pos Polantas, Jalan Angkatan 66, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (4/6/21) pukul 14.45. Berjaga, Bripka Ridho dan Bripka Aprizonda.

Ada mobil mogok di tengah jalan. Ridho dan Aprizonda membantu dorong, meminggirkan. Lalu mereka pencar, Ridho kembali ke pos, Aprizonda beli minuman.

Di pos itulah kejadiannya. MI masuk, pos berpintu kaca. Tanya: “Rumah sakit Bunda, di mana ya, pak?” Ridho menjelaskan arah. MI manggut-manggut.

Mendadak, MI menyerang. Menusuk, menyerempet leher Ridho. Tusukan kedua kena punggung. Tusukan ketiga kena tangan, karena Ridho reflek melawan. Duel di ruang 2 X 2 meter itu.

Warga berdatangan ke pos. Di antaranya tiga Satpol PP, Alison, Wahyu, dan Afandi. yang kebetulan lewat. MI diringkus, Ridho berdarah-darah dilarikan ke RS.

MI ditahan di pos itu oleh Satpol PP, menunggu kedatangan polisi. Ternyata MI punya tiga pisau. Di situ MI diwawancarai wartawan, direkam video. Yang videonya beredar luas.

Mengapa kamu menusuk polisi? 

Untuk rebut pistol.

Pistol, buat apa?

Buat diberikan kepada teroris.

Jadi, kamu punya jaringan? Namanya apa?

Belum.

Jadi, mau membentuk jaringan teroris?

Ya, untuk amaliyah.

MI mengaku ke pewawancara, ia pernah ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, selama dua pekan. Kemudian dipindahkan ke Nusakambangan, dijalani tiga bulan.

Pengakuannya merujuk kerusuhan Mako Brimob, 8 Mei 2018. Ratusan napi teroris yang ditahan, berontak. Mereka menyandera Bripka Iwan Sarjana di dalam sel. Melalui proses negosiasi 36 jam, penyanderaan usai. Bripka Iwan selamat. Lantas, sekitar 350 napi teroris dipindah ke Nusakambangan.

Benarkah, MI salah satu dari mereka? Ternyata bohong. 

Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, mengatakan: “Kami periksa data di Densus 88, tidak ada nama dia.”

Sebaliknya, Polri melacak ke keluarga, ternyata MI pernah dirawat di RS jiwa. Tidak dijelaskan rinci soal ini. “Masih kami selidiki,” kata Ramadhan.

Dari kronologi itu, sangat mungkin MI memang gila. Tanpa interogasi keras (hanya lewat interview) tidak mungkin teroris mengaku teroris. Seperti halnya, orang gila tidak pernah mengaku gila.

Kalau begitu, mengapa orang gila pun mengidolakan teroris? Atau, mengaku sebagai teroris? Apakah dengan begitu ia merasa keren?

Orang gila, memang bisa mengaku apa saja. Terserah ia. Tapi, dari interview, jawabannya nyambung. Teroris, Mako Brimob, Nusakambangan, amaliyah. Menyerang polisi.

Peristiwa kecil itu bisa jadi renungan masyarakat, terutama polisi. Terorisme memang dibenci rakyat. Pasti. Tapi, diakui atau tidak, dalam hati sebagian masyarakat, memihak teroris.

Sulit dibuktikan. Umpama di-riset, pun juga bakal bias. Sangat kecil kemungkinan, responden penelitian mengaku, memihak teroris.

Seandainya dilakukan tes (mungkin mirip Tes Wawasan Kebangsaan di KPK) terhadap seluruh rakyat Indonesia, juga tetap sulit. Sebab, bisa heboh. Ricuh gak-karuan. Jangankan tes se-Indonesia, se-KPK saja sudah ribut bukan main.

Bom bunuhdiri di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/21) diduga, karena pelaku dendam pada polisi. Akarnya, dua orang teroris yang satu jaringan dengan pelaku, tewas ditembak Densus 88 pada Januari 2021.

Tiga hari pasca bom Makassar, Rabu (31/3/21) muncul wanita diduga teroris di Mabes Polri, tewas ditembak mati. Padahal, ternyata dia hanya membawa airsoft gun. Pada saat kejadian, tentu polisi harus berasumsi, bahwa pistol itu ancaman. Tidak mungkin, pistol diperiksa dulu.

Bisa disimpulkan, wanita berjilbab hitam itu memang niat bunuhdiri. Tidak bisa dikorek motifnya. Apakah dia pembela teroris, atau hanya iseng berbuat begitu.

Polri wajib bertindak tegas terhadap teroris. Tidak boleh tidak. Tapi tindakan terlalu tegas bisa kontra-produktif.

Bripka Ridho kini terbaring di RS Bhayangkara Palembang. Ia dijenguk Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, Sabtu (5/6/21) malam. Gubernur memuji keberanian Ridho, duel melawan siapa pun pengganggu keamanan.

Gubernur: "Kepada Bripka Ridho, saya akan beri penghargaan karena sudah berani bekerja sangat keras sampai bertaruh nyawa saat bertugas.”

Dilanjut: "Kepada masyarakat Sumsel agar meningkatkan kewaspadaan sehari-sehari. Terutama kepada seluruh aparat Kepolisian yang tengah bertugas. Sehingga kejadian serupa dialami Bripka Ridho tidak terulang lagi.”

Nah… polisi diminta Gubernur Sumsel, agar waspada. Supaya tidak muncul orang gila baru. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.