Film Nussa, Tertuding Taliban

 

“Lebih Taliban mana: Pakaian tokoh film animasi Nussa-Rara atau Omar-Hana?” tanyaku padamu, wahai Pembacaku. Karena, pemedsos Eko Kuntadhi via Twitter, Minggu (20/6/21) menyatakan, pakaian Nussa, khas Taliban: Bomber Indonesia. (ngeri… Brow-Sist)

Bunyi Twitt-nya: "Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan. Tapi film Nussa Rara mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Promosi yang merusak!" tulis Eko Kuntadhi di Twitter, Minggu (20/6/2021).

Dilanjut: "Pakaian anak lelaki lebih sering jadi model pakaian bomber. Ketimbang pakaian anak-anak Indonesia," imbuhnya.

Eko tidak sendiri. Sebelumnya, ada pemedsos Ferdinand Hutahean dan Denny Siregar. Yang pada Februari - Maret 2021 juga mengkritik film Nussa-Rara sebagai Taliban.

Denny Siregar malah menyatakan, film itu arahan Felix Siauw, pendukung organisasi terlarang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Sebagai semai bibit Taliban kepada Balita dan anak-anak RI.

Dasarnya, Felix Siauw menyesal ketika film serial Nussa berhenti produksi, juga berhenti tayang di Youtube sejak 1 Januari 2021. Melalui Instagram Felix, Rabu (06/01/21) menulis begini:

April 2020, produser film itu menyampaikan ke Felix: Pandemi Corona membuat produser kesulitan dana (pandemi di Indonesia, resmi 1 Maret 2020). Di April itu produser mem-PHK 70 persen karyawan. Juga pindah kantor yang lebih murah.

Tulis Felix: "Saya sampaikan, buat sabar. Kita cari jalan bareng, kerja bareng, adjusment ini dan itu, Alhamdulillah Agustus (2021) bisa mulai season 3 Nussa."

Cuitan tersebut membuat Denny Siregar tegas: Film itu arahan Felix Siauw. 

Sebaliknya, Sutradara film Nussa, Angga Dwimas Sasongko membantahnya. Bukan Felix pembuat film itu. Bahwa, Felix berteman dengan para pembuat film, bukan berarti Felix pembuat filmnya.

Film Nussa-Rara diproduksi The Little Giantz dan 4Stripe Productions. Tayang di YouTube sejak 1 November 2018. Berhenti 1 Januari 2021.

Muncul-lah film serupa. Omar & Hana produksi Digital Durian, Malaysia. Tayang YouTube, Google Play dan Apple Store mulai 15 Juli 2020. Sangat mirip Nussa-Rara. Berbahasa campuran Malaysia - Inggris.

Pakaian pemain (ini disoal Eko Kuntadhi) pada Nussa-Rara dengan Omar & Hana, mirip. Nussa pakai peci putih bentuk kerpus bayi. Omar pakai topi milenial biru. Sedangkan, Rara pakai jilbab ungu. Hana rambut poni, pita krem.

Nah… soal pakaian, lebih Taliban mana? Anda tahu jawabnya.

Tapi, soal pakaian sebenarnya tidak penting-penting amat. Isi ceritanya lebih penting. Menyoal pakaian, berarti meributkan kulit (katimbang isi).

Isi Nussa - Rara, baik. Isi Omar & Hana, juga baik. Sama-sama pendidikan Islam tentang adab dan akhlak. Tentang puasa, muhrim, hormat cintai orang tua. Semuanya baik.

Saking baiknya Nussa - Rara, dunia rasa surga. Tidak ada tokoh antagonis. Semua baik hatinya, sopan, tidak sombong, keren, rajin menabung, tidak ngethutan.

Dulu, Indonesia selalu punya cerita anak yang lebih greget dibanding Nussa. Lebih problematik, humor, konflik, suspensif. Alhasil, inspiring.

