Corona Ngamuk Lagi


 Corona ngamuk lagi. Jakarta, Surabaya, Bandung, kota-kota lain, jumlah pasien meledak. Tren kenaikan dimulai pasca Lebaran lalu. Mudik, ternyata tak terbendung. Kini kita tanggung akibatnya.

Di Jakarta, Humas RS Wisma Atlet Kemayoran, Kolonel Marinir Aris Mudian, dalam keterangan pers, Kamis (10/6/21) menyatakan:

"Tren ini sesuai prediksi, habis Lebaran dua minggu, tiga minggu, bahkan empat minggu setelah Lebaran, ada kemungkinan untuk naik," tulisnya. “Ternyata terbukti.”

Sabtu (12/6/21) pukul 08.00 di Wisma Atlet terisi 4.507 pasien. Dari 5.994 tempat tidur tersedia. Artinya, tingkat keterisian lebih dari 75 persen.

Sedangkan, badan kesehatan dunia WHO memberikan pedoman batas aman, maksimal 60 persen. Lewat dari itu sudah masuk kondisi gawat.

Sementara, arus pasien masuk Wisma Atlet rata-rata per hari 450 orang.

Mengamati angka-angka itu, sungguh mengerikan. Seumpama pengurus Wisma Atlet diam, maka RS rujukan utama pasien Corona itu penuh (stagnan) maksimal tiga hari, sampai Selasa (15/6/21) atau dua hari lagi.

Jadi, pengurus di situ kini belingsatan. Bukan saja karena sebentar lagi semua bed akan terisi penuh. Melainkan juga tenaga medis yang bakal kewalahan. Terlalu sibuk. Kalau mereka ambruk, bakal fatal.

Maka, dilakukan cara ini: Pesan bed kemana-mana. Bukan sembarang bed, tapi bed khusus standar RS.

Komandan Lapangan RS Wisma Atlet, Letkol Laut M Arifin mengatakan kepada pers, Sabtu (12/6/21) pihaknya sudah pesan 2.000 bed. Yang segera datang bertahap, Minggu dan Senin ini.

Bed bertambah, jumlah kamar tetap. “Kami akan atur. Bed baru datang, akan dimasukkan ke ruang rawat yang sudah ada,” katanya. Dimampatkan.

Selama ini, dua bed per kamar. Mulai Minggu hari ini dan Senin besok, tiap kamar akan dijejali tiga bed.

Dengan begitu, kapasitas Wisma Atlet akan naik jadi 7.994 bed. Atau naik sekitar 30 persen.

Itu pun hanya menunda kepenuhan empat hari. Artinya, jika jumlah bed tidak ditambah 2.000, RS bakal penuh pada Selasa (15/6/21). setelah ditambah bed, jadi bakal penuh Sabtu (19/6/21). Dengan jumlah penambahan pasien rerata 450 orang per hari.

Itu belum dihitung, dengan penambahan 2.000 bed, mau tidak mau, harus ada penambahan jumlah tenaga medis, minimal sekitar 30 persen dibanding sekarang. 

Langkah antisipasi sudah disiapkan. Dalam kondisi darurat, tenaga medis dari TNI akan diperbantukan. Ditambah, mendatangkan dari kota-kota lain.

Pengelola RS Wisma Atlet berencana menggunakan tower 8 dan tower 9 di Wisma Pademangan. 

Selama beberapa hari terakhir, dua tower itu penuh diisi karantina ratusan TKI yang dipulangkan dari Malaysia. Mereka wajib dikarantina, karena dikhawatirkan pembawa Corona dari Malaysia yang kini lockdown akibat kasus Corona meledak.

“Para TKI yang sekarang di sana, bakal dipindahkan, karantina di hotel,” kata Arifin. “Karena lebih urgent pasien, dibanding mereka yang dikarantina.”

Di Surabaya, RS darurat Covid-19 Lapangan Indrapura, malah lebih parah dibanding Wisma Atlet Jakarta. Kapasitas Indrapura 400 pasien. Sabtu (12/6/21) pagi terisi 324 pasien. Atau, tingkat terisi lebih dari 80 persen. Jauh melebih standar WHO yang maksimal gawat 60 persen.

Data itu diungkapkan Penanggungjawab RS Lapangan Indrapura (RSLI), dr I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara kepada pers, Sabtu (12/6/21). Ia mengatakan, gelombang kiriman pasien dari Madura, juga hasil penyekatan di Suramadu, mengalir deras.

Data rincinya ini: "Dari 324 pasien, terdiri pasien Pekerja Migran Indonesia (PMI) 80 orang, pasien klaster pondok 14 orang, pasien dari klaster Madura 145 orang dan pasien umum 85 orang," kata Nalendra.

Parahnya, dari 145 pasien klaster Madura, sebanyak 137 di antaranya nilai CT Value di bawah 25. “Angka itu menunjukkan, virus yang menginfeksi mereka, sangat menular,” tegasnya.

"Jadi, dapat dikatakan 92 persen pasien berada pada kondisi yang sangat infeksius dan berpotensi menular," katanya.

Itu mengerikan, bagi masyarakat umum, misalnya keluarga pasien yang menunggui. Bahkan tenaga medis pun ekstra hati-hati menangani mereka.

Nalendra menyebut, jumlah pasien yang akan masuk ke RSLI akan terus bertambah. Sabtu (12/6/21) pagi itu, serombongan pasien sudah dalam daftar tunggu.

"Untuk itu pihak RSLI sudah mempersiapkan diri. Dalam waktu dekat akan diupayakan penambahan dokter dan perawat yang kemungkinan besar dari TNI karena urgent dan mendesak," kata dia.

"Juga akan segera diupayakan penambahan bed untuk mengantisipasi bertambahnya pasien secara signifikan," tambahnya. Artinya, bakal ada pemampatan ruang rawat. Seperti di Wisma Atlet.

Di Bandung, juga sama. Di RSUD Al Ihsan Baleendah, dari kapasitas bed 151, sampai Sabtu (12/6/21) pagi terisi 100. Atau 66 persen tingkat terisi.

Dirut RSUD Al Ihsan Basalama, Gator mengatakan, "Kondisi sekarang, saya katakan mengerikan,” katanya di YouTube Humas Jabar, Sabtu (12/6/21).

Menurut Basalama, kebanyakan pasien tiba di RSUD sudah kondisi parah. Ada yang langsung meninggal di IGD, begitu pasien tiba. Itu menandakan, selama inkubasi pasien menahan diri di rumah. Ketika sudah parah, baru-lah dilarikan ke RS. Tentunya telat.

“Tahu-tahu, pasien masuk sudah dalam kondisi yang berat sekali. Sebagian meninggal di IGD," kata dia.

Beberapa pasien di IGD, tidak bisa langsung dilayani semuanya, langsung. Dokter melakukan screening dulu, untuk mengevaluasi kondisi pasien.

"Dari screening, kita lihat apakah pasien itu bisa isoman (isolasi mandiri) ataukah memang harus dirawat. Jadi, kita lihat tingkat keparahannya," tuturnya. Ini karena, jumlah bed di sana terbatas. Supaya tidak cepat penuh.

Di kota-kota lain, juga kurang-lebih mirip. Jumlah pasien berkejaran dengan jumlah orang tervaksin. Semoga Anda bisa menjaga kesehatan. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.