Gali Lubang Tutup Pinjol


 Hari gini, utang Rp 1 juta enaknya ke mana? Ya… Pinjol. Tapi, mengapa banyak yang sengsara akibat Pinjol? Jawabnya, tergantung kasus. Diurai pejabat Kemenkominfo, Teguh Arifiadi, karena masyarakat tidak teliti.

"Cuma kurang dari 1 persen pengutang Pinjol yang membaca syarat dan ketentuan,” kata Teguh di webinar “Mencari Solusi Penanganan Pinjaman Online Ilegal”, Senin (21/6/21).

Lebih dari 99 persen pengutang, tidak baca syarat dan ketentuan. Mungkin, saking emosi butuh duit, langsung tanda-tangan perjanjian utang.

Di situ masalah. Walaupun, sangat banyak penyebab lain. Misal: Utang Pinjol untuk kebutuhan konsumtif. Atau memang tidak punya kemampuan bayar. Atau sangat banyak penyebab. Tergantung kasusnya.

Teguh adalah Plt Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ia memantau Pinjol (pinjaman online) dari sisi online. Sedangkan izin operasi Pinjol di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di tengah kemiskinan rakyat sekarang, Pinjol sudah kayak saudara sendiri. Malah, bisa lebih baik daripada saudara.

Orang kepepet butuh uang (sampai Rp 5 juta), tinggal menghubungi Pinjol. Kirim foto kopi KTP via WA. Di hari itu juga utangan cair. Bahkah ada yang cuma satu-dua jam, utangan ditransfer. Yang, itu tidak mungkin dilakukan bank.

Sehingga, ribuan perusahaan Pinjol muncul. Ribuan pula, Pinjol illegal atau abal-abal. 

Berdasar data OJK per 24 Mei 2021 ada 131 perusahaan Pinjol terpantau. Rinciannya, 57 punya izin, 74 terdaftar yang masih diteliti, dalam proses punya izin. Di luar itu, illegal, yang jumlahnya bisa ribuan.

Teguh: "Di tahun 2021 saja, hingga 18 Juni 2021, tercatat 441 Pinjol illegal sudah kami blokir.” Itu yang terpantau. Dan diketahui illegal (tak terdaftar di OJK). Belum lagi yang tak terpantau. Belum termasuk tahun sebelumnya.

Pemblokiran dilakukan Direktorat Jenderal Aptika, Kominfo.

"Kami juga tidak bisa cepat memblokir. Sebab, banyak Pinjol tak mendaftarkan PSE (Pendaftaran Sistem Elektronik) Kominfo. Juga, banyak berbasis website, yang kalau diblokir, lalu berganti nama, kemudian  praktek lagi," kata Teguh. 

Ribuan, mungkin ratusan Pinjol tak terdaftar inilah, penjerat masyarakat yang utang. Kasusnya beragam. Melibatkan debt collector. Ancaman menakutkan. Guru TK wanita di Malang nyaris bunuhdiri, karena diteror.

Pinjol bermunculan, karena bisnis ini gurih. Pinjol resmi, bunga utang antara 0,05 persen sampai 0,8 persen (per hari). Artinya, per bulan antara 1,5 persen sampai 24 persen. Bunga bank lazim per tahun. Kalau per tahun, bunga Pinjol antara 18 persen sampai 288 persen.

Variasi bunga tergantung jenis dan besaran pinjaman. Ada yang pakai agunan, ada yang tidak. Jumlah pinjaman semakin besar, bunga semakin tinggi.

Mana ada, bisnis yang laba ratusan persen per tahun? Kecuali bisnis illegal. Sedangkan Pinjol, yang terdaftar, legal.

Pinjol illegal, bunganya terserah mereka. Macam-macam. Antara 1 sampai 2 persen per hari. Atau 354 persen sampai 708 persen per tahun. Bunga sangat tinggi, risiko utang macet sangat tinggi pula. Termasuk membayar jasa debt collector. Yang punya berbagai strategi tagih utang.

Sebenarnya, ini bisnis jasa keuangan biasa. Mirip rentenir zaman dulu. Bisa dianggap mencekik leher (pengutang), bisa juga dianggap menolong. Tergantung sudut pandang.

Bagi yang kepepet butuh duit, tidak ada yang bisa dimintai tolong, Pinjol-lah penolong. Bahwa pengembalian utang sulit, karena mempersoalkan bunga yang tinggi, bukankah sebelum akad si pengutang sudah tahu dan setuju?

Guru TK di Malang yang nyaris bunuhdiri, sebulan lalu itu, utang Rp 4 juta. Dari lima aplikasi Pinjol. Sebagian Pinjol bodong, sebagian legal. Sebab, masing-masing Pinjol memberi limit utang antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Dengan tenor (batas waktu pengembalian) satu sampai dua pekan.

"Saya guru TK, sudah 12 tahun. Gaji Rp 400 ribu (per bulan). Pada tahun kemarin (2020), dituntut guru harus S1, sedangkan saya masih D2. Nah, biaya kuliah per semester itu Rp 2,5 juta,” tuturnya kepada wartawan, Selasa (18/5/21).

Dia diberitahu teman, bisa utang ke Pinjol. Gampang, kok. Tinggal kirim kopi KTP. “Tergiur gampang itu, saya utang. Langsung ke lima Pinjol, karena batas utangan beragam,” katanya. Total utang Rp 4 juta.

Bunga masing-masing Pinjol tidak sama. Intinya, pengutang terbelit bunga, yang puluhan persen per bulan itu. Telat bayar, dia dikeroyok terror debt collector. Dari berbagai Pinjol.

Utangnya gampang. Bayarnya sulit. Mbendol mburi (terbelit kemudian). Utang Pinjol jadi mbendol.

Buat menutupi pusing, dia utang di Pinjol lain. Gali lubang lagi. Untuk menutup lubang di Pinjol sebelumnya. Makin lama makin terbelit. Setelah tergulung bunga dan teror, dia depresi nyaris bunuhdiri. 

Untung, kasus itu terselesaikan oleh bantuan beberapa orang. Karena, diberitakan media massa. Sehingga orang tahu, dan membantu.

Sangat banyak kasus lain. Tak terekspos media. Dengan variasi problem yang beragam. Pinjol illegal, umumnya curang, dan menggunakan cara kekerasan saat menagih.

Dari kasus Bu Guru TK itu kelihatan, sebenarnya dia tidak dalam kapasitas mampu bayar. Tenor satu-dua pekan. Tapi dia paksakan. Karena, Pinjol dia anggap lebih dekat daripada saudara. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.