3 Agustus 1961, terbit di Surabaya, komik Taman Firdaus karya KT Ahmar. Tokohnya: Saleh berpeci dan Karma polos. (Pembaca komik ini, oalah… ketahuan bahwa kamu ketuaan).

Kisahnya runut. Perjalanan para tokoh, dari lahir sampai meninggal. Saleh anak orang miskin. Baik hatinya, rajin, tidak sombong, sopan, dan… seperti yang di atas. Sedangkan, Karma anak orang kaya, berperangai sebaliknya (dari Saleh).

Penulisnya merajut hidup Saleh dan Karma dalam panel (gambar komik) berdampingan. Panel 1 Saleh. Panel 2 Karma. Misal, Jumat. Di panel 1, Saleh salat Jumat di masjid. Panel 2, Karma berenang di kolam renang.

Begitu seterusnya. Problematik, konflik, kontradiktif. Sampai mereka mati. Sakaratul maut. Saleh dicabut nyawa dengan enteng, halus, lancar.

Karma, menjerit histeris, sakit tak terhingga. Adegan ini mirip film Ghost (Amerika, 1990, sutradara Jerry Zucker, penulis Bruce Joel Rubin).

5 April 1981, TVRI meluncurkan film serial Si Unyil, karya Drs Suyadi (alm) produksi PPFN. Selalu dibuka: "Hom-pim-pah, alaihum gambreng…" Khas Indonesia.

Banyak tokoh, banyak karakter. Mulai Unyil sampai Meilani dan adiknya Bunbun, yang keturunan Tionghoa, begitu membaur.

Pakaian Unyil: kopiah hitam, miring, rambut menyembul (tanda, bukan kopiah siap salat). Sarung menyelempang di pundak. Khas Betawi (Surabaya, juga).

Ratusan seri, ratusan tema. Sedih, gembira, lucu, marah, konflik, baikan lagi.

“Cepek dulu, dong…” ujar Pak Ogah, setiap ketemu orang (boneka). Pak Ogah, doyan jajan tapi ogah kerja. Pun, ngethutan (asli… di suatu episode). 

Pak Ogah, relevan sampai kini. Di Jakarta: Selalu ada Pak Ogah di simpang jalan.

7 Juni 2000 diluncurkan film Petualangan Sherina. Sutradara Riri Riza, produser Mira Lesmana. Film anak, komedi musikal, pastinya lucu, sedih-gembira, sarat konflik, suspensif, and… inspiring.

Sherina pindah dari Jakarta ke Bandung. Syedih amat. Sekolah di Bandung, ketemu Sadam yang sok macho. Syebel banget.

Dari situ kisah dirajut. Khas anak-anak. Dengan segala ego. Sampai ke laboratorium astronomi Boscha. 

Di Boscha, cerita diisi: Pengetahuan tentang langit. Sebagaimana China, bolak-balik meluncurkan satelit aneka fungsi. Antara lain, 1.000 taksi tanpa sopir berbasis satelit di Shanghai. Terbaru, pekan lalu, satelit Shenzhou 12 sukses luncur. Berawak tiga astronot: Nie Haisheng, Liu Boming, dan Tang Hongbo. Dunia melongo, dibuatnya.

Jangan salah… Petualangan Sherina, juara pertama Asia Pacific Film Festival 2000. Pun, di Indonesia memborong 6 kategori nominasi Piala Citra 2004. Kita bangga punya film juara internasional.

Semua itu masa lalu. Dulu. Dari masa ke masa. Dengan interval, dua puluh tahun-an. Kini, adanya ya… film anak yang disoal Eko Kuntadhi itu. Film ‘baik-baik saja’. Semuanya. Dan selamanya. Utopis.

Barangkali, di saat rerata masyarakat kita miskin sekarang, perlu sajian utopia. 

Oh… fatamorgana. Biarkan daku. Makan lauk krupuk (tok) ya… gakpapa. Asal, baik-baik saja. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.