Dipecat atau Disingkirkan?

 

“Dipecat dari pekerjaan”, pedih. Sakitnya itu di sini… (dada). Kalau di Giant Hypermart (diumumkan ditutup Juli 2021) agak mending. Karena tokonya sepi. Tapi, 75 pegawai KPK yang tidak lulus TWK, sakitnya naik ke jidat. 

Karena, di jidat 75 orang KPK itu seolah tertera: “Kurang wawasan kebangsaan”. Yang, seumpama suatu saat mereka melamar kerja di lembaga ‘berkebangsaan’, pastinya tertolak.

Itu kelak. Jika, seumpama mereka melamar kerja. Sedangkan sekarang, bagi pria berkeluarga, isteri mereka bertanya-tanya: “Kurang Indonesia kah?” Bagaimana pula, dengan pergaulan anak-anak mereka di sekolah?

Menyimak ‘kesakitan’ 75 orang itu, umumnya orang bersimpati. Membela. Antara lain, media massa. Ada yang menggunakan diksi ‘dipecat’ (istilah asli). Ada pula ‘disingkirkan’ (membela).

Membela orang tidak lulus TWK, bisa dikonotasikan ‘kurang berkebangsaan’ juga. Burung sejenis terbang bersama. 

Padahal, pers se-dunia, pasti membela bangsa mereka masing-masing. Pers pasti berpihak. Salah-kaprah: Disebut netral, alias nol. Kalau nol, artinya plonga-plongo (tolah-toleh, kiri-kanan).

Terus… apakah masyarakat dilarang membela orang kesakitan? Membiarkan mereka, ke sana (Komnas HAM), ke mari (Ombudsman), sampai minta tolong Presiden Jokowi. Kan, kasihan?

Sebenarnya, ini peristiwa kecil biasa. Dipecat, apa pun alasannya, apa pun istilahnya, dialami hampir semua orang. “Kalau senang jangan terbahak-bahak, kalau sedih jangan termewek-mewek,” nasihat orang Jawa. Senang dan sedih, silih-berganti.

Beberapa dari 75 orang KPK itu diwawancarai wartawan, Rabu (2/5/21). Antara lain, ini:

"Iya, memang sedih. Jadi bingung, mau ngapain karena kan SK 652 itu bilang, kami harus serahkan tugas dan tanggung jawab ke atasan," kata Tri Artining Putri, eks Spesialis Muda di Biro Humas KPK.

Dia mengungkap, diantara 75 pegawai KPK tak lulus TWK itu ada yang tetap ngantor, ada pula yang tidak. Sedangkan, Tri kini mengaku, sibuk menyiapkan materi laporan ke beberapa lembaga untuk minta bantuan.

"Sekarang, ya…. advokasi-advokasi kerjanya. Kemarin itu lapor Komnas HAM, lantas dilanjut ke Ombudsman," ujarnya.

Lain lagi, Faisal. Ia eks pegawai KPK tak lulus TWK. Ia masih ngantor pada Rabu (2/6/21) atau pasca pelantikan 1.271 pegawai KPK yang lulus TWK.

Terus, apa yang dilakukan Faisal di kantor? "Di kantor, saya lihat e-mail, baca-baca e-mail, kemudian diskusi dengan teman-teman, baik yang PNS maupun bukan. Terus, kalau ada yang harus dikerjakan, diminta atasan langsung, biasanya membuat rilis kegiatan KPK," kata Faisal kepada pers, Rabu (2/6/2021).

Faisal mengakui, ia masih menerima gaji di akhir Mei 2021 kemarin. Bahkan, sudah diumumkan, gajinya sampai Oktober 2021. 

"Saya sedih, karena dapat gaji, tapi pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan distop. Gaji itu, kan uang rakyat, ya. Mestinya saya tetap harus bekerja sesuai dengan apa yang saya kerjakan sebelumnya," ungkapnya. 

Faisal mengatakan, ia bukan sedih akibat kehilangan pekerjaan. Bukan begitu. “Tapi, sedih makan gaji buta uang dari rakyat,” kilahnya. Padahal, kalau benar itu pangkal sedih, solusinya gampang.

Kesedihan orang dipecat, digambarkan detil oleh Janet Brito Ph D, psikolog klinis lulusan University of Minnesota, Amerika. Publikasi di Helathline (23 Juni 2020).

Di situ dia mengutip buku “On Death and Dying” (terbitan Scribner, 1997) karya Prof Dr Elizabeth Kubler-Ross. Salah satu buku terlaris. Isinya tentang orang yang mengetahui, bahwa sebentar lagi akan mati.

Miss Brito melakukan komparasi sekaligus afiliasi, antara orang yang dipecat, dengan orang tahu, bahwa dirinya segera mati. Ada kemiripan, kata Brito. Karena dipecat, masih ada tenggang, sampai benar-benar berhenti total.

Contoh: 75 karyawan KPK yang tidak lulus TWK, masih bekerja (dan terima gaji) sampai akhir Oktober 2021.

Pastinya sedih. Di “On Death and Dying” ada lima tahapan psikologis bagi orang yang mengalami itu. Berikut ini:

1.Kejutan dan penolakan. Bisa kita saksikan bersama, terjadi pada semua orang yang baru saja (beberapa menit) dipecat. “Masak, saya tidak berkualitas? Ah… bohong…”

2.Marah. Kelanjutan dari terkejut dan menolak. Marah terhadap, terutama, orang yang memecat. Atau semua orang yang tidak membela dirinya. Atau, bahkan kepada siapa saja, termasuk anggota keluarga.

3.Tawar-menawar. Mencoba negosiasi. Atau melawan. Dengan berbagai cara. Mencari bantuan ke mana saja, yang dianggap memungkinkan.

4.Depresi. Sampai di sini, tensi perlawanan sudah menurun. Drastis. Bahkan berbalik, memukul batinnya. Menghasilkan stress, lantas meningkat jadi depresi. 

5.Move on. Sudah enteng. Sudah bisa menerima keadaan. Karena, semua manusia diberi Allah fleksibilitas. Ada yang menyadari itu, ada yang tidak. Ada yang mengakui pemberian Allah itu dan bersyukur, ada pula yang tetap mendongkol, walau sudah move on.

Dari lima tahapan itu: Obat sedih, antara lain, waktu. Semua yang dimulai, pasti akan berakhir. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.