Bansos, Kok Diborong Keluarga Lurah

 


“Penerima Bansos, banyak keluarga lurah,” kata Mensos Tri Rismaharini di webinar BPK, Selasa (15/6/21). Parah. Apakah itu korupsi? Seperti ‘fee’ Bansos di Mensos terdahulu? Ataukah, lurah ketularan menteri?

Yang jelas, Mensos Risma kini memikirkan cara. Agar Bansos diterima yang berhak: Warga miskin. Atau, dalam bahasa pemerintah dihaluskan jadi Program Keluarga Harapan (PKH).

Risma tahu itu, dari banyaknya komplain warga, tidak kebagian Bansos. Karena keluarga dan kerabat lurah atau kepala desa, diberi duluan. Data penerima Bansos memang di pemerintah daerah.

Risma kini minta pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Progresnya sudah 90 persen.

"Nanti, akan kami buka, siapa saja penerima bantuan. Mulai dari desa, kelurahan, RT, RW itu akan bisa dipantau oleh siapa saja," katanya.

Jadi, dari tingkat menteri (terdakwa eks Mensos Juliari Peter Batubara, dan staf) sampai tingkat Ketua RT - RW, curang. Di tingkat menteri bernilai puluhan miliar. Di tingkat bawah senilai Bansos, paket sembako Rp 300 ribu.

Mengapa, masyarakat kita kelihatan begitu serakah? Apakah korupsi itu menular? “Menteri yang kaya saja begitu. Nah, ngapain gue jujur?”

Seolah, kecurangan butuh keadilan. Satu orang curang, maka orang lain berpikir: Supaya adil, saya ikut curang juga.

Prof Dan Ariely, dalam bukunya The (Honest) Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone–Especially Ourselves (2017) menyatakan, perilaku curang (termasuk korupsi), bagai penyakit menular. Atau gampang menular.

Di situ, Prof Ariely tidak hanya mengeksplorasi asal-muasal curang, tetapi juga menggali: Situasi bagaimana yang membuat kita lebih mungkin berbuat curang.

Ariely (53) adalah profesor psikologi, bidang perilaku ekonomi. Ia mengajar di Duke University, North Carolina, Amerika.

"Kita semua suka menganggap diri kita jujur. Tapi, pasti ada situasi tertentu di mana kita lebih cenderung curang," tulisnya.

Ada beberapa hal yang disebut 'situasi tertentu'. Antara lain, ketika seseorang merasa terputus dari tanggung-jawab. Artinya, seumpama ia melakukan kecurangan, maka kecil kemungkinan bakal ketahuan publik. Sehingga ia merasa terputus dari konsekuensi tanggung-jawab. Merasa terbebas hukuman.

Kedua, meniru. Contohnya tersebut di atas. Menterinya curang, maka aparatur di bawahnya, secara berntet sampai tingkat Ketua RT, ikutan curang. Atau ketularan.

Ketiga, ketika seseorang merasa putus harapan. Ia sangat berpotensi berbuat curang.

Riset Ariely terhadap temannya yang pernah bekerja di Enron Corporation. Perusahaan energi, komoditas dan jasa di Houston, Texas. Temannya itu korup, karena sebagian besar karyawan di situ juga korup. Korupsi menular.

Ilustrasi, Enron Corporation didirikan Kenneth Lay, 1985 hasil penggabungan antara Lay's Houston Natural Gas dan InterNorth, keduanya perusahaan yang relatif kecil. 

Enron tumbuh pesat. Merambah bidang listrik, gas alam, komunikasi, pulp dan kertas. Main business: Energi. Pada 2000 pendapatan usaha (dicatat Fortune) USD 101 miliar. Jumlah karyawan 29.000 orang.

3 Desember 2001 Enron pailit. Terungkap, bahwa keuangan Enron ditopang oleh penipuan akuntansi yang dilembagakan, sistemik, dan direncanakan secara kreatif. Di dalam perusahaan itu juga terjadi korupsi besar-besaran. Sehingga bangkrut.

Itu dikenal sebagai Skandal Enron.

Intinya, manajemen curang (dengan penipuan akuntansi). Maka, banyak karyawan ikutan curang (korupsi).

Di Amerika itu disebut Bad Apple. Artinya, seseorang berperilaku buruk, membawa pengaruh buruk terhadap orang lain. Kurang lebih, mirip dengan kecurangan-kecurangan Bansos.

Itu sebabnya, perilaku curang di suatu organisasi (lembaga negara atau perusahaan) biasanya tidak ditolerir. Ditumpas. Supaya tidak menular. 

Pemaparan ini (teori Eriely) seolah memberi ceruk maaf, bagi koruptor peniru. Atau memberi beban lebih kepada pelaku curang yang jadi panutan. Padahal, sejatinya sama saja. Antara panutan dan peniru, sama-sama berbuat jahat.

Dalam kasus Bansos, siapa panutan? Apakah terdakwa Juliari, atau para Lurah? 

Ataukah, memang sudah terkenal, bahwa masyarakat kelas bawah selalu begitu bersemangat berebut bantuan. Sampai-sampai, mesti ada yang terinjak-injak ketika ada orang membagikan sembako?

Kalau dibolak-balik begitu, bagai debat kusir soal, lebih dulu mana telur dengan ayam? Yang tentunya, mempersulit solusi.

Betapa pun, aparat penyidik pasti paham solusinya. Kecuali, mereka sendiri juga berbuat curang. Akibat ketularan penjahat lain. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.